JAKARTA –
**Borneonews - Moskow**, Direktur Utama Lembaga Kantor Berita Nasional menyatakan bahwa transparansi dalam pemanfaatan teknologi *Artificial Intelligence* (AI) sangat penting bagi dunia media. Akhmad Munir, dalam sebuah pertemuan penting di Moskow, menggarisbawahi bahwa media harus secara jelas menginformasikan kepada publik apabila sebuah konten dihasilkan melalui AI, termasuk menjelaskan proses pengambilan keputusan yang terlibat dalam penggunaan teknologi tersebut. Di tengah kemajuan yang ditawarkan oleh AI, terdapat berbagai pertanyaan etis yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah potensi penggunaan sistem AI yang dapat memperkuat bias yang terdapat dalam data yang digunakan untuk pelatihan. Oleh karena itu, penting bagi media untuk memastikan bahwa algoritma yang diterapkan dalam pembuatan berita tidak membawa stereotip yang tidak adil atau menyesatkan. Akhmad Munir menekankan bahwa otomatisasi dalam produksi berita juga dapat berpotensi menyebarkan informasi yang salah, mengingat bahwa sistem AI sering kali lebih mengutamakan keterlibatan pengguna dibandingkan dengan akurasi informasi. Dengan demikian, tanggung jawab organisasi media dalam memverifikasi semua konten sebelum publikasi menjadi sangat krusial. Selain itu, risiko yang dihadapi terkait kemampuan AI untuk menciptakan dan mendistribusikan konten secara luas harus diwaspadai. Hal ini termasuk potensi terjadinya penyebaran informasi palsu serta manipulasi yang dapat mengurangi kepercayaan publik terhadap media. Fenomena seperti *deepfake* dan penggunaan bot otomatis menambah kompleksitas tantangan ini. Kekhawatiran lain yang muncul adalah isu privasi yang berkaitan dengan pengumpulan dan penggunaan data pengguna. Dalam hal ini, organisasi media harus menemukan keseimbangan antara memanfaatkan data untuk menciptakan pengalaman yang lebih personal bagi audiens, sembari tetap menghormati hak privasi mereka. Akhmad Munir juga menyatakan bahwa integrasi AI dalam dunia media telah mengubah dinamika dalam cara berita diproduksi, didistribusikan, dan diakses oleh publik. Teknologi AI memungkinkan proses otomatisasi dalam pembuatan konten, meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya. Misalnya, teknologi seperti mesin penterjemah dan pembelajaran mesin semakin sering digunakan untuk menghasilkan berbagai jenis konten seperti berita, laporan, dan ringkasan. Selain itu, AI dapat membantu mengotomatiskan beberapa tugas rutin yang berkaitan dengan jurnalisme, seperti pengecekan fakta dan entri data, yang secara keseluruhan dapat mempercepat proses produksi berita. Teknologi ini juga mampu mempersonalisasi *feed* berita serta rekomendasi berdasarkan perilaku dan preferensi pengguna, sehingga memungkinkan organisasi media untuk lebih responsif terhadap isu-isu yang berkembang. Namun, Munir juga mengingatkan bahwa dampak penggunaan AI yang masif dapat menyebabkan pengurangan kesempatan kerja di beberapa posisi, termasuk di sektor media. Untuk itu, penting bagi perusahaan media untuk menyeimbangkan kebutuhan akan otomatisasi dengan investasi pada pelatihan dan peningkatan keterampilan bagi para profesionalnya, agar mereka mampu beradaptasi dengan teknologi yang terus berkembang. Akhmad Munir merekomendasikan agar organisasi media menetapkan pedoman etika yang menyeluruh mengenai penggunaan AI. Pedoman ini harus mencakup isu-isu terkait bias, transparansi, dan akuntabilitas, serta perlu diperbarui secara berkala agar selaras dengan perkembangan teknologi dan harapan masyarakat. Dalam melawan bias, sangat penting untuk menggunakan *dataset* yang bervariasi dan representatif selama pelatihan model AI, dan melakukan audit secara rutin guna memastikan sistem AI tidak memperkuat bias yang ada. Pengawasan manusia pun harus tetap ada dalam implementasi AI; penilaian dan pengawasan editorial menjadi kunci untuk mengontrol dan memvalidasi produk yang dihasilkan oleh AI. Organisasi media harus memastikan bahwa penggunaan AI berfungsi sebagai pendukung, bukan pengganti, dari proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh manusia, demi menjaga mutu dan integritas dalam jurnalisme. Di samping itu, media memiliki tanggung jawab untuk mendidik masyarakat mengenai peran AI dalam penyampaian berita dan potensi risiko yang menyertainya. Edukasi ini dapat membantu pengguna untuk lebih kritis dalam mengevaluasi informasi yang mereka terima dan menyadari konten mana saja yang dihasilkan oleh AI. Sebagai hasil dari pertemuan ini, disepakati bahwa organisasi antar negara ini akan terus melanjutkan keanggotaan dalam Executive Board OANA, dan pertemuan berikutnya direncanakan akan dilaksanakan di Kuala Lumpur pada 17 hingga 19 Februari 2025, yang akan diadakan oleh Bernama sebagai tuan rumah. ANTARA