SURABAYA –
**Borneonews - Ngawi**, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Ngawi, yang terletak di Jawa Timur, telah melakukan langkah proaktif untuk membantu petani milenial dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam meningkatkan keterampilan pasca-panen. Fokus utama dari kegiatan ini adalah pengemasan dan penanganan pasca-panen pada komoditas buah dan sayur, yang bertujuan untuk menambah nilai ekonomi dari produk-produk tersebut. Hendro Budi Suryawan, selaku Kepala Bidang Perkebunan dan Hortikultura DKPP Ngawi, menjelaskan saat ditemui di Ngawi bahwa proses pasca-panen sangat krusial dalam pertanian. Penanganan yang tepat dapat menjadi penentu utama peningkatan harga jual saat produk sampai ke konsumen. Beberapa elemen penting dalam penanganan pasca-panen mencakup pembersihan dari kotoran, pemisahan dengan metode *grading*, serta pengemasan yang baik. Tingkat keterampilan dalam menangani hasilpanen hortikultura setelah panen diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan daya saing produk, terutama dalam hal pengolahan dan pengemasan buah serta sayuran. Selain itu, petani dan pelaku UMKM juga didorong untuk mengolah hasil panen mereka menjadi produk yang lebih menarik dan tahan lama. Hal ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap nilai jual komoditas yang dihasilkan. Hendro menambahkan, fasilitasi yang dilakukan dalam pelatihan keterampilan pengemasan bertujuan untuk mengenalkan teknik pengolahan yang dapat meningkatkan nilai jual produk serta memperkuat kompetensi para petani dan pelaku usaha dalam bidang ini. Menurut data yang diperoleh dari DKPP Ngawi, ada banyak komoditas yang saat ini sedang dikembangkan oleh para petani hortikultura di daerah tersebut. Beberapa komoditas tersebut meliputi cabai merah besar, cabai rawit, bawang merah, melon, alpukat, durian, jeruk besar, dan jambu biji. Pada tahun 2023, cabai merah besar telah ditanam di lahan seluas 1.017 hektare dengan total produksi mencapai 8.821 kuintal. Diikuti dengan cabai rawit yang ditanam di area seluas 339 hektare dengan hasil sekitar 6.230,13 kuintal, serta bawang merah yang ditanam di 494 hektare menghasilkan 700 kuintal. Melon juga menjadi salah satu komoditas menjadi pilihan dengan penanaman di lahan seluas 341 hektare dan memproduksi 28.326 kuintal. Alpukat ditanam pada populasi 18.134 pohon dengan total produksi mencapai 536,7 kuintal, sementara durian yang memproduksi sebanyak 157,66 kuintal berasal dari 10.305 pohon yang ada. Selain itu, terdapat 12.397 pohon jeruk besar yang menghasilkan 8.602,1 kuintal dan 26.414 pohon jambu biji yang mencapai produksi 86.795,68 kuintal. Melalui penanganan pasca-panen yang optimal, harapannya adalah untuk mempertahankan kualitas buah dan sayur. Beberapa aspek yang penting, seperti tampilan, tekstur, rasa, dan nilai gizi, menjadi fokus untuk menjaga keamanan pangan. Dengan demikian, diharapkan kerugian yang terjadi antara panen dan konsumsi dapat diminimalisir dan nilai jual produk pun dapat meningkat. ANTARA