BANDA ACEH –
**Borneonews - Sabang,** Atlet aeromodelling asal Aceh, Fidela Avionic, berhasil meraih medali emas pertamanya di nomor terbang bebas tarik A1, yang juga dikenal dengan *F1H*, dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh-Sumatera Utara 2024. Keberhasilan ini dicapai oleh Fidela pada hari Sabtu, 14 September, di Lanud Maimun Saleh yang terletak di Kota Sabang, Aceh. Fidela berhasil memperoleh nilai tertinggi dalam lima ronde pertandingan, sehingga mengungguli atlet dari Jawa Tengah, Kusmanto, yang meraih posisi kedua, dan Oki Artadurgangar dari Jawa Timur yang harus puas di posisi ketiga. Dengan penuh rasa syukur, Fidela mengungkapkan, "Saya bersyukur dapat kesempatan untuk mewakili Aceh di PON 2024 ini, dan saya juga sangat bersyukur bisa memberikan medali emas untuk Aceh." Medali emas yang diraihnya menjadi medali pertama untuk daerah Aceh dalam cabang olahraga aero sport, khususnya disiplin aeromodelling pada PON XXI ini. Namun, keberhasilan Fidela tidak hanya berhenti di nomor F1H. Dia juga turut berpartisipasi dalam beberapa nomor lainnya, termasuk terbang bebas lempar atau *OHLG* putri, balap beregu kendali tali atau *F2C*, terbang bebas tarik A1 atau *F1A* putri, dan tempur udara kendali tali atau *F2D*. Sayangnya, di nomor-nomor tersebut, Fidela belum berhasil menambah koleksi medali emas. Fidela berharap bahwa dalam beberapa hari ke depan, masih ada beberapa nomor lomba yang akan digelar dan Aceh mampu menambah perolehan medali emas lainnya. Ia berpesan kepada rekan-rekannya, "Untuk teman-teman, semangatlah, tetap berjuang. Apa pun hasilnya, tetap semangat dan terima hasilnya." Sementara itu, Arya Sidharta selaku Technical Delegate Aeromodelling pada PON XXI menyatakan bahwa pada event ini terdapat 12 kategori yang dipertandingkan, terbagi dalam tiga kelompok, yaitu terbang bebas tanpa kendali pilot, kendali dengan tali oleh pilot, dan kendali dengan radio oleh pilot. Arya menjelaskan lebih lanjut mengenai teknis lomba *F1H*, yang pada dasarnya merupakan terbang bebas. Pesawat diterbangkan dengan cara ditarik seperti layangan, kemudian tali yang menghubungkannya dilepaskan agar pesawat bisa terbang sendiri. "Yang diukur adalah lama waktu terbang. Dalam satu sesi lomba, ada lima kali penerbangan, dimana setiap penerbangan maksimum berlangsung selama dua menit yang dihitung waktunya," ujar Arya. ANTARA