BOGOR –
**Borneonews - Kabupaten Bogor**, Anggota DPRD Kabupaten Bogor, Nurunnisa Setiawan, melakukan evaluasi terhadap kondisi lalu lintas di objek wisata Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Evaluasi ini dilakukan setelah seorang wisatawan, yang diidentifikasi dengan inisial NM (56), meninggal dunia akibat diduga mengalami kelelahan saat berkunjung ke kawasan tersebut. Dalam pernyataannya di Cisarua pada hari Senin, Nurunnisa menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat dalam mengevaluasi dan merencanakan penataan kawasan wisata Puncak. Hal ini mencakup aspek lalu lintas serta sistem transportasi yang ada. "Relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) Puncak memang telah memberikan perubahan pada estetika kawasan, tetapi ada hal yang lebih penting untuk diperhatikan, yaitu kenyamanan dan keamanan bagi para wisatawan," ujar Nurunnisa. Sebagai warga yang tinggal di Puncak, ia menyatakan bahwa masih banyak aspek yang perlu diperbaiki oleh Pemerintah Kabupaten Bogor dan pemerintah pusat, terutama dalam upaya mengatasi kemacetan yang sering terjadi. "Hampir setiap akhir pekan dan saat libur panjang, saya mengalami kemacetan yang sama seperti para pengunjung lainnya. Ini merupakan masalah yang harus segera dicarikan solusinya agar kemacetan yang terjadi tidak bersifat sementara," ungkapnya. Nurunnisa juga mendesak pemerintah pusat untuk lebih maksimal dalam menggunakan jalan alternatif di Puncak sebagai upaya mengurangi kemacetan pada jalur utama. "Ada beberapa jalur alternatif yang seharusnya dimanfaatkan dengan lebih baik, dan ini bisa menjadi solusi dalam mengurangi kepadatan lalu lintas," tambahnya. Dia menyoroti bahwa kemacetan juga disebabkan oleh kendaraan roda dua yang tidak diatur secara optimal melalui rekayasa lalu lintas yang ada saat ini. "Bukan bermaksud mendiskriminasikan, tetapi kendaraan roda dua yang tidak teratur sering kali menjadi penyebab kemacetan. Di masa mendatang, perlu ada pengaturan yang lebih baik terhadap kendaraan roda dua, baik melalui sistem ganjil genap maupun pendekatan lain," tegasnya. Lebih lanjut, Nurunnisa meminta agar Pemerintah Kabupaten Bogor meningkatkan pelayanan darurat di lokasi-lokasi yang rawan macet. "Banyak wisatawan yang terjebak dalam kemacetan, dan mereka seringkali merasa haus dan lapar. Sementara itu, keberadaan PKL sudah tidak ada. Dari sinilah muncul tanggung jawab pemerintah untuk memberikan solusi lain yang nyaman, seperti mendirikan pusat pelayanan darurat di titik-titik rawan kemacetan," jelasnya. Dia mengusulkan bahwa pusat pelayanan darurat ini harus menyediakan layanan dasar, seperti pemeriksaan kesehatan dan bantuan armada ambulans untuk situasi mendesak. "Pada malam sebelumnya, saya menerima informasi mengenai ambulans yang berencana membantu seorang warga dan wisatawan yang sedang sakit, namun aksesnya terhambat oleh kemacetan. Oleh karena itu, posko pelayanan darurat ini perlu didistribusikan di berbagai lokasi, bukan hanya terpusat di satu tempat," lanjutnya. Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Bogor, AKP Rizky Guntama, menjelaskan bahwa NM meninggal dunia saat hendak kembali dari kunjungan ke Agrowisata Gunung Mas pada malam hari tanggal 15 September. "Setelah selesai berwisata, saat berada di bus, ia mengeluhkan pusing dan sesak napas. Kemudian, keluar busa dari mulutnya. Ketika dievakuasi ke masjid, sayangnya ia sudah meninggal dunia di sana," ungkapnya. AKP Rizky juga menyebutkan bahwa saat kejadian, bus yang ditumpangi NM masih berada di area Agrowisata Gunung Mas, sehingga proses evakuasi berjalan lancar. Ia menduga bahwa wanita tersebut mungkin memiliki penyakit bawaan atau komorbid. "Kami memastikan bahwa kematian NM bukan disebabkan oleh kesulitan evakuasi akibat kemacetan, melainkan saat proses evakuasi ke masjid, ia sudah meninggal," tegasnya. Data dari Satlantas Polres Bogor menunjukkan bahwa pada hari Minggu, 15 September, tercatat sebanyak 140 kendaraan, dari roda dua hingga roda enam, melintas di jalur wisata Puncak dalam kurun waktu 24 jam. ANTARA