MATARAM –
**Borneonews - Mataram**, Kehadiran *internet* yang dipadukan dengan strategi pemasaran digital saat ini memberikan peluang besar bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar. Dalam konteks ini, kreativitas serta inovasi menjadi faktor kunci yang menentukan keberhasilan pelaku UMKM dalam meraih pangsa pasar. Menurut data yang diperoleh dari Statista, terdapat 5,45 miliar pengguna *internet* di seluruh dunia per Juli 2024, yang setara dengan 67,1 persen dari total populasi global. Dari angka tersebut, 5,17 miliar pengguna, atau 63,7 persen, adalah pengguna media sosial. Statistik ini menunjukkan betapa besar potensi yang dimiliki *internet* dan media sosial dalam mendukung pemasaran produk-produk UMKM. Jin Kwang So, seorang pakar Administrasi Publik dari Universitas Gachon di Korea Selatan, menyatakan bahwa keberadaan *internet* dan media sosial memaksa UMKM untuk meningkatkan kapasitas serta keterampilan mereka dalam memanfaatkan pemasaran digital. "Kumpulkan informasi yang lengkap mengenai produk Anda, desain produk dengan baik, dan pasarkan secara global," ungkapnya dalam sebuah acara pengabdian masyarakat bertema "UMKM Inovatif Menuju Pemasaran Digital" yang dilaksanakan di Aula KPPN Mataram pada 13 September 2024. Pemasaran digital mencakup penggunaan berbagai media digital berbasis *internet*, seperti situs web, media sosial, dan platform streaming video. Dengan demikian, *internet* telah memperluas jangkauan pemasaran UMKM tidak hanya secara lokal tetapi juga secara global, dengan cara yang lebih efisien dan efektif. Metode pemasaran melalui digital saat ini semakin disukai ketimbang metode pemasaran tradisional, berkat prospek keuntungan yang lebih tinggi. UMKM kini lebih mudah untuk menjangkau pasar dengan adanya interaksi yang lebih baik antara pelaku usaha dan konsumen. Dalam sei lima tahun terakhir, angka penetrasi *internet* di Indonesia menunjukkan peningkatan yang signifikan. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) melaporkan bahwa pada tahun 2018, penetrasi *internet* hanya mencapai 64,8 persen, namun melonjak menjadi 79,5 persen pada tahun 2024. Jumlah pengguna *internet* di Indonesia tahun ini tercatat mencapai 221,56 juta orang dari total populasi 278,69 juta jiwa pada tahun 2023. Besarnya populasi pengguna *internet* ini memberikan peluang emas bagi UMKM untuk melakukan pemasaran produk secara digital. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga menjelaskan bahwa pemanfaatan *internet* sebagai media komunikasi telah mendorong adanya platform niaga elektronik serta transaksi daring. Hal ini memungkinkan UMKM untuk menjangkau konsumen dengan lebih mudah dan memperluas cakupan bisnis mereka. Konsumen kini dapat berbelanja dengan cepat hanya melalui ponsel pintar atau komputer. Bermunculannya platform niaga elektronik seperti Shopee, Tokopedia, Bukalapak, dan Lazada memberi ruang bagi pelaku UMKM untuk menawarkan produk mereka. Konsumen pun dapat memberikan umpan balik secara interaktif, yang semakin meningkatkan keterhubungan antara pelaku usaha dan pembeli. Salah satu contoh yang berhasil adalah Nita Setiawati, seorang perajin kain tenun khas Bima yang mengelola UMKM Dina. Ia menjelaskan bahwa pemasaran digital melalui media sosial seperti Facebook telah berhasil menarik minat konsumen dari luar negeri untuk membeli produknya. Meski produksinya berlokasi di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, produk tenun tersebut kini lebih mudah dijangkau oleh pembeli internasional. Kantor Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Nusa Tenggara Barat mencatat bahwa kemampuan generasi muda dalam mengelola UMKM sangat terlihat dari penguasaan mereka terhadap *internet* dan media sosial, yang membantu proses pertumbuhan bisnis. Selama pandemic COVID-19 dari 2019 hingga 2022, pemasaran digital telah menjadi solusi yang vital untuk UMKM dan semakin menjadi tren yang berlanjut hingga kini. Aditya Wardhana, seorang pakar administrasi bisnis di Universitas Telkom, menegaskan bahwa penerapan pemasaran digital memberikan dampak signifikan hingga 78 persen terhadap daya saing UMKM. Dengan adanya *internet*, pelaku UMKM bisa melakukan pemasaran secara daring, termasuk transaksi pembayaran melalui sistem perbankan. Namun, di tengah peran penting yang dimiliki UMKM dalam perekonomian nasional, berbagai tantangan masih menghadang, terutama dalam hal literasi digital. Banyak UMKM yang masih terhambat oleh keterbatasan akses terhadap teknologi dan jaringan, termasuk fenomena *blank spot area*. Jumlah pelaku UMKM di Indonesia kini mencapai 66 juta pada tahun 2023, menurut data Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin). Kontribusi UMKM terhadap pertumbuhan domestik bruto sangat signifikan, mencapai 61 persen yang setara dengan Rp9.580 triliun dan menyerap 117 juta tenaga kerja, yaitu 97 persen dari total jumlah pekerja di Indonesia. Meski demikian, tantangan dalam literasi digital masih menjadi penghalang bagi keoptimalan pemasaran digital oleh UMKM. Sebagian besar UMKM yang berada di daerah pedesaan masih berjuang untuk mendapatkan akses *internet*, yang membuat mereka terpaksa menggunakan metode pemasaran konvensional. Dari total 66 juta pelaku UMKM, baru sekitar 24 juta atau 36,3 persen yang berhasil masuk ke dalam ekosistem digital. Direktur Politeknik Keuangan Negara STAN, Evy Mulyani, mengajak pelaku UMKM untuk memanfaatkan kesempatan yang ada dengan memanfaatkan teknologi digital yang semakin berkembang. Penting bagi UMKM untuk memahami dan menguasai cara pemasaran digital agar dapat bersaing dengan baik. Generasi Z sebagai mayoritas pengguna *internet* saat ini cenderung memilih produk dengan hanya menyentuh layar ponsel pintar. Oleh karena itu, UMKM perlu memanfaatkan peluang ini dengan meningkatkan pemahaman dan penguasaan mereka terhadap pemasaran digital. Seluruh institusi, baik dari kementerian, lembaga, sektor swasta, maupun organisasi swadaya masyarakat, diharapkan dapat lebih aktif dalam mengadakan pelatihan dan bimbingan teknis bagi UMKM. Tujuannya adalah agar para pengusaha muda dapat menguasai strategi pemasaran digital dengan baik. Sinergi berbagai pihak tersebut diharapkan mampu mempercepat peningkatan omzet UMKM, yang pada akhirnya berkontribusi menuju visi Indonesia Emas 2045. ANTARA