JAKARTA –
**Borneonews - Yerusalem**, Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina baru-baru ini mengeluarkan peringatan tegas mengenai peningkatan provokasi yang dilakukan oleh Israel terhadap Masjid Al-Aqsa. Situs tersebut diakui sebagai tempat paling suci ketiga dalam agama Islam, dan kekhawatiran ini muncul di tengah sejumlah tindakan ekstrem yang mengancam keberadaannya. Peringatan itu muncul setelah dirilisnya sebuah video oleh kelompok ekstremis Israel yang dikenal sebagai *Temple Mount Activists*. Dalam video tersebut, tampak ilustrasi kebakaran yang melanda Masjid Al-Aqsa dan Kubah Batu. Dengan keterangan yang menyatakan bahwa kehancuran tempat suci ini bisa terjadi dalam waktu dekat, situasi ini semakin memicu kecemasan di kalangan umat Islam. Kementerian Wakaf menegaskan bahwa suasana kebencian dan ancaman terhadap situs-situs suci Islam kini lebih mendesak dibandingkan sebelumnya. Mereka mengamati bahwa ancaman-ancaman ini, yang sering kali didasarkan pada mitos dan kebohongan, kini disampaikan dengan lebih terang-terangan dan terbuka. Pernyataan dari kementerian tersebut mengindikasikan adanya dukungan yang jelas dari pihak pemerintah Israel dan pasukan keamanannya. Mereka dianggap melindungi kelompok ekstremis yang secara rutin menyerbu Masjid Al-Aqsa tanpa adanya tindakan tegas untuk menghentikan mereka. Lebih lanjut, kementerian menggarisbawahi pentingnya keterlibatan masyarakat internasional untuk menghentikan provokasi yang semakin meningkat ini, yang jelas-jelas didukung oleh pemerintah Israel. Mereka juga mengajak penduduk Yerusalem untuk tetap waspada dan terus mengunjungi masjid sebagai bentuk penolakan terhadap rencana-rencana jahat dari kelompok ekstremis. Di sisi lain, laporan dari kementerian mengungkapkan bahwa selama bulan Agustus, serangan oleh pemukim Israel terhadap Masjid Al-Aqsa terjadi sebanyak 21 kali. Video yang diunggah oleh *Temple Mount Activists* menunjukkan kobaran api yang besar di dekat Kubah Batu, disertai narasi yang merujuk pada kemenangan di masa depan. Kelompok ini terus menyerukan pembangunan kuil di lokasi Masjid Al-Aqsa dan memberikan dukungan kepada aksi-aksi ekstremis yang mengganggu ketentraman tempat ibadah tersebut. Kunjungan menteri-menteri Israel, termasuk Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, ke masjid tersebut sering kali menuai kritik keras dari komunitas internasional. Pada bulan Agustus, Ben-Gvir bahkan menuntut agar kaum Yahudi diperbolehkan berdoa di Masjid Al-Aqsa dan merencanakan pembangunan sinagoge di area tersebut. Dalam beberapa minggu terakhir, semakin banyak ekstremis yang melakukan ritual keagamaan dan tindakan provokatif di masjid itu, menambah ketegangan yang ada. Pihak Palestina menuduh Israel semakin giat untuk menjadikan wilayah Yerusalem Timur yang mereka tempati sebagai ruang eksklusif bagi Yahudi, termasuk Masjid Al-Aqsa, dengan upaya untuk menghapus identitas Arab dan Islam dari kawasan tersebut. Mereka bertekad untuk menjadikan Yerusalem Timur sebagai ibu kota masa depan mereka. Tindakan Israel terhadap Al-Aqsa diyakini didorong oleh kelompok sayap kanan yang secara terang-terangan mengadvokasi penggantian masjid tersebut dengan kuil. Keadaan ini menunjukkan kompleksitas dan ketegangan yang terus mengelilingi isu ini, yang tidak hanya penting bagi umat Muslim, tetapi juga berimplikasi luas bagi stabilitas regional. ANTARA