**Borneonews - Manado**, Di ujung utara Indonesia, tersembunyi sebuah desa kecil bernama Laotongan, yang terletak di Kecamatan Tabukan Selatan, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara. Meskipun desa ini tidak dikenal luas, keindahan alam serta ketenangan hidup yang dijadinya, menjadikan Laotongan sebagai permata tersembunyi di antara hamparan laut biru dan gunung-gunung hijau yang megah.
Pagi di Laotongan dimulai dengan indahnya matahari yang perlahan terbit dari balik pegunungan, menerangi permukaan laut yang berkilauan. Sebagian besar penduduk desa ini adalah nelayan dan petani yang menjalani kehidupan dengan kesederhanaan dan kearifan tradisional. Mereka berangkat melaut menggunakan perahu kayu kecil, mencari ikan sebagai sumber penghidupan utama yang sudah menjadi warisan turun-temurun.
Sementara di ladang-ladang kecil, para petani menanami padi dan sayuran, memanfaatkan tanah subur yang dianugerahkan oleh alam. Keindahan Laotongan tidak hanya terletak pada keindahannya, tetapi juga pada rasa kebersamaan yang kuat di antara warganya. Suasana kekeluargaan dan semangat gotong royong sangat terasa di setiap sudut desa.
Ketika acara adat atau pesta panen digelar, seluruh warga berkumpul merayakan kebersamaan di balai desa yang sederhana. Suara tawa dan lagu-lagu tradisional bergema, sementara anak-anak berlarian dengan riang, bebas dari beban pikiran.
Meski terdengar terpencil, Laotongan tidak sepenuhnya terputus dari dunia luar. Meskipun proses perjalanan ke desa ini bisa terasa panjang, baik melalui jalur laut maupun darat, para pengunjung yang datang sering merasakan bahwa perjalanan tersebut sepadan dengan keindahan yang mereka saksikan. Laut yang jernih, tebing karang yang karismatik, dan hutan tropis yang terjaga masih sangat alami merupakan pemandangan yang semakin menjadikan Laotongan spesial.
Namun di balik semua pesonanya, Desa Laotongan tidak lepas dari berbagai tantangan. Akses terhadap teknologi modern dan infrastruktur masih sangat terbatas. Masalah kelistrikan menjadi salah satu isu penting, di mana listrik yang menjadi kebutuhan dasar di tempat lain belum sepenuhnya stabil di desa ini. Penduduk sering kali bergantung pada sumber energi fosil seperti genset atau lampu minyak untuk penerangan pada malam hari.
Meski begitu, kehidupan di desa ini tetap berlangsung dengan damai. Setiap hari menjadi simbol perayaan atas kesederhanaan, di mana waktu seakan melambat dan mengingatkan manusia untuk menghargai keindahan hidup yang autentik.
Desa Laotongan mungkin belum sepenuhnya terjangkau oleh kemajuan zaman, tetapi dalam ketenangan dan kedamaian itu tersimpan kekayaan hidup yang sangat berharga. Daya tarik antara manusia dan alam serta tradisi yang terpelihara dengan baik menciptakan harmoni yang unik di desa ini.
Laotongan, yang terletak di Kepulauan Sangihe, menghadapi tantangan dalam hal akses kelistrikan. Desa ini masih bergantung pada sistem kelistrikan yang sederhana, yang diperoleh dari *PLTS atap* dan genset bantuan dari Pemerintah Kabupaten Sangihe. Pada siang hari, warga memanfaatkan tenaga matahari yang tertampung di *PLTS atap* untuk kebutuhan utama sehari-hari, meskipun kapasitasnya terbatas, hanya dapat menghidupkan peralatan listrik tertentu.
Pengaturan penggunaan listrik harus dilakukan dengan hati-hati, sering kali warga harus memilih antara menyalakan lampu atau mengisi daya perangkat genggam. Ketika malam tiba, kesunyian semakin terasa, dan genset dari pemerintah menjadi satu-satunya sumber keharian yang diandalkan pada malam hari.
Namun, pasokan bahan bakar yang tidak selalu tersedia membuat operasional genset sangat bergantung pada ketersediaan bahan bakar, sehingga genset hanya diaktifkan beberapa jam saja demi menghemat. Saat lampu-lampu menyala, suasana di desa tiba-tiba hidup, tetapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Setelah genset dimatikan, kembali keheningan malam menyelimuti desa, memperlihatkan citra kehidupan yang diwarnai lilin minyak.
Anak-anak di Laotongan belajar di bawah cahaya lentera minyak, sementara para ibu berjuang menyiapkan makanan dalam kegelapan. Kehidupan malam seakan menghadirkan tantangan tersendiri ketika lampu genset menerangi lingkungan, menggantikan suasana alami yang biasa mendominasi.
Dengan sumber energi yang terbatas, masyarakat harus bijak dalam menggunakan apa yang tersedia. Ketergantungan pada genset menjadikan mereka selalu waspada terhadap cuaca dan pasokan bahan bakar, di mana badai atau masalah pengiriman dapat mengganggu pasokan BBM. Meskipun memiliki segala keterbatasan, penduduk Laotongan tetap berusaha tegar dan saling membantu dalam beradaptasi dengan situasi.
