MANOKWARI –
**Borneonews - Sorong**, Sebanyak 18 wanita dari Papua mengikuti pelatihan membatik yang memanfaatkan bahan baku lokal. Pelatihan ini bertujuan untuk menciptakan karya yang otentik dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Yanti Siwabesi, instruktur dari CV Mahkota Kreatif, menjelaskan bahwa pelatihan *ecoprint* ini menggunakan bahan alami yang mudah ditemukan. Contoh bahan yang digunakan termasuk pinang, kulit kayu mangi-mangi, daun kasbi, dan buah merah. "Dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal yang sudah ada, kami bertujuan untuk menciptakan produk yang estetis, otentik, dan memiliki nilai jual," ungkapnya. Menurut Yanti, ada sekitar delapan hingga sembilan teknik yang akan diajarkan dalam sesi pelatihan ini, dengan upaya maksimal untuk memberikan pemahaman yang mendalam kepada para peserta. Dia menekankan bahwa setiap teknik *ecoprint* memerlukan waktu satu hari untuk dipelajari secara menyeluruh. Hal ini karena perlu dilakukan pra-pemrosesan kain berwarna putih atau kain dari serat alami menggunakan deterjen untuk menghilangkan kotoran. Setelah tahap pembersihan, peserta akan melanjutkan dengan proses mordanting. Proses ini bertujuan untuk meningkatkan daya tarik pewarna alami terhadap bahan tekstil, sehingga diharapkan menghasilkan warna yang tajam dan cerah. "Kami mencelupkan kain ke dalam larutan tawas dan sodium asetat untuk menghilangkan sisa-sisa kotoran," jelasnya. Setelah melakukan mordanting, peserta akan memulai tahap pencetakan dengan menggunakan daun, yang kemudian dikemas dan dibiarkan selama satu hingga dua jam. "Proses pembuatan ini memang membutuhkan waktu lebih dari satu hari karena melibatkan proses oksidasi yang berlangsung selama satu hingga tiga hari," tambahnya. Dalam pelatihan ini, peserta belajar cara mengolah daun alami dengan baik agar substansi hijau dari daun dapat meresap secara merata di kain. Mereka juga berlatih untuk membuat kain tercetak dengan baik tanpa menggunakan *blanket* atau sarung. Selain itu, teknik pewarnaan dengan ekstraksi warna dari pinang juga menjadi bagian dari materi pelatihan. Yanti menjelaskan bahwa fokus pelatihan ini adalah untuk meningkatkan kapasitas para mama Papua dalam berinovasi dengan memanfaatkan bahan baku lokal yang ada di sekitar mereka. "Peserta sangat antusias mengikuti pelatihan ini karena bahan dasar yang digunakan mudah dijangkau dan memiliki potensi untuk meningkatkan perekonomian mereka," katanya. Harapan Yanti, dengan adanya pelatihan *ecoprint* ini, para peserta dapat membuka kesempatan usaha baru. Salah satu peserta pelatihan, Abigael Meres, mengungkapkan rasa syukurnya atas peluang ini, yang dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan ekonomi keluarganya. "Saya sangat bersyukur kepada pemerintah yang telah menyediakan pelatihan ini," ungkapnya. Abigael menilai pelatihan ini sangat bermanfaat. Dia menambahkan bahwa penggunaan bahan baku lokal memberikan kemudahan ketika membuka usaha setelah pelatihan selesai. "Karena bahan-bahannya sudah tersedia, tinggal bagaimana kami terus dilatih agar bisa memaksimalkan potensi ini sebagai peluang usaha," jelasnya. Abigael berharap bahwa Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya akan melanjutkan pelatihan serupa guna memperkuat keterampilan mama Papua dalam membatik. Rosita Wanane, Kepala Seksi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Papua Barat Daya, mengatakan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari inisiatif pemerintah untuk memberikan peluang kepada masyarakat Papua dalam berwirausaha dengan memanfaatkan potensi lokal. "Ini adalah langkah pemberdayaan masyarakat agar mereka dapat membuka usaha," ujarnya. Pelatihan ini direncanakan berlangsung selama sepuluh hari ke depan di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Sorong, Papua Barat Daya. Rosita menambahkan bahwa setelah pelatihan, para peserta akan dilengkapi dengan fasilitas yang memadai untuk menunjang usaha membatik mereka. ANTARA