**Borneonews - Kabupaten Bogor**, Penjabat Bupati Bogor, Asmawa Tosepu, baru-baru ini menyampaikan berbagai strategi yang diterapkan untuk menangani inflasi di wilayahnya. Berbagai langkah ini mencakup pemantauan yang intensif serta pelaksanaan operasi pasar untuk memastikan kestabilan harga.
Dalam pernyataannya di Cibinong, Asmawa mengungkapkan bahwa pemantauan terkait pengendalian inflasi di Kabupaten Bogor dilakukan secara rutin oleh Inspektorat setempat. Hasil dari pengawasan tersebut kemudian dilaporkan kepada pihak Inspektorat Jenderal Kementerian Dalam Negeri.
Sebagai bagian dari upaya konkret, pemerintah telah melaksanakan operasi pasar murah yang menyediakan berbagai bahan pokok. Dalam kegiatan ini, sebanyak 87,5 ton beras yang terjamin pasokan dan harganya (SPHP) serta 7.000 liter minyak goreng berhasil didistribusikan.
Lebih lanjut, Asmawa juga menjelaskan bahwa akan dilakukan operasi pasar bersubsidi (OPADI) bersama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat. Pada tahun 2024, kegiatan ini akan menjangkau Kabupaten Bogor dengan penyediaan 5.372 paket sembako yang terdiri dari beras premium, gula kristal putih, dan minyak goreng kemasan premium.
Bahan pokok tersebut telah disalurkan ke tiga kecamatan, yaitu Cibinong, Bojonggede, dan Parung. Selain itu, kegiatan Gelar Pangan Murah (GPM) juga diadakan sebanyak 31 kali di beberapa kecamatan, antara lain Cibinong, Citeureup, Babakan Madang, dan lainnya. Dalam program tersebut, berbagai komoditas seperti beras, minyak goreng, telur, bawang, serta daging sapi dan ayam disiapkan untuk masyarakat.
Asmawa juga mengungkapkan bahwa pemerintah daerah telah menyelenggarakan Bazar Ramadhan pada tahun 2024 di enam kecamatan termasuk Caringin dan Jonggol.
Dari sisi data, indeks perkembangan harga (IPH) di Kabupaten Bogor terpantau dalam kondisi yang aman. Asmawa menginformasikan bahwa IPH saat ini berada di angka minus 1,51. Angka ini menunjukkan posisi yang stabil, dengan harga tertinggi tercatat di angka 3,03 dan terendah di minus 6,51. Data tersebut merupakan hasil pendataan yang dilakukan secara berkala dari bulan Januari hingga Juni 2024.
IPH ini dipengaruhi oleh fluktuasi harga beberapa komoditas, terutama cabai dan telur ayam. Dalam catatan, di bulan Januari 2024, harga cabai dan telur mengalami penurunan sebesar -8,2813 persen. Selanjutnya, di bulan Februari terjadi kenaikan sebesar 4,4836 persen, dan Maret meningkat lagi menjadi 13,5293 persen. Pada bulan April, IPH tercatat pada angka -6,6900 persen, kemudian kembali naik di bulan Mei menjadi 1,9400 persen, dan pada bulan Juni mengalami penurunan lagi hingga mencapai -3,200 persen.
Asmawa menambahkan bahwa keberhasilan pengendalian inflasi tersebut merupakan hasil kerja Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang dibentuk oleh Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Keputusan Bupati Bogor Nomor 500/294/Kpts/Per-UU/2021. Selain itu, pemerintah juga telah menyusun peta jalan untuk pengendalian inflasi di Kabupaten Bogor untuk periode 2022-2024 berdasarkan Surat Keputusan Bupati Bogor Nomor 500/53/Kpts/Per-UU/2022.
ANTARA
Strategi Efektif Pemkab Bogor Atasi Inflasi di Wilayahnya
Bagikan:

BOGOR –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Survei IPO: Meutya Hafid Masuk 10 Besar Menteri Berkinerja Terbaik
Guru SDN di Banjarmasin Jadi Tersangka Pelecehan Siswi 12 Tahun
Mentan: Pengadaan Bulog Perkuat Cadangan Beras Pemerintah
Triple-double Embiid bawa 76ers Kalahkan Bucks 127-116
Wamen LH: Jaga Kelestarian Ekosistem Perairan Dimulai dari Daratan
Jet Tempur AS Cegat Pesawat umum Dekat Kediaman Trump di Florida
Komentar (0)
Memuat komentar…







