**Borneonews - Jakarta**, Mahatma Gandhi pernah menyatakan bahwa kesehatan merupakan kekayaan sejati, bukanlah emas atau perak. Kesehatan fisik berpengaruh besar terhadap kehidupan sehari-hari, karena kerusakan pada satu organ dapat memengaruhi fungsi organ lainnya.
Salah satu langkah penting untuk menjaga kesehatan adalah melalui vaksinasi, yang efektif dalam mencegah penyakit dengan risiko kematian yang tinggi. Vaksinasi diberikan dalam bentuk substansi atau senyawa yang mengandung virus atau bakteri yang telah dimatikan atau dilemahkan. Proses vaksinasi ini berfungsi untuk membentuk sistem kekebalan tubuh, dan diakui sebagai salah satu bentuk investasi kesehatan paling terjangkau, mengingat kemampuannya yang signifikan dalam mencegah dan mengurangi angka penyakit, kecacatan, serta kematian akibat penyakit.
Di Indonesia, program imunisasi wajib dilaksanakan oleh pemerintah dengan menyediakan dosis lengkap dari berbagai jenis vaksin secara gratis untuk anak-anak sejak lahir. Sebanyak 11 jenis vaksin wajib diberikan sesuai dengan usia anak, dengan jadwal yang telah ditentukan oleh pemerintah. Vaksin hepatitis B, Polio, BCG, Campak, Rubella, serta vaksin DPT-HB-HiB adalah beberapa contoh vaksin yang diwajibkan.
Menyoroti pentingnya adanya imunisasi sebagai investasi kesehatan masyarakat Indonesia dan sebagai langkah menuju terwujudnya Indonesia Maju pada tahun 2045, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada tahun 2022 menambahkan tiga jenis immunisasi wajib lainnya, yakni Vaksin Pneumokokus Konjugasi (PCV), vaksin Rotavirus, dan vaksin Human Papilloma Virus (HPV).
**Mengambil Pembelajaran dari Pandemi**
Organisasi Kesehatan Dunia (*World Health Organization* atau WHO) melaporkan bahwa angka kematian akibat pandemi COVID-19 mencapai 7.059.612 orang di seluruh dunia. Virus yang umumnya menular melalui droplet ini telah memaksa banyak negara untuk menerapkan kebijakan pembatasan jarak dan pergerakan masyarakat.
Sebagai respons, langkah-langkah pencegahan diperkenalkan, seperti penggunaan masker dan penerapan kebersihan tangan secara regular dengan menggunakan desinfektan atau mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Selain itu, pengujian dan penelusuran kontak dilakukan untuk mendeteksi penyebaran virus, sekaligus meningkatkan kapasitas fasilitas perawatan intensif di rumah sakit. Namun, karena laju penularan yang sangat cepat, upaya untuk memformulasikan vaksin COVID-19 menjadi sangat mendesak.
Dalam diskusi panel Forum Indonesia-Afrika (IAF) yang berlangsung di Badung, Bali, pada tanggal 3 September, Menteri Sadikin mencermati pentingnya kapasitas dalam menghadapi potensi ancaman penyakit menular. Ia menekankan bahwa patogen dapat menyebar dari satu tempat ke tempat lain, mirip dengan pandemi COVID-19.
Ia juga mengungkapkan bahwa pandemi merupakan ancaman global, di mana tidak mungkin satu negara dapat melindungi diri sepenuhnya tanpa dukungan negara lain. "Ketika pandemi terjadi, semua orang akan terpengaruh, tanpa memandang ras atau negara, baik negara berkembang maupun negara maju. Oleh karena itu, penting bagi semua negara untuk memiliki tingkat perlindungan yang sama," tutur menteri tersebut.
Sebagai pembelajaran dari pandemi ini, Indonesia meluncurkan aplikasi SATUSEHAT yang mengintegrasikan sistem informasi dari seluruh ekosistem kesehatan digital. Melalui aplikasi ini, pasien tidak perlu membawa rekam medis ketika beralih ke fasilitas kesehatan. Saat ini, aplikasi ini telah diunduh oleh 130 juta orang di Indonesia dan menjadi salah satu investasi kesehatan yang disiapkan pemerintah. Melalui data pemeriksaan kesehatan yang tertera di aplikasi, tenaga medis dapat mengidentifikasi langkah intervensi yang dibutuhkan oleh pasien.
