BANDAR LAMPUNG –
**Borneonews - Bandarlampung**, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) di Lampung mengumumkan bahwa empat komoditas yaitu cabai, beras, daging ayam, dan bawang merah akan menjadi fokus utama dalam program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) hingga akhir tahun 2024. Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Lampung, Achmad P. Subarkah, menyampaikan bahwa keempat komoditas tersebut memiliki potensi besar sebagai penyumbang inflasi tahunan. Hal ini dapat terlihat dari frekuensi dan rata-rata kontribusi inflasi yang terjadi dari bulan ke bulan. Dalam upaya mengurangi dampak inflasi yang ditimbulkan oleh komoditas tersebut, BI bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk menjalankan program GNPIP secara lebih efektif. Langkah-langkah yang diambil termasuk menjaga keterjangkauan harga, memastikan ketersediaan pasokan, serta memperlancar proses distribusi melalui komunikasi yang efektif. Achmad menambahkan bahwa pentingnya kolaborasi dengan pemerintah daerah dalam penyediaan bawang merah, misalnya, melalui pengurangan simpul distribusi yang ada. Hal ini memungkinkan petani untuk menjual langsung kepada distributor besar, sehingga harga yang diterima oleh konsumen menjadi lebih terjangkau. Untuk mendukung program ini, berbagai inisiatif diimplementasikan, seperti operasi pasar, penguatan ketahanan pangan strategis, dan penyediaan dukungan berupa subsidi ongkos angkut. Peningkatan efisiensi penggunaan alat pertanian dan sarana prasarana juga menjadi perhatian utama dalam rangka memperkuat koordinasi dan komunikasi di antara para pemangku kepentingan serta meningkatkan infrastruktur dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi. Dalam menjaga stabilitas empat komoditas tersebut agar tidak mendorong angka inflasi, pemerintah juga berupaya mengatur daya beli masyarakat. Ini termasuk pengaturan peredaran uang dan suku bunga yang dipertahankan pada angka 6,25 persen selama bulan Agustus. Achmad menambahkan bahwa program pemberian kredit kepada sektor pertanian juga akan diperkuat untuk dapat meningkatkan kapasitas produksi di daerah. Selain itu, pelaksanaan toko pengendalian inflasi di empat kabupaten dan kota yang tergabung dalam Indeks Harga Konsumen (IHK) sedang dioptimalkan melalui peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) guna memastikan ketersediaan komoditas di pasaran. Dengan berbagai upaya tersebut, diperkirakan inflasi di kombinasi empat kabupaten dan kota di Provinsi Lampung akan terjaga pada kisaran 2,5 persen dengan rentang plus-minus 1 persen pada tahun 2024. Hal ini sejalan dengan proyeksi yang lebih stabil dalam sektor makanan dan minuman, termasuk empat komoditas yang telah disebutkan. Sebagai catatan, program GNPIP Provinsi Lampung untuk tahun 2024 menetapkan berbagai target, antara lain replikasi praktik baik melalui tiga kegiatan, hilirisasi pertanian dalam tiga kegiatan, serta penguatan kapasitas budidaya pangan mandiri sebanyak dua kegiatan. Upaya kerjasama antar daerah juga akan dilakukan dengan melibatkan tiga daerah, serta dukungan dalam bentuk pasar murah yang akan diselenggarakan di 600 lokasi. Koordinasi kelembagaan akan melibatkan 16 lembaga dan kegiatan capacity building Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam tiga kegiatan. Pengendalian ekspektasi pasar serta diversifikasi pangan juga menjadi fokus dengan masing-masing mencakup 12 dan empat kegiatan. Tahun 2023 mencatatkan capaian berarti untuk program GNPIP di Lampung, termasuk pelaksanaan operasi pasar sebanyak 90 kali, pengadaan 1,9 juta bibit bawang merah, dan dua klaster yang fokus pada perluasan digital farming. Selain itu, kerjasama antar daerah juga telah terjalin melalui 15 nota kesepahaman (MoU), diikuti dengan penguatan sarana prasarana dalam pemberian tiga sumur bor, 44 unit tenda, dua traktor, dan sarana prasarana pertanian. Kegiatan subsidi ongkos angkut juga telah dilaksanakan untuk mendukung stabilitas harga cabai dan beras. ANTARA