JAKARTA –
**Borneonews - Moscow, Rusia**, Direktur Utama Lembaga Berita Nasional mengungkapkan pentingnya transparansi media dalam penggunaan teknologi Kecerdasan Buatan (*Artificial Intelligence*) di dalam kegiatan produksi berita. Penekanan pada transparansi ini mencakup pengungkapan konten yang dihasilkan oleh AI serta penjelasan mengenai proses pengambilan keputusan yang melibatkan penggunaan teknologi tersebut. Dalam forum yang berlangsung di Moskow, Rusia, pada hari Minggu waktu setempat, ia menyatakan bahwa meskipun AI menawarkan peluang dalam hal efisiensi, personalisasi, dan inovasi, perkembangan ini juga menimbulkan pertanyaan etis yang perlu ditangani agar integritas praktik jurnalistik dan media tetap terjaga. Ia menekankan pentingnya memastikan bahwa penggunaan AI tidak memperburuk bias yang ada dalam data yang digunakan untuk pembelajaran. Lebih lanjut, Munir menjelaskan bahwa algoritma AI yang diterapkan dalam media seharusnya tidak mendukung stereotip yang tidak adil atau menyesatkan dalam berita yang mereka sajikan. Otomatisasi produksi berita yang dilakukan melalui AI dikhawatirkan dapat menyebarkan informasi yang salah secara tidak sengaja, terutama dengan adanya kecenderungan sistem AI yang lebih mengutamakan keterlibatan daripada akurasi. Oleh karena itu, ia menggarisbawahi perlunya organisasi media untuk bertanggung jawab dalam memverifikasi konten sebelum dipublikasikan. Menurutnya, menjamin bahwa model-model AI yang digunakan adil dan representatif menjadi tantangan etis yang signifikan. Selain itu, kemampuan AI untuk membuat dan mendistribusikan konten dalam skala yang luas meningkatkan potensi penyebaran informasi palsu dan manipulasi. Fenomena *deepfakes* dan bot otomatis dapat menimbulkan MISINFORMASI yang merusak kepercayaan publik terhadap media. Tambahan pula, penggunaan AI dalam media juga dapat memicu kekhawatiran terkait privasi, khususnya mengenai pengumpulan data dan profil pengguna. Dalam praktiknya, organisasi media harus menjalin keseimbangan antara upaya memanfaatkan data untuk personalisasi dengan menghormati hak privasi audiens mereka. Munir juga menyoroti bagaimana integrasi AI di dalam dunia media telah mengubah cara produksi, distribusi, dan konsumsi berita. Teknologi AI memperkenankan media untuk mengotomatisasi proses pembuatan konten. Bentuk-bentuk teknologi seperti *machine translation* dan *machine learning* semakin umum diterapkan dalam pembuatan berita, laporan, dan ringkasan. Selain itu, AI dapat mengotomatisasi tugas rutin seperti pemeriksaan fakta, transkripsi, dan penginputan data, yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya. Dengan kata lain, praktik-praktik ini dapat menyederhanakan produksi konten serta mempercepat proses penyampaian berita. Lebih lanjut, AI juga memiliki kemampuan untuk mempersonalisasi umpan berita dan rekomendasi berdasarkan preferensi serta perilaku pengguna. Hal ini memberikan peluang bagi organisasi media untuk menganalisis data investigatif dan merespons peristiwa serta isu-isu dengan lebih efektif. Meski demikian, perlu dicatat bahwa perkembangan dan penggunaan AI yang pesat dapat berimbas pada hilangnya pekerjaan di beberapa posisi, termasuk dalam sektor media. Karena itu, ia menekankan perlunya keseimbangan antara otomasi dengan investasi dalam pelatihan dan pengembangan keterampilan sumber daya manusia di bidang media agar mereka dapat beradaptasi dengan teknologi baru. Munir juga merekomendasikan agar organisasi media merumuskan pedoman etis yang komprehensif dalam penggunaan AI. Pedoman tersebut perlu mencakup isu-isu seperti bias, transparansi, dan akuntabilitas, serta diperbarui secara berkala sesuai dengan perkembangan teknologi dan harapan masyarakat. Dalam upaya memerangi bias, model-model AI perlu dilatih menggunakan dataset yang beragam. Audit reguler dan penyesuaian juga harus dilaksanakan agar sistem AI yang digunakan tidak memperkuat bias yang sudah ada. Selain itu, penggunaan AI juga memerlukan pengawasan manusia. Penilaian dan monitoring editorial menjadi hal yang penting untuk memoderasi dan memvalidasi produk-produk yang dihasilkan oleh AI. Munir menegaskan bahwa organisasi media harus memastikan bahwa AI berfungsi sebagai pendukung dan asisten, bukan pengganti dalam proses pengambilan keputusan manusia, demi menjaga kualitas dan integritas jurnalistik. Terakhir, ia menyatakan bahwa media memiliki peran penting dalam mendidik publik mengenai peran AI di dalam dunia media serta potensi risiko yang menyertainya. Dengan demikian, masyarakat dapat lebih mampu mengevaluasi informasi yang diterima dan mengenali konten yang dihasilkan oleh AI. Pertemuan ini juga menyambut keanggotaan lembaga berita nasional sebagai anggota Dewan Eksekutif OANA. Selanjutnya, pertemuan Dewan Eksekutif OANA berikutnya dijadwalkan berlangsung di Kuala Lumpur pada 17-19 Februari 2025, yang akan dihost oleh Lembaga Berita Bernama. ANTARA