**Borneonews - Banda Aceh**, Mengenal sosok Cut Nyak Dhien, seringkali orang terfokus pada perannya sebagai pahlawan nasional yang lahir pada tahun 1848 dan berasal dari Aceh. Sementara itu, tidak banyak yang mengetahui bahwa dalam garis keturunannya juga tercatat adanya unsur budaya Minangkabau. Ini merupakan fakta menarik yang dapat ditemukan dalam silsilah keluarganya yang terpajang di Rumoh Tjut Nja' Dhien, yang terletak di Desa Lampisang, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh.
Menurut Asiah, yang menjabat sebagai juru pelihara di Museum Cut Nyak Dhien, informasi mengenai sosok yang bernama Makoedum Satibuyut Cut Nyak Dhienmasih belum dapat dipastikan. Namun, diketahui bahwa Makoedum Sati adalah seorang perempuan yang berasal dari Pagaruyuang, Kota Batusangkar, Sumatera Barat. Perempuan ini diketahui berangkat ke Tanah Aceh untuk menimba ilmu di pondok pesantren serta merantau. Dalam perjalanan hidupnya, Makoedum Sati bertemu dengan seorang lelaki Aceh dan terjalinlah cinta yang mengantarkan mereka ke pelaminan. Sayangnya, identitas sang suami tetap misteri dalam catatan sejarah.
Dari hasil pernikahan Makoedum Sati, lahir seorang putra yang dinamai Panglima Nanta Chik Setia Raja. Panglima ini kemudian menikahi seorang perempuan Aceh bernama Anak Bangsawan Teuku Nek Meuraxa. Dari pernikahan tersebut, lahir dua anak: Teuku Nanta Muda Setia dan Teuku Cut Mahmud. Teuku Nanta Muda Setia merupakan ayah dari Cut Nyak Dhien, sementara Teuku Cut Mahmud adalah ayah Teuku Umar. Di samping itu, ibu Cut Nyak Dhien dikenal sebagai Putri Bangsawan Lampageu, dan dia memiliki seorang saudara laki-laki bernama Teuku Rayeuk.
Sebelum menjalin pernikahan dengan Teuku Umar, Cut Nyak Dhien terlebih dahulu menikah dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga. Setelah suami pertamanya meninggal dunia, Cut Nyak Dhien melanjutkan hidup dan menikah kembali dengan Teuku Umar yang ternyata adalah sepupunya. Dari pernikahan mereka, lahir seorang putri yang diberi nama Cut Gambang. Putri ini kemudian melanjutkan generasi dengan menikah kepada Teuku Mayet Di Tiro, anak dari pahlawan nasional Teuku Cik Di Tiro.
Sementara itu, Hasbullah, seorang Pamong Budaya Ahli Muda di Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah I Provinsi Aceh, mengemukakan pandangannya yang berbeda tentang Makoedum Sati. Ia berpendapat bahwa Makoedum Sati adalah seorang laki-laki, meskipun ia sepakat bahwa asal usulnya tetap dari Minangkabau. Menurut literasinya, Makoedum Sati datang ke Aceh pada abad ke-18, di masa pemerintahan Sultan Jamalul Alam Barul Munir (17111733 M), dengan latar belakang kabar mengenai keberadaan sumber emas di ujung Pulau Sumatera. Makoedum berlayar menggunakan 12 perahu menuju Tanah Aceh, mendarat di Pantai Pasir Karam.
Ketika tiba di Aceh, Makoedum Sati mendapati bahwa pasukan Aceh tengah berperang melawan tentara Mantir yang belum menganut agama Islam. Dalam pertempuran itu, Makoedum Sati mengambil inisiatif untuk membantu tentara Aceh meski jumlah mereka lebih sedikit. Bantuan yang diberikan Makoedum berhasil membalikkan keadaan, dan atas jasa baiknya, pasukan Aceh memberikan Makoedum tanah yang sebelumnya dihuni oleh pasukan Mantir.
Ia memanfaatkan tanah yang diberikan untuk bertani, dan dalam waktu singkat, Makoedum bersama pengikutnya berhasil mencapai kemakmuran dan menyatakan kesetiaannya kepada Sultan Aceh. Kemudian, Makoedum Sati pindah ke muara Sungai Woyla yang terletak di perbatasan daerah Pidie dan kembali membuka sawah serta ladang untuk perdagangan.
Kabar tentang kemakmuran Makoedum sampai ke telinga Sultan Jamalul Alam yang kemudian meminta upeti. Namun, Makoedum menolak tegas. Penolakan ini disusul oleh tindakan Makoedum yang memberikan besi tua yang berkarat sebagai bentuk protes, yang membuat Sultan marah dan memutuskan untuk menyerangnya. Pertempuran tersebut berujung pada penangkapan Makoedum, yang kemudian disiksa tetapi tetap hidup karena ia dipercaya memiliki ilmu yang dapat menyejukkan besi panas.
Kemudian, Sultan Jamalul Alam memutuskan untuk memberi Makoedum kesempatan kedua, dengan syarat untuk mengabdi sebagai hamba setia.
Rumoh Tjut Nja' Dhien atau Museum Cut Nyak Dhien merupakan bangunan yang dibangun pertama kali pada tahun 1893 oleh pemerintah Hindia Belanda, yang saat itu merasa berterima kasih kepada Teuku Umar karena kerjasama di antara mereka. Namun, pada tahun 1896, tiga tahun setelah dibangun, Belanda membakar rumah tersebut karena menyadari bahwa Teuku Umar hanya memanfaatkan mereka untuk mendapatkan senjata guna melawan penjajah.
Rumah tersebut kemudian dibangun kembali oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1981 hingga 1982, dan dibuka untuk umum pada tahun 1987. Resmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Fuad Hassan, rumuh ini menjadi saksi bisu perjuangan Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar dalam melawan penjajah.
Museum ini menyimpan berbagai jejak sejarah, termasuk foto-foto bersejarah yang menunjukkan perlawanan rakyat Aceh terhadap penjajah, serta potret-perpotret perjuangan Cut Nyak Dhien dan masyarakat Aceh. Asiah menjelaskan bahwa salah satu foto yang cukup kontroversial adalah gambar Cut Nyak Dhien tanpa hijab, yang ia sebut sebagai manipulasi oleh pihak Belanda untuk mengaburkan fakta sejarah.
Salah satu pengunjung museum tersebut, Achmad Syamsudin dari Palembang, Sumatera Selatan, mengungkapkan kekagumannya setelah menyaksikan langsung perjuangan Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar. Ia mendorong generasi muda untuk meneladani semangat perjuangan mereka dan meneruskan warisan nilai-nilai nasionalisme yang telah ditanamkan.
"Perjuangan Cut Nyak Dhien perlu terus kita syiarkan kepada generasi mendatang," serunya, menekankan betapa pentingnya untuk membagikan kisah inspiratif ini kepada generasi selanjutnya.
ANTARA
Mengenal Silsilah Cut Nyak Dhien, Pahlawan Berdarah Minangkabau
Bagikan:

PADANG –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Kemenperin Bidik Industri Animasi Perluas Penyerapan Tenaga Kerja
Wamenekraf Ajak Pelaku Ekraf Daerah Bidik Pasar Lebih Luas
Gempa Magnitudo 7,0 Guncang Ogasawara Jepang
MotoGP Australia 2026 Dibatalkan Menyusul Moto2 dan Moto3
Kabid Humas Polda Kalteng Imbau Waspada Pinjaman Online Ilegal
Atletico Madrid Menang Tipis 1-0 atas Deportivo Coruna
Komentar (0)
Memuat komentar…







