JAKARTA –
**Borneonews - Athena**, Perdana Menteri Yunani, Kyriakos Mitsotakis, telah menyampaikan kritik tajam terhadap pemerintah Jerman terkait keputusannya yang baru-baru ini diambil untuk menangguhkan perjanjian *Schengen* di perbatasan darat negara itu. Dalam wawancara yang disiarkan oleh Talk Radio pada hari Kamis, 12 September, Mitsotakis menyatakan bahwa pendekatan Jerman dalam menangani masalah migrasi tidaklah tepat. Dia mengingatkan bahwa meskipun isu migrasi telah menjadi perhatian serius bagi Jerman, langkah untuk menghapus perjanjian *Schengen* secara sepihak adalah tindakan yang tidak dapat diterima. Mitsotakis menekankan bahwa "melempar beban kepada negara lain tidak dapat ditoleransi," menunjukkan sikap ketidaksetujuannya terhadap langkah tersebut. Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa Yunani telah berkomitmen untuk melindungi perbatasannya, yang pada hakikatnya juga merupakan perbatasan Uni Eropa (EU). Dengan menerapkan "kebijakan migrasi yang ketat namun adil," negara tersebut mampu mencapai penurunan signifikan dalam jumlah migran yang masuk. Mitsotakis menambahkan bahwa kebijakannya telah membantu menormalkan situasi di pulau-pulau yang menjadi titik fokus migrasi. "Kami berusaha menyampaikan pesan bahwa para penyelundup tidak memiliki kendali atas situasi ini," ungkapnya dengan tegas. Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Jerman, Nancy Faeser, pada Senin, 10 September, mengumumkan bahwa Jerman akan mengembalikan pemeriksaan di semua perbatasan darat, langkah yang dianggap perlu untuk mengawasi migrasi yang tidak teratur. Tindakan ini juga mendapatkan perhatian dari Perdana Menteri Polandia, Donald Tusk, yang pada hari Selasa menyatakan bahwa langkah-langkah tersebut tidak dapat diterima dari perspektif Polandia, menambah ketegangan di antara negara-negara Eropa terkait isu migrasi ini. ANTARA