JAKARTA –
**Borneonews - Ankara**, Paus Fransiskus menyampaikan seruan kepada para pemilih Katolik di Amerika Serikat untuk memilih kandidat yang memiliki "keburukan yang lebih sedikit" dalam pemilu mendatang. Ia mengungkapkan pendapat bahwa baik mantan Presiden Donald Trump maupun Wakil Presiden Kamala Harris memiliki sikap yang bertentangan dengan nilai-nilai kehidupan. Paus menjelaskan pentingnya pertimbangan moral saat memilih, dengan menegaskan, "Anda harus memilih kejahatan yang lebih kecil. Siapa yang lebih sedikit keburukannya? Wanita itu, atau pria itu? Setiap individu perlu merenungkan hal ini dalam hati nurani masing-masing." Selama perbincangan dengan wartawan dalam penerbangan pulang dari kunjungan selama 12 hari di Asia Tenggara, Paus mengemukakan kritik terhadap kedua kandidat terkait kebijakan mereka soal imigrasi serta dukungan terhadap hak aborsi. Ini merupakan sebuah pernyataan politik yang cukup jarang terlontar dari dirinya. Dalam komentarnya, Paus menekankan bahwa "keduanya menentang kehidupan," merujuk pada kebijakan yang mengusir imigran serta praktik aborsi. Meski tidak menyebutkan nama secara langsung, kritik tersebut jelas ditujukan kepada Trump, yang telah berjanji untuk melakukan deportasi terhadap jutaan imigran jika terpilih kembali, dan Harris, yang dikenal sebagai pendukung hak aborsi yang vokal. Trump dikenal sebagai sosok yang anti-aborsi, sedangkan Harris mengusung kebijakan yang mendukung legalisasi jalur kewarganegaraan bagi imigran ilegal di AS, alih-alih melakukan deportasi secara massal. Paus juga menegaskan bahwa meskipun terdapat tantangan dalam memilih, sangat penting bagi para pemilih untuk mengambil bagian dalam proses demokrasi, dengan menyatakan bahwa "tidak memilih adalah hal buruk." Kunjungan Paus ke Asia Tenggara berakhir pada hari Jumat di Singapura sebelum ia kembali ke Roma. Selama dua pekan sebelumnya, ia juga mengunjungi beberapa negara, termasuk Timor Leste, Papua Nugini, dan Indonesia, yang menjadi salah satu lawatan internasional terpanjangnya sejak memimpin Gereja Katolik pada tahun 2013. ANTARA