BORNEONEWS, Sampit - Petani di sejumlah wilayah di Kabupaten Kotawaringin Timur mengaku kesulitan memasarkan hasil panen padi, terutama di saat hasil panen mengalami peningkatan.
Razi, seorang petani di Desa Parebok, Kecamatan Teluk Sampit, berharap pemerintah bisa membantu memasarkan hasil pertanian padi.
“Meski panen yang dihasilkan biasanya meningkat, namun pemasarannya yang sulit,” kata Razi, kepada Borneonews, Minggu (31/7/2016).
Dia mengaku, perhatian pemerintah pada petani cukup baik, para petani setiap tahun mendapat bantuan alat-alat pertanian dari pemerintah, baik itu berupa hand traktor (traktor tangan), hand sprayer, dan alat-alat lainnya. Meski berbagai alat pertanian banyak disalurkan ke mereka, dan produksi padi melimpah. Namun jika untuk memasarkannya sulit para petani juga akan rugi.
Dia berharap, pemerintah setempat dapat segera mencari solusi agar hasil panen dapat dipasarkan, dan petani dapat kembali memiliki modal untuk kembali bertani.
“Kami minta pemerintah mencari solusi atas masalah pemasaran yang dihadapi petani, karena selain untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, petani juga perlu modal untuk kembali bertani,” katanya.
Keluhan petani itu juga diiyakan oleh Kepala Dinas Pertanian Peternakan Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BP3KP) Kotim, I Made Dikantara. Dia mengaku kendala yang dihadapi petani belakangan ini memang masalah pemasaran, sehingga pihaknya lagi mencari celah bagaimana memasarkan hasil pertanian padi, terutama saat hasil panen melimpah.
“Khusus petani padi memang mengeluhkan sulitnya memasarkan hasil panen. Tapi kami tetap berupaya bagaimana membantu memasarkan hasil mereka,” kata Made.
Namun, untuk sementara ini, hasil pertanian padi masih di pasarkan di pasar-pasar tradisional yang ada di Kabupaten Kotim, dan tidak sedikit para pengepul dari Banjarmasin yang menampung beras maupun gabah petani Kotim.
“Kami siap fasilitasi pemasaran hasil pertanian padi para petani hingga masuk ke pasar- pasar tradisional yang ada di Kotim ini. Tetapi mereka ini juga harus tetap konsisten dengan tetap mempertahankan mutu dan kualitas padi,” ucapnya.
Sementara itu, rencana pembuatan Badan Usaha Milik Desa (BUMD) yang sempat dilontarkan Bupati Kotim Supian Hadi saat peresmian pencetakan sawah baru seluas 200 hektare di Kecamatan Teluk Sampit beberapa lalu belum ada tindak lanjutnya. Padahal masyarakat sangat berharap keberadaan BUMD untuk menampung hasil pertanian itu memberi angina segar bagi petani. Mereka tidak perlu susah payah untuk memasarkan beras kemana-mana. (RAFIUDIN/m)








