PALU –
**Borneonews - Palu**, Gubernur Sulawesi Tengah, Rusdy Mastura, mengungkapkan bahwa pembangunan kawasan industri Neo Energy Morowali Industrial Estate (NEMIE) di Kabupaten Morowali merupakan langkah inovatif dalam mengembangkan industri yang berkelanjutan di wilayahnya. Kawasan ini ditujukan untuk menjadi pusat industri yang mengedepankan teknologi ramah lingkungan. Menurutnya, proyek ini bukan hanya sekadar pembangunan fisik, tetapi merupakan momentum penting yang berpotensi besar untuk memengaruhi perekonomian daerah, terutama Sulawesi Tengah dan Morowali. Ia menekankan, proyek ini akan memberikan dampak positif bagi masyarakat melalui konsep hilirisasi yang berorientasi pada keberlanjutan dan kepedulian lingkungan. Dalam acara peletakan batu pertama untuk proyek *High-Pressure Acid Leaching (HPAL)* Neo Energy di kawasan NEMIE, yang berlangsung di Desa Buleleng, Kecamatan Bungku Pesisir, Kabupaten Morowali, Rusdy menyatakan komitmennya untuk memastikan bahwa semua investasi yang masuk ke wilayah tersebut dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat sekitar serta mematuhi prinsip-prinsip ramah lingkungan. Gubernur juga menyampaikan pentingnya kolaborasi yang erat antara berbagai pihak, termasuk pemerintah, perusahaan, lembaga pendidikan, serta komunitas lokal. Ia mengajak semua elemen untuk bersatu dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan sekaligus mengoptimalkan potensi industri untuk mencapai cita-cita Indonesia Emas 2045, dimulai dari Provinsi Sulawesi Tengah. Lebih lanjut, Rusdy menggarisbawahi bahwa proyek pembangunan kawasan industri ini merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN). Dalam konteks ini, Neo Energy telah memulai realisasi investasi dengan mendirikan smelter HPAL pertama di Indonesia yang sepenuhnya memanfaatkan energi terbarukan. Smelter tersebut dirancang untuk mengolah bijih nikel atau limonite menjadi *mixed hydroxide precipitate* (MHP), yang akan digunakan sebagai bahan baku untuk katoda baterai kendaraan listrik (*electric vehicle*). Proyek ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi MHP Indonesia sebanyak 120 ribu metrik ton per tahun. Kawasan industri NEMIE sendiri direncanakan sebagai pusat pengolahan mineral yang berbasis pada energi hijau. Seluruh operasional di kawasan ini akan didukung oleh sumber energi terbarukan, termasuk tenaga air dan energi surya. Pendekatan ini diharapkan dapat menjadikan NEMIE sebagai model praktik industri yang ramah lingkungan di Indonesia. Sebagai langkah awal, Kawasan Industri NEMIE telah memperoleh izin usaha kawasan industri (IUKI) pada Agustus 2024, yang memberikan kepastian hukum dan memberikan keyakinan bagi para calon investor yang berminat untuk berinvestasi di wilayah tersebut. ANTARA