JAKARTA –
**Borneonews - Medan**, Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI yang diselenggarakan di Aceh dan Sumatera Utara pada tahun 2024 menunjukkan persaingan yang sangat ketat, khususnya antara dua provinsi, yaitu Jawa Timur dan DKI Jakarta. Hingga Jumat, 13 September 2024, sekitar pukul 09.00 WIB, kedua provinsi tersebut saling beradu kekuatan di puncak klasemen perolehan medali. Saat ini, Jawa Timur unggul dengan total 64 medali emas, 55 perak, dan 55 perunggu. Sedangkan DKI Jakarta berada di posisi kedua dengan perolehan 62 medali emas, 62 medali perak, dan 55 medali perunggu. Di posisi ketiga terdapat Jawa Barat yang mengumpulkan 59 medali emas, diikuti oleh tuan rumah Sumatera Utara yang mendapatkan 33 medali emas, 13 perak, dan 42 perunggu. Aceh juga menunjukkan prestasinya dengan meraih 30 medali emas, 25 perak, dan 25 perunggu. Pertandingan di hari sebelumnya menyajikan momen-momen menarik. Banyak medali emas diperebutkan di berbagai cabang olahraga, dan beberapa di antaranya sudah berhasil diselesaikan dengan dominasi yang terlihat jelas dari Jawa Timur dan DKI Jakarta. **Dominasi di Cabang Olahraga Tertentu** Dalam cabang olahraga akuatik, khususnya loncat indah dan renang artistik, Jawa Timur berhasil tampil menonjol. Mereka mengumpulkan 6 medali emas, 3 perak, dan 2 perunggu dalam lomba loncat indah. Salah satu bintang di cabang ini adalah Gladies Lariesa Garina Hagakore, seorang atlet berusia 18 tahun, yang meraih lima medali emas dari berbagai nomor. Keberhasilan Gladies terutama terlihat di nomor sinkronisasi menara putri, papan 3 meter putri, dan papan 1 meter, menjadikannya sorotan utama pada PON 2024. Sementara itu, DKI Jakarta juga menunjukkan performa yang mengesankan dengan perolehan 4 medali emas, 3 perak, dan 2 perunggu di cabang loncat indah. Pada perlombaan renang artistik, DKI Jakarta berhasil mengantongi 2 medali emas dan 1 perunggu, dengan emas diraih di nomor solo dan duet. Hilda Tri Julyandra, yang menempati juara pertama di nomor solo, memperoleh nilai tertinggi, yaitu 136,20. Namun, di nomor duet, DKI Jakarta kembali meraih kesuksesan dengan Gabrielle Permata dan Hilda Tri Julyandra yang mencatatkan nilai tertinggi sebesar 138,60. Sementara Sulawesi Selatan menunjukkan prestasi di nomor beregu dengan meraih medali emas setelah mendapatkan nilai tertinggi 70,16, mengalahkan DKI Jakarta yang harus puas dengan perak. Selain cabang akuatik, cabang binaraga juga sudah menunjukkan hasil kompetisi. Provinsi Kalimantan Timur berhasil menjadi juara umum di cabang ini dengan dua medali emas dan dua perak. Sumatera Utara pun mampu bersaing dengan meraih dua emas, satu perak, dan satu perunggu. **Pencapaian di Cabang Lain** Dalam cabang bulu tangkis, Provinsi Jawa Tengah menorehkan prestasi mengesankan dengan meraih medali emas dalam nomor beregu putra dan putri setelah mengalahkan lawan-lawannya dengan skor mutlak. Pada cabang dancesport, Sumatera Utara juga tampil mengesankan dengan mengumpulkan enam medali, sementara Jawa Barat dan DKI Jakarta masing-masing meraih total sembilan dan delapan medali. Tak hanya itu, sejumlah kisah inspiratif muncul selama PON berlangsung. Salah satunya adalah pencapaian Tan Kiong An, seorang pebiliar berusia 74 tahun dari Jawa Tengah, yang berhasil merebut medali emas setelah mengalahkan wakil DKI Jakarta di final. Di cabang atletik, Dina Aulia dari Kalimantan Selatan sukses memecahkan rekor nasional dan PON di nomor 100 meter gawang putri, mencatat waktu 13,16 detik, mengalahkan rekor sebelumnya yang dipegang oleh Emilia Nova dari DKI Jakarta. Sementara itu, Muhammad Amirullah Al Farizi dari Jawa Timur mencatatkan waktu luar biasa dalam nomor selam kolam 200 meter surface putra, meraih medali emas dan memecahkan rekor nasional yang telah bertahan selama 13 tahun. Pekan olahraga ini tidak hanya memberikan pertarungan sengit di berbagai cabang olahraga, tetapi juga menyajikan kisah-kisah menginspirasi yang mencerminkan semangat kompetisi dan pencapaian luar biasa dari para atlet di seluruh Indonesia. ANTARA