BOGOR –
**Borneonews - Wakatobi**, Tim dari Perguruan Tinggi Universitas Indonesia (UI) telah melaksanakan program pengabdian masyarakat di Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Program ini, yang dikoordinasi oleh Direktorat Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat (DPPM), bertujuan untuk memberikan edukasi tentang inovasi produk berbasis biodiversitas kepada masyarakat setempat. Kegiatan ini bertema "Pengembangan Ekosistem Bisnis Masyarakat Pesisir melalui Peningkatan Nilai Tambah Produk Olahan Pisang dan Ikan di Wakatobi." Program ini difokuskan pada tiga desa yang berada di Pulau Binongko, yaitu Desa Haka, Waloindi, dan Oihu. Ketua Tim Pengabdi yang juga merupakan dosen di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UI, Dr. Retno Lestari, M.Si, menjelaskan bahwa Pulau Binongko memiliki potensi yang besar di sektor pertanian, khususnya perkebunan pisang dan hasil laut, yang saat ini belum dimanfaatkan secara optimal. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik tahun 2020, pisang merupakan komoditas pertanian utama di Kecamatan Binongko. Tanaman ini diketahui mampu tumbuh meskipun di lahan berbatu, sehingga membuka peluang besar bagi pengembangan pertanian. Lebih jauh, Dr. Retno menyoroti bahwa Pulau Binongko memiliki area terumbu karang yang luas dan kaya, yang menjadi sumber hasil laut melimpah. Harapannya, inisiatif ini dapat berperan sebagai katalis dalam mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di pulau tersebut. Ia berharap bahwa dengan adanya inovasi dan dukungan yang diberikan, masyarakat setempat dapat meningkatkan pendapatan, kemandirian, dan kesejahteraan mereka melalui produk olahan yang bernilai tambah tinggi. Dalam rangka pengembangan potensi tersebut, tim pengabdian yang terdiri dari mahasiswa, alumni, dan sejumlah tenaga ahli melakukan sosialisasi mengenai inovasi produk olahan pisang dan ikan, yang memiliki nilai jual yang tinggi. Para peserta dilatih dalam teknik pembuatan keripik pisang, setup pisang, serta produk olahan frozen food berbasis ikan, seperti nugget ikan, bakso ikan, dan ikan woku. Selain itu, masyarakat juga diperkenalkan dengan produk khas dari daerah lain, seperti pempek, otak-otak, dan kaki naga, sebagai sumber inspirasi bagi mereka dalam mengembangkan produk lokal yang inovatif. Tidak hanya memberikan pelatihan, tim dari UI juga menyediakan modul kewirausahaan serta berbagai peralatan produksi seperti timbangan digital, *food processor*, dan mixer untuk mendukung kegiatan usaha masyarakat. Lebih dari itu, tim pengabdian juga memberikan contoh desain label dan kemasan produk sebagai panduan untuk membantu warga memasarkan produk mereka dengan cara yang lebih profesional. Salah satu mahasiswa FMIPA UI yang turut berpartisipasi dalam program ini, Ilma Ardelia, menyampaikan rasa antusias dan komitmennya untuk mendukung pemberdayaan warga. Ia menjelaskan bahwa inovasi yang disampaikan telah disesuaikan dengan kemampuan warga untuk memproduksi sendiri, serta mengungkapkan kegembiraannya melihat semangat masyarakat untuk maju dan mandiri. Sebagai langkah lanjutan, tim pengabdi tidak hanya berhenti pada pelatihan, melainkan juga membentuk kelompok koordinasi guna memastikan keberlanjutan dari inisiatif yang telah dilakukan. Dukungan juga datang dari Kepala Desa di Haka, Waloindi, dan Oihu yang memberikan dukungan penuh terhadap upaya ini, terutama dalam pengembangan produk serta penguatan usaha melalui desain label dan kemasan yang menarik. ANTARA