**Borneonews - Moskow**, Venezuela baru-baru ini mengambil langkah untuk menarik duta besarnya dari Madrid guna melakukan konsultasi. Tindakan ini diambil sebagai respons terhadap pernyataan kontroversial yang dilontarkan oleh Menteri Pertahanan Spanyol, Margarita Robles. Dalam keterangannya, Robles menganggap bahwa pemerintahan Presiden Nicolas Maduro adalah sebuah kediktatoran yang berkontribusi terhadap terjadinya migrasi massal dari Venezuela.
Menteri Luar Negeri Venezuela, Yvan Gil, mengungkapkan bahwa pernyataan yang dianggap tidak pantas dan intervensif dari Robles akan mendapatkan balasan dari pemerintah Venezuela. Melalui saluran *Telegram*, Gil menegaskan bahwa tindakan tersebut menandai kemunduran dalam hubungan antara Caracas dan Madrid. Oleh karena itu, pemerintah Venezuela memutuskan untuk memanggil duta besarnya untuk Spanyol, Gladys Gutierrez, agar kembali untuk berdiskusi terkait situasi ini.
Di saat bersamaan, Venezuela juga memanggil duta besar Spanyol untuk negara itu, Ramon Santoz Martinez, untuk memberikan penjelasan tentang pernyataan yang dilontarkan oleh Robles. Permintaan penarikan duta besar dilakukan pada hari yang sama dengan komentar publik Robles, yang disampaikan dalam sebuah acara pada 12 September.
Selain itu, pada Rabu, 11 September, Ketua Parlemen Venezuela, Jorge Rodriguez, menyarankan agar para anggotanya mengesahkan resolusi untuk memutuskan hubungan diplomatik dan perdagangan dengan Spanyol. Dorongan ini disebabkan oleh tuntutan Kongres Spanyol yang meminta pengakuan terhadap Edmundo Gonzalez sebagai presiden baru Venezuela.
Perlu dicatat bahwa pada awal pekan ini, Spanyol mengonfirmasi telah memberikan suaka kepada Gonzalez. Spanyol bahkan menerbangkannya keluar dari Venezuela menggunakan pesawat militer dengan izin yang diberikan oleh otoritas di Caracas. Edmundo Gonzalez sendiri tengah menjadi buron di Venezuela karena diduga terlibat dalam tindakan campur tangan dalam pemilu serta menghasut kekerasan di jalan.
Gonzalez mendarat di pangkalan militer di Madrid dengan didampingi oleh istrinya dan Menteri Luar Negeri Spanyol, Diego Martinez Belio. Dalam konteks pemilihan presiden yang berlangsung pada 28 Juli, Nicolas Maduro dinyatakan sebagai pemenang dengan perolehan suara lebih dari 51 persen. Namun, klaim kemenangan tersebut diperdebatkan oleh pihak oposisi, yang mengutip hasil penghitungan suara dari berbagai pusat pemungutan suara di seluruh negeri.
Klaim ini menyebabkan terjadinya protes besar-besaran oleh warga yang menolak hasil tersebut. Dalam rangka menjaga ketertiban, banyak individu ditangkap dengan berbagai tuduhan, termasuk merusak infrastruktur negara, menyebarkan ujaran kebencian, dan melakukan tindakan terorisme.
ANTARA
Venezuela Tarik Duta Besar dari Madrid Usai Kritik Spanyol
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Hari Santri Nasional Momentum Perkuat Komitmen Cetak Generasi Emas
Polda Kalteng Lakukan Penanaman Pohon di Bekas Lokasi Karhutla, Wujudkan Green Policing
Kebakaran di Sungai Andai Banjarmasin, Dua Rumah Terdampak
BPBD Kapuas Sampaikan Duka atas Meninggalnya Warga yang Kerap Bantu Padamkan Karhutla
Seorang Pria Meninggal Dunia Saat Salat Jum'at di Masjid Al Hidayah Banjarmasin
Bayi Laki-Laki Ditemukan di Pelataran Musala di Kotabaru
Komentar (0)
Memuat komentar…







