BANTEN –
**Borneonews - Serang**, Pemerintah Kabupaten Serang tengah melaksanakan evaluasi terkait pengendalian inflasi di wilayahnya sebagai langkah untuk mencapai stabilitas harga. Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Serang, Rudy Suhartanto, menyampaikan harapannya agar Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dapat berperan aktif dalam menjaga inflasi agar tetap terjaga. Hal ini penting demi memastikan pemenuhan kebutuhan sehari-hari masyarakat berlangsung dengan baik. Dalam pelaksanaan rapat koordinasi TPID, Rudy mengimbau agar perlu dilakukan evaluasi untuk mencegah terjadinya lonjakan inflasi. Stabilitas inflasi menjadi kunci agar masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pokok mereka dengan nyaman dan aman. Ia mengidentifikasi bahwa salah satu penyebab utama inflasi adalah kenaikan harga komoditas, di antaranya bawang merah, bawang putih, dan cabai. Sebaliknya, komoditas lain seperti beras, telur ayam ras, dan minyak goreng berperan sebagai penahan inflasi. Dalam menghadapi tantangan ini, diharapkan TPID Kabupaten Serang bekerja sama dengan Bank Indonesia untuk memastikan ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan keterjangkauan harga. Selain itu, perlu adanya peningkatan komunikasi yang efektif antara berbagai instansi terkait. Rudy juga mengingatkan pentingnya memantau situasi terkait stok produksi, distribusi, dan konsumen guna menjamin agar distribusi kebutuhan masyarakat, seperti sembako, tidak terganggu. Sementara itu, Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Sekretariat Daerah Kabupaten Serang, Febrian Ripera, mengungkapkan pendapat dari perwakilan Bank Indonesia dan BPS Kabupaten Serang yang menyatakan bahwa kondisi inflasi saat ini berada dalam keadaan aman, dengan catatan bahwa tidak ada kaitannya dengan momen hari besar keagamaan yang bisa menyebabkan lonjakan harga. Namun, Febrian mencatat bahwa kenaikan harga mungkin akan terjadi pada bulan Ramadan dan Idul Fitri sebagai siklus tahunan. Lebih lanjut, Febrian menjelaskan tentang potensi lonjakan harga pangan di triwulan keempat yang perlu diwaspadai, mengingat beberapa komoditas seperti bawang merah, cabai rawit, dan telur ayam ras memiliki kecenderungan untuk mengalami kenaikan harga secara berulang. Ia menambahkan, ada beberapa isu yang harus diantisipasi, terutama terkait dengan kemungkinan kenaikan harga minyak goreng dan pupuk. Kenaikan tersebut berpotensi menimbulkan gejolak di antara distributor dan produsen, sehingga penimbunan harus dihindari. Febrian juga mengingatkan perlunya kewaspadaan terhadap pupuk, mengingat khawatir adanya kelangkaan yang saat ini dirasakan oleh para produsen. Sebagai langkah antisipatif, ia mengusulkan agar diadakan rapat lebih khusus dengan pemerintah dan instansi terkait, seperti Dinas Koperasi dan Perindustrian serta Bulog, untuk membahas dua isu utama ini secara mendalam. Meskipun sejumlah komoditas tergolong dalam kondisi aman, Febrian menggarisbawahi perlunya perencanaan yang lebih matang untuk tahun-tahun mendatang, termasuk revisi target penanganan inflasi untuk OPD pada tahun 2024. Ia menekankan pentingnya pencapaian target penanganan inflasi yang setidaknya harus terpenuhi hingga 80 persen pada triwulan keempat tahun tersebut. Kedepannya, untuk tahun 2025, pihaknya berencana menyusun target dan rencana baru yang akan berlaku hingga 2027, serta melakukan evaluasi kinerja terhadap target-target yang telah ditetapkan sebelumnya. Jika target tersebut tidak terpenuhi, maka tidak akan ada penambahan target, namun jika berpotensi tercapai, maka pihaknya akan mempertimbangkan untuk meningkatkan target penanganan inflasi. ANTARA