**Borneonews - Banda Aceh**, Tiga peselancar dari berbagai kontingen, yakni Rizky Eka dari Jawa Timur, Hairel Oney dari Nusa Tenggara Barat, dan Raju Sena Seran dari Nusa Tenggara Timur, memutuskan untuk mengunjungi PLTD Apung di Banda Aceh selama masa libur pertandingan *Pekan Olahraga Nasional* (PON) XXI 2024. Pilihan ini didasarkan pada rekomendasi destinasi wisata yang mereka temui di platform pencarian internet.
Bagi Rizky Eka, rasa ingin tahunya mengenai sisa-sisa bangkai kapal yang terbawa oleh tsunami yang melanda Aceh nyaris dua dekade lalu mendorongnya untuk berkunjung. Ia mengungkapkan, "Saya ingin merasakan suasana berbeda, selain melihat pantai, monumen seperti ini sangat menarik untuk dieksplorasi, apalagi saat berada di Aceh."
Kunjungan Rizky, Hairel, dan Raju ke PLTD Apung terbukti sangat bermanfaat. Di sana, mereka diberi kesempatan untuk belajar tentang semangat ketahanan warga Aceh dalam menghadapi bencana dahsyat yang pernah terjadi hampir 20 tahun silam.
### PLTD Apung, Saksi Sejarah Tsunami
PLTD Apung, yang juga dikenal dengan nama *Kapal Apung*, terletak di Punge Blang Cut, Jaya Baru, Banda Aceh. Kapal ini memiliki luas 1.900 meter dan panjang 63 meter, sebelumnya difungsikan sebagai pembangkit listrik dengan kapasitas daya mencapai 10,5 megawatt. Dengan bobot mencapai 2.600 ton, kapal ini pada awalnya ditambatkan di Pelabuhan Ulee Lheve. Namun, pada tragedi tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004, kapal tersebut terseret sejauh 5 km hingga terdampar di pusat kota Banda Aceh.
Dalam catatan yang dapat ditemukan di Museum PLTD Apung, kapal tersebut dibuat di Batam pada 15 Oktober 1996 dan mengalami tiga kali hantaman gelombang tsunami selama bencana Aceh. Gelombang pertama dan kedua menghantam saat kapal berlabuh di pelabuhan, sementara gelombang ketiga datang dari arah Syiah Kuala.
Karena bobot kapalnya yang berat, pihak berwenang memilih untuk tidak menarik kembali PLTD Apung ke pelabuhan dan membiarkannya dalam perawatan. Akhirnya, pada 21 Juni 2010, PLN memutuskan untuk mengkonservasi kapal ini dan menjadikannya sebagai museum yang menyimpan sejarah tsunami Aceh serta berfungsi sebagai pusat edukasi mitigasi bencana.
Mesin listrik yang sebelumnya masih berfungsi, dengan daya 10 megawatt, kini dipindahkan ke PTD Leungbata. Iin Muhaira, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Banda Aceh, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan revitalisasi museum termasuk pengecatan ulang semua area kapal pada tahun 2020, di saat pandemi COVID-19 berlangsung, ketika destinasi wisata ditutup.
Di dalam kapal kini tersaji berbagai informasi mengenai sejarah tsunami di Aceh, serta upaya-upaya pencegahan bencana yang dapat diakses oleh pengunjung. Di area luar, terdapat monumen yang didirikan untuk mengenang para korban tsunami, lengkap dengan nama-nama dan tanggal kejadian yang terjadi di berbagai negara. Dinding sekeliling monumen dihiasi relief yang menggambarkan gelombang air bah.
Pengunjung juga diberikan kesempatan untuk mengakses atap kapal, dari mana mereka bisa menikmati pemandangan panorama Gunung Leuser yang bisa dijangkau mulai pukul 09.00 hingga 17.00 WIB.
Dengan hadirnya museum PLTD Apung, potensi pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis sejarah semakin terbuka. Iin Muhaira menyatakan bahwa museum ini telah mengubah wajah Banda Aceh, yang sebelumnya identik dengan wisata religi, kini juga bertransformasi menjadi tujuan edukasi sejarah.
"Keberadaan PLTD Apung menambah daya tarik wisata edukasi tsunami di Banda Aceh, di mana keberadaan museum tsunaminya menjadi daya tarik tersendiri. Dengan begitu, Banda Aceh tidak hanya dikenal sebagai destinasi religi, tetapi juga sebagai pusat edukasi bencana alam," imbuhnya.
### Peningkatan Kunjungan Wisatawan Selama PON Aceh-Sumut 2024
Selama penyelenggaraan PON Aceh-Sumut 2024, PLTD Apung mencatatkan peningkatan jumlah pengunjung yang signifikan, mirip dengan saat hari libur lebaran. Mayoritas pengunjung terdiri dari atlet, ofisial, dan wisatawan mancanegara yang berkeinginan mengetahui lebih jauh mengenai sejarah tsunami Aceh.
Sebagai upaya meningkatkan pelayanan selama PON, Dinas Pariwisata Banda Aceh telah menerapkan sistem tiket elektronik untuk pengunjung. Setiap pengunjung dikenakan biaya sebesar tiga ribu Rupiah, sementara anak-anak dibebaskan dari biaya masuk.
"Implementasi tiket elektronik ini bertujuan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Banda Aceh. Namun, kami tetap fokus pada pelayanan terbaik untuk para wisatawan, termasuk menyempurnakan informasi mengenai *storytelling* terkait PLTD Apung," jelas Iin Muhaira.
Momen PON Aceh-Sumut 2024 ini dimanfaatkan untuk mempromosikan berbagai destinasi wisata edukasi sejarah di Aceh. Salah satunya, Nike Taime, seorang wasit dari cabang rugby, mengungkapkan ketertarikan untuk mengunjungi PLTD Apung setelah mendengar penjelasan dari pengemudi ojek online mengenai kapal yang terseret hingga ke pusat kota.
"Saya sangat tertarik dengan berbagai tempat wisata ini. Ini bisa menjadi destinasi yang sangat menarik bagi masyarakat sekitar, tak sabar untuk mengunjungi," ungkap Nike Taime penuh semangat.
ANTARA
Kunjungan Wisatawan ke PLTD Apung: Belajar Sejarah Tsunami Aceh
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
DPKP Kotim Serahkan STD-B kepada Desa Bukit Indah, Data Pekebun Sawit Swadaya Diperkuat
Bobon Santoso Sajikan 3.000 Porsi Makanan untuk Petugas dan Warga Terdampak Karhutla di Tumbang Nusa
Jejak Kreativitas Penulis Kalteng Terabadikan dalam Buku Jejak Tutur di Punggung Aksara
Puncak BIK 2026 di Kobar, Pemkab Dorong Akses Keuangan Menjangkau UMKM hingga Desa
Gubernur Kalteng Ajak Tokoh Agama Perkuat Pesan Perdamaian
Korban Karhutla Bromo Kembali Meninggal Dunia di RSUD Dr Soetomo
Komentar (0)
Memuat komentar…







