JAKARTA –
**Borneonews - Jenewa**, Kerja sama internasional diakui sebagai salah satu cara yang paling efektif dalam mengatasi dampak negatif dari perubahan iklim. Ini disampaikan oleh Duta Besar Mai Phan Dung, yang merupakan Perwakilan Tetap Vietnam di PBB serta organisasi internasional lainnya, saat berpidato dalam dialog yang membahas laporan Sekretaris Jenderal PBB tentang hak asasi manusia dan perubahan iklim. Dialog tersebut merupakan bagian dari sesi ke-57 Dewan Hak Asasi Manusia PBB. Dalam penyampaiannya, Duta Besar Dung menekankan bahwa perubahan iklim telah memberikan dampak yang sangat serius terhadap pelaksanaan hak asasi manusia yang mendasar. Ia memberikan contoh nyata melalui fenomena alam seperti Topan Yagi yang baru-baru ini melanda Filipina, China, dan Vietnam, serta banjir yang terjadi di Bangladesh. Peristiwa-peristiwa ini menggambarkan dampak yang merusak dari cuaca ekstrem yang tidak hanya menimbulkan kerugian yang signifikan bagi masyarakat, tetapi juga memaksa individu untuk meninggalkan tempat tinggal mereka, merusak infrastruktur, dan mengganggu pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Duta Besar Dung juga menyoroti bahwa kelompok-kelompok rentan, termasuk perempuan, anak-anak, dan masyarakat di negara berkembang, adalah yang paling merasakan dampak dari perubahan iklim ini. Oleh karena itu, diperlukan solusi yang adil dan setara, dengan menempatkan prioritas pada dukungan bagi mereka yang paling terdampak dan membantu mereka untuk membangun ketahanan di masa mendatang. Dalam pidatonya, beliau juga mengajak komunitas internasional untuk meningkatkan sumber daya keuangan serta menerapkan langkah-langkah yang berlandaskan pada prinsip hak asasi manusia dalam usaha mengatasi kerugian yang disebabkan oleh perubahan iklim. Sesi ke-57 Dewan Hak Asasi Manusia PBB ini berlangsung selama lima pekan, di mana terdapat berbagai program yang mencakup enam diskusi mengenai hak-hak ekonomi, budaya, dan sosial yang perlu diperhatikan dengan seksama. ANTARA