JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan (Kodiklat) TNI baru-baru ini mengadakan rapat evaluasi mengenai Latihan Gabungan Bersama Super Garuda Shield (Latgabma SGS) 2024. Dalam rapat tersebut, satu hal yang menjadi sorotan adalah modernisasi alutsista tempur yang dilakukan oleh Korps Marinir Amerika Serikat (USMC). Hal ini dianggap penting sebagai referensi bagi pengembangan Korps Marinir TNI Angkatan Laut. Wakil Komandan Kodiklat TNI Marsekal Muda TNI Widyargo Ikoputra memimpin rapat evaluasi ini, di mana para peserta juga mengikuti kegiatan secara *virtual*. Ia mencatat bahwa modernisasi alutsista tempur yang diterapkan oleh USMC sangat relevan untuk pengembangan doktrin operasi pendaratan amfibi di Indonesia. Menurutnya, penggunaan sarana angkut helikopter dalam operasi tersebut merupakan langkah yang signifikan untuk meningkatkan kemampuan alutsista di masa mendatang. "Modernisasi alutsista tempur di USMC dapat menjadi referensi yang baik bagi Korps Marinir. Penggunaan sarana angkut helikopter dalam pendaratan amfibi sebagai peningkatan alutsista di masa yang akan datang," ungkap Marsda Ikoputra saat rapat evaluasi, dilansir dari siaran resmi Penerangan Pasukan Marinir (Pasmar) 2 Korps Marinir TNI AL. Selama pelaksanaan Latgabma SGS 2024, Korps Marinir Amerika Serikat turut mengerahkan dua jenis alutsista udara, yaitu Helikopter V-22 Osprey dan CH-47 Chinook, dalam latihan operasi pendaratan amfibi yang berlangsung di Pantai Banongan, Situbondo, Jawa Timur, pada 5 September. Dalam latihan tersebut, Marinir AS menerapkan taktik baru yang mencakup sterilisasi wilayah pantai dari udara, tidak seperti umumnya yang mengandalkan tank pendaratan amfibi dari laut. Meskipun tank-tank pendaratan tetap digunakan dalam latihan tersebut, mereka baru masuk ke wilayah pesisir setelah proses sterilisasi yang dilakukan oleh V-22 Osprey dan CH-47 Chinook selesai. Inovasi ini menunjukkan adanya kemajuan dalam strategi operasi amfibi. Lebih lanjut, dalam rapat evaluasi itu, Ikoputra juga mengungkapkan pentingnya pertimbangan penggunaan rudal balistik dalam operasi amfibi. Ia menilai bahwa pendekatan ini bisa menjadi inspirasi baru dalam pengembangan doktrin TNI. Oleh karena itu, dia berharap agar Latgabma Super Garuda Shield bisa dilanjutkan di masa mendatang. Menurutnya, latihan militer bersama dengan negara-negara maju adalah peluang baik untuk berbagi pengetahuan mengenai taktik dan teknologi persenjataan, sekaligus menciptakan ruang diplomasi antar angkatan bersenjata. Rapat ini dihadiri oleh peserta Latgabma SGS 2024, termasuk Komandan Batalyon Infanteri 5 Marinir Letkol Marinir Ahmad Fauzi, yang pasukannya terlibat langsung dalam latihan pendaratan amfibi tahun ini. Selama pelaksanaan Latgabma SGS 2024, yang berlangsung dari 26 Agustus hingga 6 September, kegiatan ini dilakukan di beberapa lokasi, termasuk Situbondo, Jawa Timur; Baturaja, Sumatera Selatan; dan Karawang, Jawa Barat. Dalam konteks Latgabma SGS 2024, operasi pendaratan amfibi di Pantai Banongan melibatkan partisipasi dari empat negara, yaitu Indonesia, Amerika Serikat, Jepang, dan Singapura. TNI Angkatan Laut mengerahkan kapal LPD, KRI Makassar-590, sementara Angkatan Laut Singapura turut berkontribusi dengan mengerahkan RSS Resolution. ANTARA