**Borneonews - Kalabahi, Alor**, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan dan Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta Masyarakat Adat, berhasil mendata sebanyak 582 objek pemajuan kebudayaan (OPK) di Kabupaten Alor yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pengumpulan data tersebut dilakukan dalam rangka program Sekolah Lapang Kearifan Lokal (*SLKL*) yang dilaksanakan antara bulan Juni hingga Agustus 2024.
Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid, dalam pernyataan di Kota Kalabahi, menjelaskan bahwa pelaksanaan *SLKL* melibatkan 20 pandu budaya dari lima pulau yang mencakup delapan desa di daerah tersebut. Kelima pulau yang terlibat dalam program ini adalah Pulau Alor, Pulau Pantar, Pulau Pura, Pulau Buaya, dan Pulau Ternate.
Dari total 582 OPK yang berhasil didata, rincian kategori OPK terdiri dari 60 tradisi lisan, dua manuskrip, 53 adat istiadat, 39 ritus, 200 pengetahuan tradisional, dan 104 teknologi tradisional. Selain itu, terdapat juga 54 OPK dalam kategori seni, 10 OPK bahasa, 43 OPK permainan rakyat, dan 17 OPK olahraga tradisional.
Hilmar menambahkan bahwa program *SLKL* merupakan langkah positif yang perlu dilanjutkan, agar tidak hanya masyarakat di NTT tetapi juga seluruh masyarakat dapat memahami dan memperoleh pengetahuan mendalam tentang kebudayaan setempat. Ia percaya, jika program ini berkelanjutan, akan banyak OPK yang bisa teridentifikasi, mengingat masyarakat merupakan sumber pengetahuan significant yang perlu direkam dan dilestarikan.
Sjamsul Hadi, yang menjabat sebagai Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat, juga mengungkapkan bahwa pada tahun 2024, program *SLKL* akan dilaksanakan di tiga kabupaten lainnya di NTT, yaitu Kabupaten Sikka, Kabupaten Flores Timur, dan Kabupaten Alor. Dia berharap bahwa data OPK yang telah dikumpulkan dapat mendukung upaya revitalisasi kebudayaan di daerah tersebut melalui penerapan *SLKL*.
Ia menjelaskan bahwa untuk merevitalisasi kebudayaan, diperlukan pemahaman terhadap keragaman budaya yang ada serta prioritas yang perlu diangkat. Diskusi dengan masyarakat setempat mengenai data budaya yang ada sangat penting untuk mengetahui mana yang sudah tidak aktif atau bahkan punah.
Menurutnya, pengetahuan mengenai budaya yang telah punah sering kali dimiliki oleh generasi tua yang menyimpan cerita-cerita berharga. Oleh karena itu, penting untuk mengolah cerita-cerita tersebut ke dalam bentuk revitalisasi agar budaya tersebut dapat dihidupkan kembali, asalkan masyarakat pendukungnya masih ada.
Sjamsul Hadi mengungkapkan harapannya agar program *SLKL* mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah, guna memastikan bahwa warisan budaya suatu daerah tidak akan hilang akibat perkembangan zaman yang cepat.
ANTARA
Pemajuan Kebudayaan di Alor, 582 Objek Didata Dalam SLKL
Bagikan:

KUPANG –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Distribusi Masih Jadi Hambatan, Industri Komik Indonesia Dinilai Punya Potensi Besar
Iran Ancam Gunakan Taktik Baru jika AS Kembali Lancarkan Serangan
OJK Kalteng Tekankan Manfaat Nyata Inklusi Keuangan bagi Kesejahteraan Masyarakat
Dokter Jadi Tersangka Dugaan Pencabulan terhadap Anak Kandung Berusia 4 Tahun
Dampak Karhutla bagi Kesehatan Bukan Hanya Gangguan Pernapasan
Karhutla Ancam Habitat Orangutan di Kalteng, Patroli dan Evakuasi Satwa Diperkuat
Komentar (0)
Memuat komentar…