Sebanyak 10 ribu puskesmas juga telah diperkuat untuk mendiagnosis berbagai penyakit, termasuk dengan penyediaan mesin PCR. Indonesia juga sedang mengembangkan 514 laboratorium kesehatan masyarakat yang dilengkapi dengan kemampuan pengurutan genom dan pengujian PCR.
Dalam kesempatan itu, Menteri Kesehatan Sudan, Haitham Mohamed Ibrahim, menegaskan pentingnya aksesibilitas terhadap imunisasi, vaksinasi, dan perlindungan kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Ia berpendapat bahwa melindungi satu negara berarti melindungi seluruh dunia. "Tanpa memandang kapasitas ekonomi suatu negara untuk membeli vaksin, tanggung jawab kita bersama adalah memastikan bahwa seluruh populasi dunia terlindungi dari epidemi dan wabah," ujarnya di IAF.
**Vaksinasi dan Mpox**
Di samping screening kesehatan yang mencakup pengukuran berat badan, tinggi badan, tekanan darah, dan pengujian kadar gula darah, investasi kesehatan melalui vaksinasi tidak boleh diabaikan. Meskipun vaksinasi diprioritaskan bagi kelompok rentan dalam kondisi tertentu, nyatanya merupakan hak setiap individu. Namun, tantangan yang dihadapi dalam mengakses vaksin tidak hanya terkait kemampuan finansial untuk mendapatkannya, tetapi juga terkait ketersediaan vaksin itu sendiri.
Pada pertengahan Agustus, WHO mengumumkan bahwa cacar monyet, atau *Mpox*, telah dinyatakan sebagai Keadaan Darurat Kesehatan Masyarakat yang Merepotkan Secara Internasional di beberapa negara di Afrika, termasuk Republik Demokratik Kongo (DRC). Direktur Jenderal Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (*Africa Centres for Disease Control and Prevention* atau Africa-CDC), Jean Kaseya, dalam pertemuan IAF menjelaskan bahwa pihaknya memimpin agenda kesehatan untuk 1,4 miliar orang di Afrika melalui berbagai penelitian dan pendekatan untuk menghentikan wabah dan menyelamatkan nyawa.
Ia mengungkapkan bahwa dirinya menghabiskan 80 persen waktu untuk memerangi Mpox yang tengah menyebar di Afrika dan menyebut bahwa Africa CDC telah mengambil inisiatif untuk mendeklarasikan Mpox sebagai keadaan darurat kesehatan sebelum pengumuman WHO.
Kaseya juga menekankan pentingnya percobaan klinis, penelitian, dan pengembangan. Africa CDC sedang mempersiapkan platform repositori kontinen sebagai pusat layanan terintegrasi bagi semua. Lebih lanjut, mereka memperluas kerja sama dengan Indonesia melalui pemberian alat kesehatan berupa 30 mesin Uji Cepat Molikulare (TCM) beserta 12 ribu reagen, serta transfer pengetahuan.
Indonesia dan Afrika sepakat untuk berinvestasi dalam kerja sama kesehatan melalui vaksinasi. Menteri Sadikin berjanji kepada Africa CDC untuk menyediakan lima ribu dosis vaksin Mpox yang berencana dibeli dari produsen vaksin, mengingat Indonesia belum dalam posisi untuk memproduksinya sendiri.
ANTARA
Investasi Kesehatan Penting untuk Menghadapi Ancaman Masa Depan
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Berangkat dari Pengetahuan Warga Kinipan, Enam Siswa di Kalteng Teliti Bobah Bebara
Satresnarkoba Polres Seruyan Tangkap Pengedar Sabu di Rungau Raya, 14 Paket Disita
Kemenpar Harap Sepak Bola Sebagai Sport Tourism Promosikan Pariwisata
DPKP Tingkatkan Pemantauan Kesehatan Hewan di Tengah Ancaman Kabut Asap
Pelajar SMA Palangka Raya Raih Medali Emas Kompetisi Riset Internasional
SMAN 3 Kasongan Terima Dua Interactive Panel Display dan Starlink
Komentar (0)
Memuat komentar…







