**Borneonews - Beijing**, Peribahasa Indonesia yang terkenal, "berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian," memiliki padanan dalam bahasa Mandarin yaitu ???? (*k?jìn-g?nlái*), yang berarti setelah mengalami kesulitan, kebahagiaan akan menghampiri. Ungkapan ini sering menjadi inspirasi bagi Hendy Yuniarto, seorang pakar bahasa dan dosen Bahasa Indonesia di *Schools of Asian Studies* yang terletak di Beijing Foreign Studies University (BFSU), China.
Hendy, yang lahir di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, telah mengajar Bahasa Indonesia di BFSU sejak 2015. Dalam perannya, Hendy bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai penutur asli yang membawa nuansa dan konteks budaya Indonesia kepada para mahasiswa di universitas tersebut.
"Saya menjadi salah satu dari sedikit pakar asing Bahasa Indonesia di China. Sebelumnya, pada tahun 1960-an, ada Sobron Aidit, yang merupakan adik dari Ketua Partai Komunis Indonesia, DN Aidit," jelas Hendy saat ditemui di Beijing. Ia menjelaskan bahwa perannya tidak sekadar mengajari, tetapi juga melakukan penelitian dan mengembangkan materi ajar, mengingat sumber buku ajar untuk bahasa minor, termasuk Bahasa Indonesia, di China masih sangat terbatas.
Hendy melalui pendidikan formalnya di Yogyakarta telah mendapatkan gelar sarjana di jurusan Sastra Jawa dari Universitas Gadjah Mada dan melanjutkan studi S-2 di bidang Linguistik di universitas yang sama. Saat ini, ia masih terdaftar sebagai mahasiswa program doktoral di bidang yang sama. Setelah menyelesaikan gelar S-2 pada tahun 2013, Hendy sempat mengajar di Universitas Balikpapan serta bekerja sebagai jurnalis *freelance*.
Ketika mendaftar di BFSU, Hendy harus menghadapi tantangan baru, termasuk belajar bahasa Mandarin. Meskipun ia pernah mengambil kelas privat bahasa Mandarin sebelum berangkat ke China, ia tetap mengikuti kelas di BFSU hingga 2018. Hendy memiliki kecintaan terhadap bahasa, sehingga ia merasa tertantang untuk terus mengembangkan kemampuan berbahasa Mandarinnya.
Seiring dengan tantangan bahasa, Hendy juga menghadapi berbagai aspek budaya baru. Sebagai seorang Muslim, ia harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan dan makanan yang berlainan. Beruntung, BFSU menyediakan kantin halal, dan ia dapat tinggal di apartemen di lingkungan kampus.
Hendy menjelaskan bahwa perbedaan signifikan juga terlihat dalam tugas dosen. Di Indonesia, tugas dosen tercakup dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, sedangkan di China lebih fokus pada pengajaran dan penelitian. "Tugas utama saya di sini memang mengajar," ujarnya.
Saat ini, terdapat 27 mahasiswa yang mengambil jurusan Bahasa Indonesia di BFSU, dengan pengaturan penerimaan peserta didik yang dilakukan setiap dua tahun. Kebijakan ini diterapkan untuk meningkatkan kualitas lulusan yang akan memasuki pasar kerja. Di BFSU, jurusan Bahasa Indonesia diampu oleh empat dosen, termasuk Hendy, dan tiga dosen lainnya merupakan dosen lokal yang memiliki pendidikan tinggi di Indonesia.
Hendy dan tim di BFSU berupaya mengenalkan karya sastra Indonesia modern kepada para mahasiswa, termasuk novel-novel terkenal serta sejarah Indonesia. Meski demikian, fokus utama tetap pada penguasaan bahasa Indonesia.
Dalam hal penelitian, Hendy bertugas menulis buku ajar dan merangkum karya sastra Indonesia untuk publikasi yang berkaitan dengan literatur yang berpengaruh. Setiap tahun, BFSU menerbitkan buku yang memaparkan karya-karya sastra dari berbagai negara yang bahasanya diajarkan, dan Hendy berkontribusi dalam merangkum literatur dari Indonesia.
