BORNEONEWS, Palangka Raya - Setelah check up pada Kamis, (28/7/2016), seharusnya Rakawindra Dwi Putra, bayi pengidap penyakit atresia bilier atau saluran empedu tidak terbentuk sempurna alias buntu sudah berangkat ke Jakarta, Sabtu (30/7/2016). Menurut nenek dan Ibundanya, bayi Raka dipindah rujukan dari RS. DR. Sutomo Surabaya ke RSCM Jakarta.

"Harusnya hari ini Raka sudah harus ke Jakarta tapi setelah check up kemarn, berat badan Raka turun ke 8,4 Kg. Dari hasil THT (Telinga, Hidung, Tenggorokan) juga diketahui ada infeksi di bagian telinga, dan batuk yang juga diderita Raka," ungkap Doby Rifadi, seorang Inisiator pengumpulan dana bagi bayi Raka dari Kopi Jos Palangka Raya.

Pengecekan THT ini dilakukan agar ketika berangkat ke Jakarta, keadaan Raka bisa stabil dan di pesawat juga tetap aman jikalau infeksi ditelinga sudah sembuh.

"Tapi berdasarkan arahan dokter, Raka harus istirahat dulu, 5 hari lagi check up kembali. Kalau kondisinya sudah stabil maka akan langsung berangkat ke Jakarta," tambahnya.

Seperti ramai diberitakan selama ini, kondisi bayi Raka kian hari kian memprihatinkan. Kedua orang tuanya hanya bisa pasrah dan tawakal melihat kondisi anak keduanya itu. Pengobatan demi pengobatanpun dijalani dengan harapan agar buah hati mereka bisa sembuh.

Saat ini, orang tua Raka menumpang tinggal di rumah saudaranya di Jalan Rajawali VI Blok 2 No 5 Palangka Raya. Mirisnya, kedua orang tuanya ini juga belum memiliki pekerjaan tetap. Untuk kebutuhan sehari-hari, mereka hanya mengandalkan bantuan keluarga dekatnya.

Yuliana ibu dari bayi Raka menceritakan, anaknya baru terlihat gejala sakit ini ketika menginjak usia tiga bulan sampai sekarang. Merekapun sudah membawanya berobat ke Banjarmasin. Menurut dokter yang ada di Banjarmasin, anaknya harus segera dirujuk ke rumah sakit yang bisa melaksanakan transplantasi hati. Karena biayanya tidak sedikit, akhirnya pihak keluarga hanya bisa pasrah.

"Waktu rujukan hanya berlaku satu bulan. Biaya pengobatan ditaksir sekitar Rp900 juta hingga Rp1 miliar, ujar dokter. Sedangkan BPJS hanya menanggung biaya sebesar Rp250 juta saja," tutur Yuliana.

Secara medis, penyakit Atresia Bilier merupakan suatu kondisi di mana tidak terbentuknya saluran empedu dengan sempurna pada tubuh. Penyakit itu bisa terjadi pada saluran empedu yang ada di dalam maupun di luar liver/hati. Kondisi ini menyebabkan tidak mengalirnya empedu ke usus 12 jari sebagaimana mestinya. Sehingga, cairan empedu yang terus diproduksi akan menumpuk di area liver/hati.

Sementara di Indonesia, rumah sakit yang bisa melakukan tindakan medis ini hanya ada di empat kota, antara lain Jakarta, Surabaya, Semarang dan Jogjakarta.  (TESTI PRISCILLA/m)