JAKARTA –
**Borneonews - Malang,** Sebanyak 461 prajurit TNI Angkatan Laut (AL) secara resmi bergabung dengan Korps Marinir setelah menyelesaikan pendidikan komando Korps Marinir Angkatan Ke-174 yang berlangsung selama 90 hari. Upacara pembaretan tersebut dipimpin oleh Komandan Korps Marinir (Dankormar) Mayjen TNI (Mar) Endi Supardi di Pantai Baruna Kondang Iwak, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada hari Sabtu, 14 September. Dalam sambutannya, Dankormar menjelaskan bahwa penyematan baret ungu tersebut menandakan awal perjalanan sebagai prajurit muda di Korps Marinir. Mereka ditandai sebagai pasukan pendarat amfibi, yang dikenal dalam terminologi militer sebagai *first boots on the ground*. Dankormar menambahkan, kualifikasi komando dan baret ungu yang disematkan bukanlah sekadar pelengkap seragam, melainkan merupakan identitas dan simbol kehormatan sebagai prajurit pendarat amfibi di TNI Angkatan Laut. Dia menekankan pentingnya para prajurit untuk selalu menjaga perilaku dan pikiran agar sesuai dengan Janji Prajurit Korps Marinir. Selanjutnya, ia menegaskan bahwa seluruh prajurit yang menerima baret ungu tersebut diharapkan untuk menjadi prajurit yang profesional, tangguh, religius, dan humanis. Mereka harus selalu siap berperan sebagai garda terdepan dalam menjaga dan mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam pendidikan komando, para prajurit terlatih melalui lima tahapan yang meliputi kemampuan dan ketahanan di laut, pertempuran hutan, teknik dan taktik perang gerilya, serta kegiatan lintas medan dari Banyuwangi menuju Pantai Baruna Kondang Iwak di Malang Selatan. Dalam tahap lintas medan, peserta yang terdiri dari 119 bintara dan 342 tamtama ini menempuh perjalanan kaki sejauh 350 kilometer, termasuk melewati lautan pasir di kawasan Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur. Setelah menyelesaikan lintas medan, para prajurit melanjutkan perjalanan kaki melalui Wonorejo-Gondang Legi-Srigonco hingga tiba di Pantai Baruna, yang menjadi titik akhir dari kegiatan tersebut. Kegiatan lintas medan merupakan tahap terakhir dari pendidikan komando Marinir, di mana para prajurit harus berjalan dengan seragam tempur lengkap. Selama perjalanan, setiap prajurit harus mengangkat beban yang dapat mencapai lebih dari 10 kilogram, menambah tantangan dalam pelatihan yang intensif ini. ANTARA