BOGOR –
**Borneonews - Bogor**, Pemerintah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), berkomitmen untuk memperkuat identitas budaya lokal di kawasan wisata Puncak. Wilayah ini dikenal sebagai magnet wisata bagi pengunjung baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Kepala Disbudpar Kabupaten Bogor, Yudi Santosa, menjelaskan bahwa berbagai pertunjukan seni dan budaya asli daerah telah dipersiapkan untuk meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Puncak. Ia menegaskan bahwa saat ini merupakan tahap optimalisasi kawasan wisata tersebut, dengan fokus pada penciptaan lingkungan wisata yang berkelanjutan, yang juga menjadi titik perhatian di Rest Area Gunung Mas Puncak. Sebagai bagian dari upaya peningkatan kunjungan wisata, Disbudpar telah merencanakan serangkaian acara yang menyuguhkan tema besar "Wonderful Puncak". Rangkaian kegiatan tersebut meliputi Harmony of Bogor yang dijadwalkan pada 27-28 September, Puncak Fashion Week & West Java Folklore pada 11-12 Oktober, dan Suasana Rest Area Puncak pada 25 Oktober. Selain itu, ada juga acara Santap Mantap pada 8-9 November, Festival Tari Bogor pada 22-23 November, Flashmob Pencak Silat pada 6-7 Desember, Puncak Art Passion & Creative Market pada 20-21 Desember, serta Puncak Fest yang akan berlangsung pada 31 Desember. Yudi juga menambahkan bahwa dalam beberapa acara ini, akan terdapat pertunjukan yang melibatkan 100 orang memainkan *angklung*, kompetisi band, serta lomba memasak nasi goreng yang diikuti oleh kepala daerah. Penjabat Bupati Bogor, Asmawa Tosepu, sebelumnya mengungkapkan bahwa dalam upaya pengembangan pariwisata yang berkelanjutan, pemerintah tidak hanya fokus pada pelestarian lingkungan dan mitigasi bencana, tetapi juga berupaya memaksimalkan keterlibatan pelaku seni dan budaya di kawasan Puncak. Ia menegaskan pentingnya kawasan wisata Puncak untuk mencerminkan identitas lokal, baik dari segi visual maupun dalam kegiatan budaya yang dilaksanakan di destinasi tersebut. Penataan kawasan Puncak meliputi berbagai aspek, mulai dari pengelolaan lahan, pelibatan masyarakat lokal, hingga pengembangan model pariwisata yang berkelanjutan. Asmawa menekankan perlunya penataan akses dan optimalisasi potensi wisata. Sejak menjabat, Asmawa Tosepu juga telah merelokasi 525 pedagang liar di sepanjang jalur menuju Rest Area Puncak sebagai bagian dari adalah upaya penertiban kawasan. Tahap pertama penertiban ini melibatkan pembongkaran 329 bangunan yang berada di sepanjang jalur Puncak, dari area Gantole hingga Rest Area Gunung Mas, termasuk bangunan di sekitar Simpang Taman Safari Indonesia. Rest Area Gunung Mas yang berdiri di atas lahan seluas 7 hektare milik PT Perkebunan Nusantara kini mampu menampung hingga 516 kios. Dari jumlah tersebut, 100 kios disediakan untuk pedagang sayur dan buah, sementara 416 kios lainnya dialokasikan untuk pedagang oleh-oleh dan makanan ringan, dengan masing-masing kios memiliki luas 11 meter persegi. Ke depannya, Pemerintah Kabupaten Bogor berencana untuk mengintegrasikan unsur budaya dalam pengembangan pariwisata di Puncak. Asmawa telah memberikan instruksi kepada Disbudpar Kabupaten Bogor untuk memastikan bahwa budaya lokal menjadi bagian integral dari kawasan ini. "Langkah ini melibatkan para pelaku seni, ekonomi kreatif, dan kelompok masyarakat sadar wisata (*Pokdarwis*) untuk berkolaborasi dalam mempromosikan budaya lokal," ungkap Asmawa. ANTARA