JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk aktif menggunakan hak pilih mereka dan tidak memilih untuk golongan putih atau *golput* pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang dijadwalkan pada tahun 2024. Ketua Divisi Teknis KPU Jakarta, Dody Wijaya, saat dihubungi di kantornya mengungkapkan harapannya agar masyarakat Jakarta datang ke tempat pemungutan suara (TPS). Ia menekankan bahwa saat ini adalah momentum penting, terutama setelah diberlakukannya Undang-Undang nomor 2 tahun 2024 mengenai Daerah Khusus Jakarta (DKJ) yang menyatakan bahwa Jakarta tidak lagi berstatus sebagai ibu kota. Dalam pandangannya, masa depan kota Jakarta kini berada di tangan warganya. Dody menjelaskan bahwa apabila masyarakat tidak memberikan suara di TPS pada saat Pilkada, maka suara mereka tidak akan dihitung dalam perolehan kemenangan. Sebagai ilustrasi, ia menjabarkan situasi di mana dari 100 warga, 50 orang memilih *golput* dan 50 lainnya tidak menghadiri TPS. Dari total suara yang dihitung, jika terdapat 20 suara yang tidak sah, kemenangan akan ditentukan oleh 30 suara yang valid. Lebih lanjut, Dody menggarisbawahi bahwa untuk memenangkan pemilihan di Jakarta dibutuhkan 50 persen ditambah satu dari total suara yang sah. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa gerakan *golput* atau tindakan mencoblos semua pasangan calon (paslon) sama sekali tidak memberikan dampak signifikan dalam Pilkada. Menurutnya, tindakan tersebut sebenarnya malah mempermudah paslon untuk menang, karena hanya perlu bersaing di sekitar 30 suara dari skenario yang telah diuraikan. Di sisi lain, anggota KPU DKI, Astri Megatari, menjelaskan bahwa pihaknya akan aktif melakukan sosialisasi untuk menumbuhkan partisipasi masyarakat dalam Pilkada 2024, sehingga warga dapat menggunakan hak pilihnya secara tepat. Astri mengungkapkan keyakinan bahwa masyarakat Jakarta saat ini semakin cerdas dan kritis, serta mampu menilai ketiga paslon dengan pikiran yang terbuka. Ia menambahkan bahwa perkembangan profil masyarakat Jakarta yang semakin modern dan melek digital turut berkontribusi dalam meningkatkan kemampuan kritis mereka saat memilih pemimpin yang akan memimpin ibu kota selama lima tahun mendatang. ANTARA