Kegiatan pembelajaran di BFSU juga mencakup praktik budaya Indonesia, seperti membatik, menari, dan bermain alat musik angklung dengan melibatkan dosen tamu. Hendy juga mencatat tren positif, di mana minat masyarakat China untuk mempelajari Bahasa Indonesia semakin meningkat. Tahun 2022, tercatat 19 program studi Bahasa Indonesia di berbagai universitas di China dan penambahan pusat studi Bahasa Indonesia di berbagai perguruan tinggi.
Melihat tren relasi ekonomi dan budaya yang semakin erat antara Indonesia dan China, minat untuk belajar bahasa Indonesia pun meningkat, termasuk di BFSU. Hendy mencatat bahwa sebelumnya, jurusan Bahasa Indonesia bukan pilihan utama mahasiswa yang baru masuk ke BFSU. Namun, dengan meningkatnya sehingga mereka kini lebih memahami pentingnya bahasa Indonesia di pasar kerja.
Dengan antusiasme mahasiswa yang lebih tinggi, Hendy merasa bangga dapat mentransfer ilmu yang dimilikinya serta memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat Tiongkok. Lulusan jurusan Bahasa Indonesia dari BFSU kini banyak tersebar di berbagai lembaga pemerintah dan swasta, termasuk Kementerian Luar Negeri China dan media massa.
Hendy juga aktif dalam Asosiasi Dosen Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing yang beranggotakan dosen dari berbagai negara, termasuk China. Melalui asosiasi ini, berbagai kegiatan seperti seminar dan pelatihan diadakan untuk meningkatkan kualitas pengajaran Bahasa Indonesia.
Selain itu, Hendy berharap agar lebih banyak materi ajar Bahasa Indonesia dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin untuk mendukung pengajaran. Ia juga ingin mendorong penelitian mengenai sejarah dan budaya Indonesia untuk memberikan pemahaman yang lebih objektif di kalangan masyarakat China.
Hendy melihat menjadi pengajar Bahasa Indonesia di luar negeri sebagai pengalaman berharga, di mana ia tidak hanya dapat berbagi ilmu tetapi juga meningkatkan keahlian berbahasa. Saat ini, Hendy telah memperbarui kontraknya di BFSU hingga 2026 dan berkeinginan untuk terus mengajar bahkan lebih jauh lagi.
Di tengah kesibukannya, Hendy juga terlibat dalam pembuatan video untuk organisasi China International Communications Group (CICG) guna menunjukkan keragaman budaya China. Salah satu mahasiswanya, Lintang, yang kini memasuki semester tujuh, juga menilai bahwa belajar Bahasa Indonesia membawanya kepada pengalaman yang berharga dan membuka peluang baru.
Hendy berharap pengalaman yang dijalani, baik oleh dirinya maupun Lintang, dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain. Dengan semangat yang tinggi dan dedikasi, baik untuk belajar maupun mengajar, menjadikan perjalanan bahasa dan budaya ini sangat penuh arti.
ANTARA
Pakar Bahasa Indonesia di Beijing, Mendorong Minat Belajar Bahasa
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
RI-Rusia Jajaki Transfer Teknologi Tingkatkan Pengawasan Obat-makanan
Wakil Bupati Gumas Ajak Kawal Investasi untuk Kesejahteraan dan Keadilan Masyarakat
Janice Tjen dan Storm Hunter Juara Ganda Putri Japan Open 2026
Pekab Gumas Bagikan Bantuan Bibit Cabai hingga Tomat untuk Masyarakat
Dua Gol Nicolas Jackson bawa Aston Villa Tekuk Man City 2-1
Ikut Manugal, Wakil Bupati Gumas Ajak Masyarakat Manfaatkan Lahan
Komentar (0)
Memuat komentar…