Namun, harapan mulai muncul ketika kabar tentang rencana pembangunan *PLTS* berbasis energi baru terbarukan (EBT) datang ke desa ini. Masyarakat bersemangat menyambut berita ini, karena diharapkan dapat memberikan sumber listrik yang lebih stabil dan terjangkau, serta membawa teknologi ramah lingkungan bagi kehidupan mereka.
Kepala Desa Laotongan, Lomboris, merasakan kebanggaan dan syukur yang mendalam; impian masyarakat akan akses listrik tampak semakin mendekati kenyataan. Peresmian pembangkit listrik tenaga surya (*PLTS*) menjadi lambang perubahan signifikan bagi kehidupan masyarakat.
Saat momen peresmian tiba, Lomboris secara resmi menyampaikan sambutannya di hadapan warga. Suasana hening hanya terdengar hembusan angin dan suara ombak di pantai. Dengan penuh perasaan, ia mengungkapkan bahwa kehadiran *PLTS* bukan hanya soal penyediaan listrik, tetapi juga tentang masa depan yang lebih baik bagi generasi selanjutnya.
Lomboris pun mengungkapkan terima kasih kepada PLN dan semua pihak yang terlibat dalam proyek ini. PLTS adalah jawaban akan harapan masyarakat yang telah lama mengimpikan akses energi yang stabil dan berkelanjutan. Dukungan terhadap pembangunan infrastruktur energi terbarukan ini diharapkan akan memberikan dampak besar bagi perekonomian desa.
Dengan adanya PLTS baru, para penduduk percaya bahwa Desa Laotongan akan merasakan kebangkitan ekonomi yang belum pernah ada sebelumnya. Dengan pasokan listrik yang lebih baik, mereka dapat mengembangkan usaha kecil, meningkatkan pertanian, serta menarik wisatawan untuk datang dan menikmati keindahan alam Laotongan.
PLTS ini bukan hanya meningkatkan kenyamanan, tetapi juga memberikan peluang untuk maju dan berkembang. Masyarakat kini dapat menikmati listrik bersih dari *PLTS* PLN dengan kapasitas 180 kWp, yang mampu menjangkau sekitar 100 rumah tangga di desa.
General Manager PLN UID Suluttenggo, Atmoko Basuki, hadir dengan senyuman, menyadari betapa pentingnya hari ini bagi masyarakat Laotongan. Ia memulai sambutannya dengan berbicara tentang komitmen PLN untuk mendukung transisi energi di wilayah ini, menekankan pentingnya *PLTS* tidak hanya sebagai sumber energi bersih, tetapi juga sebagai penggerak roda perekonomian lokal.
Atmoko berharap masyarakat bersama-sama menjaga semua infrastruktur yang telah dibangun, mulai dari pusat pembangkit hingga jaringan kelistrikan agar dapat beroperasi dengan baik dan berkelanjutan.
Dengan semangat kerja sama, diharapkan *PLTS* ini dapat menjadi investasi berharga bagi masa depan desa. PLN mengingatkan agar listrik digunakan secara bijak, dengan memastikan keselamatan sebagai prioritas utama.
Manager PLN UP3 Tahuna, Fauzan, juga menekankan pentingnya kolaborasi untuk mewujudkan proyek *PLTS* ini. Ia menyatakan bahwa menyediakan akses listrik adalah hak setiap individu, termasuk warga di desa terpencil seperti Laotongan, yang kini akhirnya bisa merasakan manfaat dari infrastruktur ini.
Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe, Gregorius D. Londo, menggarisbawahi bahwa peristiwa ini bukan hanya sekadar peresmian infrastruktur, tetapi juga momen yang sangat bermakna bagi seluruh masyarakat. Dengan penyediaan listrik, dipastikan akan mendorong aktivitas dan pertumbuhan ekonomi di desa, sekaligus meningkatkan potensi pariwisata yang sebelumnya tertekan akibat keterbatasan akses listrik.
Optimisme warga Desa Laotongan pun tumbuh seiring dengan hadirnya cahaya yang dipancarkan oleh *PLTS*, menjadi harapan baru untuk pembangunan masa depan yang lebih berkelanjutan.
ANTARA
Desa Laotongan Menuju Masa Depan Berkelanjutan Melalui Energi Terbarukan
Bagikan:

MANADO –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Madura United Bidik 3 Poin saat Hadapi Persebaya
Tentara Yaman Lumpuhkan Lebih dari 300 Petempur Houthi
Veda Pratama Hormati Keputusan Pembatalan Moto3 Australia
Kebakaran Terjadi di Masjid Al-Muhajirin Cempaga Kotim
Ganda Campuran China Li/Huang Juarai Indonesia Masters 2026
BPN Berkontribusi Tingkatkan Nilai Ekonomi hingga Rp1.834 Triliun
Komentar (0)
Memuat komentar…







