**Borneonews - Kupang**, Direktorat Jenderal Kebudayaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) berkomitmen untuk melibatkan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur (NTT), dalam pelaksanaan program pangan lokal. Komitmen ini diungkapkan oleh Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid saat menghadiri Dialog Budaya bertema *Kebudayaan untuk Pangan Berkelanjutan*, yang berlangsung di Kampung Adat Mata Lafang, Lembur Barat, Kabupaten Alor.
Dalam kesempatan tersebut, Hilmar Farid menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, kampus, serta masyarakat untuk mencapai tujuan yang diharapkan dari program pangan lokal. "Kerja sama ini penting agar kita bisa bersama-sama memajukan dan mensukseskan program ini," ujarnya. Dialog tersebut dihadiri oleh berbagai elemen, termasuk komunitas seni, budayawan, dan masyarakat adat, yang turut serta mendengar upaya pemerintah untuk mempertahankan pangan lokal sebagai bagian integral dari kehidupan budaya di daerah tersebut.
Diskusi dalam acara ini menyentuh beberapa poin penting, termasuk cara mengoptimalkan penggunaan bahan pangan lokal serta pengembangan strategi untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai manfaat dan pengolahan pangan lokal. Hilmar Farid menggarisbawahi bahwa kebudayaan memiliki peran yang krusial dalam mendukung ketahanan dan kedaulatan pangan. "Pangan lokal bukan sekadar kebutuhan, tetapi juga merupakan identitas dan kebanggaan kita. Dengan memahami dan memanfaatkan produk lokal, kita berupaya memperkuat kedaulatan pangan," sambungnya.
Lebih lanjut, Hilmar menyampaikan pentingnya revitalisasi pengetahuan mengenai pangan lokal, karena jika pengetahuan tersebut diabaikan, maka hal itu bisa hilang selamanya. Dalam diskusi, beberapa aspek yang dibahas antara lain pengolahan benih, pengetahuan mengenai cara pengolahan sumber pangan, dan teknik penyajian setelah pengolahan.
Hilmar optimis bahwa apabila semua pihak bersinergi menjaga pangan lokal dan menjadikannya sebagai pilihan utama, program ini akan meluas dan menggema di seluruh NTT, dimulai dari Kabupaten Alor. "Saya juga merasa senang karena baik Pj Gubernur maupun Pj Bupati Alor menunjukkan komitmen untuk mempromosikan program ini, dan mereka berharap sebelum masa jabatan berakhir, program tersebut dapat diterapkan di seluruh wilayah NTT," tambahnya.
Kampung Adat Mata Lafang, yang hadir dalam dialog tersebut, dikenal sebagai tempat yang masih melestarikan nilai-nilai budaya yang luhur. Pj Bupati Alor, Sony Libing, menjelaskan bahwa saat ini di sekolah-sekolah di kabupaten tersebut telah mulai menerapkan konsumsi pangan lokal, yang sebelumnya berjalan di kantor pemerintahan sejak Januari 2024. "Inisiatif ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan pangan lokal kita. Meskipun kita tidak dapat menghilangkan konsumsi beras dari luar NTT, kita perlu menjamin agar pangan lokal tetap eksis dan menjadi pilihan utama bagi masyarakat," paparnya.
Sony juga menyoroti bahwa masih terdapat banyak masyarakat di Alor yang belum memahami nilai gizi dari makanan lokal jika dibandingkan dengan beras putih dan pilihan makanan lainnya. Dia mengakui perlunya peningkatan sosialisasi mengenai manfaat pangan lokal. "Ke depan, kami akan lebih gencar dalam mensosialisasikan tentang pentingnya pangan lokal untuk meningkatkan kesadaran masyarakat," tutupnya.
ANTARA
Kolaborasi Pj Gubernur dan Pj Bupati Alor untuk Pangan Lokal Berkelanjutan
Bagikan:

KUPANG –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Adam Alis Cetak Gol Penentu Kemenangan Persib atas Garudayaksa 2-1
Hujan Perdana Banjarbaru Diwarnai Pohon Tumbang Akibat Angin Kencang
Kebakaran Hebat Hanguskan 4 Rumah dan 1 Masjid di Kotim
Saingi China, Pabrik Mobil Jepang Pangkas Masa Pengembangan Model Baru
PDIP Dukung Revisi UU Peradilan Militer Pascaputusan MK
Pemerintah Luncurkan Program Pengawal Energi untuk 3.679 SPBU
Komentar (0)
Memuat komentar…







