JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Akselerasi Puskesmas Indonesia (APKESMI) aktif mendorong pengoptimalan pemberdayaan masyarakat sebagai langkah penting dalam menurunkan dan mencegah pertumbuhan kasus *stunting* di tanah air. Ketua Umum APKESMI, Kusnadi, menekankan bahwa peran masyarakat merupakan salah satu faktor utama yang dapat mempercepat penurunan angka *stunting* di Indonesia. Oleh karena itu, optimalisasi upaya pemberdayaan masyarakat sangat krusial. Dalam keterangan yang disampaikan di Jakarta, Kusnadi mengungkapkan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam program ini. Sasaran dari program percepatan penurunan *stunting* ini adalah anak-anak balita. Namun, Kusnadi mengidentifikasi kendala terbesar yang dihadapi saat ini adalah rendahnya kehadiran balita di pos pelayanan terpadu (posyandu). Ia menegaskan perlunya peran aktif dari masyarakat untuk memotivasi orang tua balita agar dapat meluangkan waktu untuk membawa anak-anak mereka ke posyandu guna melakukan penimbangan dan pemantauan perkembangan. Seluruh elemen masyarakat juga diminta untuk menyadari pentingnya kehadiran balita dalam menentukan angka *stunting* di wilayah masing-masing. Kusnadi meyakini bahwa jumlah balita yang mengalami *stunting* tidak sebesar angka yang dihasilkan oleh Survei Kesehatan Indonesia (SKI). Namun, saat ini mereka belum memiliki data yang valid untuk memperkuat klaim tersebut, karena pengukuran balita yang dilaporkan melalui aplikasi *e-PPGBM* di posyandu masih terbilang rendah. Jika data balita dapat diinput secara menyeluruh, ia menambahkan, maka dapat diketahui siapa saja yang mengalami *stunting* berdasarkan nama dan alamat. Dengan demikian, penanganan terhadap balita yang mengalami *stunting* dapat dilakukan dengan lebih terfokus. Selain itu, upaya pencegahan bagi balita yang belum mengalami *stunting* bisa dilakukan sejak dini agar tidak berlanjut ke kondisi tersebut. Lebih jauh, Kusnadi menjelaskan tentang tugas puskesmas dalam melakukan identifikasi balita yang terjangkit *stunting* melalui pengukuran menggunakan metode antropometri di posyandu. Jika terdapat anak yang teridentifikasi mengalami *stunting*, langkah selanjutnya adalah melakukan pemeriksaan oleh dokter spesialis anak di rumah sakit untuk mengetahui kondisi dan penyebabnya. Data dari SKI menunjukkan bahwa prevalensi *stunting* di Indonesia pada tahun 2023 hanya mengalami penurunan sebesar 0,1 persen dibandingkan tahun 2022. Temuan ini dipublikasikan oleh Kementerian Kesehatan pada akhir April 2024, dengan prevalensi *stunting* pada tahun ini mencapai 21,5 persen, sedangkan pada tahun sebelumnya berada di angka 21,6 persen. APKESMI mengajak seluruh pemangku kebijakan dari tingkat pusat hingga daerah untuk menggerakkan masyarakat agar berperan aktif dalam percepatan penurunan *stunting* di Indonesia. Kusnadi juga mengharapkan dukungan melalui DPR-RI agar dapat mendorong pemerintah untuk mengeluarkan regulasi yang dapat memfasilitasi pemberdayaan masyarakat dalam upaya sinergi penurunan *stunting*. ANTARA