**Borneonews - Sampit**, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Haji Asan di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, mengeluarkan peringatan kepada masyarakat untuk tetap waspada terhadap peningkatan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dalam beberapa hari terakhir, meskipun terjadi hujan, masih ada indikasi bahwa risiko kebakaran menjadi lebih tinggi.
Prakirawan BMKG Kotim, Suci Priatin Ningsih, mengungkapkan bahwa analisis yang dilakukan menunjukkan hampir seluruh area Kalimantan Tengah ditandai dengan warna merah pada peta potensi kebakaran. Warna merah ini menggambarkan kondisi yang sangat mudah terbakar. "Dalam beberapa hari ke depan, potensi untuk terjadinya karhutla cukup besar. Oleh karena itu, kami mengimbau kepada masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan dan aktivitas sejenisnya," tuturnya.
Masalah ini menjadi sangat krusial, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah gambut yang dikenal rawan terhadap kebakaran. Hal ini diperkuat oleh prakiraan cuaca yang menunjukkan kemungkinan cuaca cerah dan potensi kekeringan yang berlangsung selama tiga hari ke depan.
Selain itu, Suci juga menginformasikan bahwa pantauan titik panas atau *hotspot* menunjukkan adanya dua titik yang diduga merupakan hasil kegiatan pembakaran oleh manusia. Kedua titik tersebut terdeteksi di Desa Tumbang Manya, Kecamatan Antang Kalang, dan Desa Bagendang Tengah, Kecamatan Mentaya Hilir Utara.
"Dari segi tingkat kepercayaannya, kedua hotspot tersebut memiliki nilai delapan, yang termasuk dalam kategori medium. Ini berarti ada kemungkinan kebakaran yang terjadi. Mengingat sebelum ini kita mengalami hujan, sangat mungkin ada aktivitas pembakaran lahan," lanjutnya.
Ia menjelaskan bahwa meskipun dalam beberapa hari terakhir hujan turun, kondisi tersebut masih dianggap wajar karena musim kemarau tidak sepenuhnya bebas dari hujan. Curah hujan yang terjadi juga masih tergolong ringan. Saat ini, Kotawaringin Timur masih dalam fase musim kemarau yang diprediksi akan berlanjut hingga akhir September mendatang.
"Walaupun ada hujan beberapa hari terakhir, kita masih berada dalam musim kemarau. Hujan ini tidak menandakan bahwa musim hujan telah tiba. Kami memprediksi bahwa kondisi kemarau ini akan terus berlanjut hingga akhir dasarian III September," tambah Suci.
Dibandingkan dengan tahun lalu, kondisi kemarau saat ini diperkirakan lebih basah, yang sering disebut sebagai "Kemarau Basah" oleh masyarakat. Hal ini disebabkan oleh fenomena El Nino yang sebelumnya kuat dan telah berakhir, sementara sekarang Indonesia berada dalam kondisi netral yang menuju fenomena La Nina, yang berpotensi meningkatkan curah hujan.
Dengan demikian, BMKG mengingatkan agar masyarakat tetap waspada dan melaksanakan tindakan pencegahan guna menghindari kemungkinan terjadinya karhutla yang bisa berakibat fatal bagi lingkungan dan kesehatan.
ANTARA
BMKG Peringatkan Warga Terhadap Ancaman Karhutla di Kotim
Bagikan:

PALANGKARAYA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Gol Menit Akhir Dianulir VAR, Juventus Ditahan Rennes 2-2
Kompleks Pasar Tumbang Sanamang Katingan Ludes Terbakar, Kerugian Ditaksir Miliaran Rupiah
Kalteng Perlu Waspada Kekeringan hingga Awal 2027, BNPB Siapkan Mitigasi El Nino
Kabut Asap, Kecelakaan Menewaskan Dua Pengendara di Sudirman Km 9 Sampit
Menteri UMKM: Ojol Bisa Akses KUR untuk Beli Motor dan Modal Usaha
Akademisi Soroti Kemarau Panjang dan Lahan Gambut dalam Karhutla Kalteng
Komentar (0)
Memuat komentar…







