BATAM –
**Borneonews - Natuna**, Pemerintah Kabupaten Natuna di Kepulauan Riau telah mengadakan sebuah festival literasi yang ditujukan untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD), dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat. Acara ini berlangsung di Gedung Sri Serindit, Kecamatan Bunguran Timur, pada hari ini sebagai bagian dari peringatan hari kunjung perpustakaan. Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Natuna, Erson Gempa Apriandi, menjelaskan bahwa dalam festival ini terdapat beberapa lomba yang mengangkat tema budaya lokal. Beberapa kompetisi yang dilaksanakan meliputi lomba menulis dongeng, lomba bercerita, serta lomba tari persembahan makan sirih. Festival literasi yang digelar kali ini merupakan yang kedua kalinya. Menurut Erson, pada edisi sebelumnya, jumlah jenis lomba yang diselenggarakan lebih banyak, namun kali ini hanya diadakan tiga lomba saja. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan waktu dan personel yang tersedia. Erson mengungkapkan bahwa tujuan dari lomba tari adalah untuk memastikan bahwa kesenian dan tarian daerah tetap terjaga serta dilaksanakan sesuai dengan standar adat yang telah ditetapkan. Sedangkan lomba bercerita bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak-anak, memperkaya kosakata, dan membantu mereka dalam membangun mental kepemimpinan. Lomba menulis cerita, di sisi lain, bertujuan untuk mengangkat karakter budaya lokal melalui tulisan sekaligus melatih kemampuan anak-anak dalam menulis. Dijelaskan lebih lanjut, tari melayu memiliki makna penting sebagai tarian penyambutan tamu. Oleh karena itu, penting untuk menjaga agar penampilan tari tetap sesuai dengan aturan yang telah disepakati oleh lembaga adat. Lomba bercerita juga diharapkan dapat meningkatkan literasi anak-anak dan melatih mental mereka, sedangkan lomba menulis diarahkan untuk mencetak penulis berbakat. Untuk dua jenis lomba, yaitu tari dan bercerita, para peserta akan berkompetisi sesuai dengan jenjang pendidikan mereka. Pemenang dari setiap lomba akan menerima hadiah berupa uang tunai, sertifikat, dan beberapa hadiah lainnya. Dalam lomba menulis, tidak ditetapkan kategori berdasarkan jenjang pendidikan, karena kemampuan menulis tidak selalu berbanding lurus dengan pendidikan formal. Erson menekankan bahwa seseorang dengan tingkat pendidikan tinggi belum tentu bisa menulis dengan baik, begitu pula sebaliknya. Sebelum pelaksanaan lomba, Erson juga menambahkan bahwa para guru, peserta, dan pelatih tari telah diberikan edukasi mengenai tari dan hal-hal lain yang berkaitan dengan lomba. Hal ini dilakukan agar semua pihak paham mengenai aturan yang berlaku dalam lomba. “Pembekalan ini penting agar peserta memahami standar yang telah ada, sehingga tidak melanggar aturan adat yang berlaku,” pungkas Erson. ANTARA