PEKANBARU –
**Borneonews - Pekanbaru**, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Riau berencana untuk mengembangkan dua inovasi guna menjawab keluhan yang diajukan oleh para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) terkait budidaya jamur, yaitu Jamur Betuah dan Jamur Jati Mandiri, yang beroperasi di Kota Pekanbaru. Melalui pernyataan Ketua Tim Pelaksana, Prof. Dr. Padil, dijelaskan bahwa dua keluhan utama telah disampaikan oleh pengusaha jamur. Pertama, mereka mengharapkan perbaikan kualitas jamur tiram yang sering kali berwarna kuning dan memiliki tekstur yang keras. Kedua, tantangan yang dihadapi terkait limbah media tumbuh jamur tiram yang berupa *baglog*, yang tidak hanya sulit untuk dikelola tetapi juga berpotensi menyebabkan pencemaran lingkungan. Menanggapi masalah ini, LPPM Universitas Riau, dengan melibatkan para dosen dari berbagai disiplin ilmu, tengah menganalisis dan merancang dua solusi inovasi yang diharapkan dapat mengatasi persoalan tersebut. Prof. Dr. Padil mengungkapkan bahwa hasil diskusi antara dosen-dosen yang memiliki keahlian di bidang Teknik Kimia, Teknik Elektro, Teknik Mesin, serta Agroteknologi Pertanian menunjukkan bahwa salah satu penyebab utama jamur tiram menguning dan mengeras adalah ketidakstabilan suhu dan kelembaban yang terjadi di Pekanbaru. “Jika suhu terlalu tinggi dan kelembaban rendah, pertumbuhan jamur tiram akan terpengaruh, sehingga menghasilkan jamur yang keras dan berwarna kuning,” tuturnya. Sebagai langkah konkret, sejumlah dosen dari Universitas Riau, termasuk Prof. Dr. Padil ST MT dari Teknik Kimia, Dr. Febrizal ST MT dari Teknik Elektro, serta beberapa anggota tim lainnya dari berbagai disiplin, berkolaborasi untuk menerapkan teknologi *Internet of Things* (IoT). Teknologi ini bertujuan untuk memantau dan mengatur kondisi suhu serta kelembaban yang optimal dalam budidaya jamur sehingga sesuai dengan kebutuhan pertumbuhannya. Di sisi lain, terkait dengan limbah baglog, tim ini juga akan mengembangkan teknologi untuk pengolahan limbah tersebut. Proses dimulai dengan pengadaan alat yang dapat menghancurkan limbah baglog, yang setelah dihancurkan, akan diolah menjadi kompos. Kegiatan pengembangan alat tersebut direncanakan akan dilaksanakan di lokasi UMKM Jamur Betuah dan UMKM Jati Mandiri di Kelurahan Airputih, Kota Pekanbaru. Pendanaan untuk proyek ini akan berasal dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, dengan durasi pelaksanaan selama tiga tahun ke depan. ANTARA