SURABAYA –
**Borneonews - Malang**, Pakar Politik dari Universitas Brawijaya, Andhyka Muttaqin, memprediksi bahwa dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Kota Malang yang akan berlangsung pada tahun 2024, tidak akan ada calon yang memiliki dominasi kuat jika petahana tidak ikut serta. Andhyka mengungkapkan bahwa jika mantan Wali Kota Malang, Sutiaji, memutuskan untuk mencalonkan kembali, ia berpotensi menjadi calon yang mendominasi. Hal ini diungkapkan dalam sesi diskusi santai dengan media di kampus Universitas Brawijaya, Malang, pada malam hari Kamis. Dia juga menyoroti bahwa meskipun Moch Anton, yang juga dikenal dengan sebutan Abah Anton, menunjukkan performa yang menonjol dalam survei, terdapat ketidakpastian mengenai status hukumnya setelah terjerat dalam kasus korupsi saat menjabat sebagai Wali Kota pada periode 2013-2018. Andhyka menekankan bahwa tanpa adanya calon yang benar-benar dominan, semua pasangan bakal calon kini memiliki peluang yang sama untuk menang dalam Pilkada Kota Malang tahun depan. Untuk itu, dia menekankan pentingnya tim pemenangan masing-masing calon dalam merancang strategi yang efisien guna memenangkan hati pemilih. Memahami karakteristik pemilih di daerah tersebut menjadi langkah krusial dalam merumuskan strategi pemenangan. Dalam diskusi tersebut, Andhyka mengelompokkan pemilih di Kota Malang ke dalam tujuh karakteristik berbeda. Pertama, ada pemilih tradisional yang setia kepada partai politik, dan di sisi lain, pemilih rasional yang memilih calon berdasarkan visi, misi, serta program yang diusulkan. Selanjutnya, pemilih patronase yang dipengaruhi oleh tokoh agama dari NU maupun Muhammadiyah juga harus diperhatikan. Ragam pemilih lainnya termasuk mereka yang mempertimbangkan imbalan atau *political gimmick* yang ditawarkan. Pemilih muda, yang biasanya sangat kritis, juga memiliki pengaruh besar karena mereka lebih mendasarkan pilihan pada kepentingan pribadi dan harapan mereka. Andhyka juga menyebutkan tentang keberadaan *swing voter*, kelompok pemilih yang cenderung kritis dan berpikiran terbuka mengenai isu-isu lokal serta kebijakan yang diajukan calon kepala daerah. Selanjutnya, Novy Setia Yuna, Ketua Bidang Kerja Sama di Badan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UB, menambahkan bahwa kemampuan memahami subkultur masyarakat di Jawa Timur juga memengaruhi pola pemilihan. Dia menjelaskan ada empat subkultur utama, salah satunya adalah Matraman yang terlihat setia pada partai nasionalis. Ada juga subkultur Arek, yang terkenal dengan karakter *swing voter* yang tinggi, serta subkultur Tapal Kuda yang memiliki ketaatan kuat terhadap ulama. Perubahan cepat dalam teknologi informasi juga berlangsung dinamis dan memengaruhi masyarakat dalam konteks sosial politik. Ini menciptakan fenomena-fenomena politik baru yang mungkin terlihat dalam Pemilu 2024 mendatang. Model kampanye dengan pendekatan kreatif yang kental untuk menarik perhatian kalangan muda, serta memanfaatkan platform *digital* dan media sosial, diharapkan menjadi tren baru yang akan diadopsi oleh para calon di tingkat lokal. Melihat pola yang terlihat secara nasional, banyak kandidat sebelumnya yang menerapkan strategi berbasis *digital* serta media sosial, dengan desain kampanye yang menarik dan inovatif. Dalam Pilkada Kota Malang pada tahun depan, diharapkan terdapat tiga pasangan bakal calon, yaitu Moch Anton bersanding dengan Dimyati Ayatullah, Wahyu Hidayat dengan Ali Muthohirin, serta Heri Cahyono yang berpasangan dengan Ganis Rumpoko. Di antara ketiga pasangan ini, Wahyu dan Ali didukung oleh 14 partai politik, termasuk Gerindra dan Nasdem. Sementara itu, pasangan Anton dan Dimyati didukung oleh PKB, Demokrat, serta PAN. Heri Cahyono dan Ganis Rumpoko mengantongi dukungan dari PDI Perjuangan. ANTARA