**Borneonews - Jakarta**, Presiden Kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, menekankan pentingnya komitmen kedua negara, Indonesia dan Rusia, untuk hidup berdampingan secara damai. Hal ini disampaikannya dalam sebuah kuliah umum yang bertajuk *Tantangan Geopolitik dan Pancasila Sebagai Jalan Tata Dunia Baru*, di Universitas St. Petersburg, Rusia.
Megawati menjelaskan sejarah panjang hubungan bilateral tersebut dengan penuh kesan. Ia mengungkapkan bahwa kunjungan pertama Proklamator Indonesia, Bung Karno, ke Uni Soviet pada tahun 1956, telah menciptakan hubungan yang kokoh. Dalam pertemuan itu, Bung Karno berinteraksi dengan Presiden Voroshilov dan sangat terkesan dengan prinsip koeksistensi yang diterapkan oleh Uni Soviet pada masa itu.
Di tahun 1962, Bung Karno juga menyambut kunjungan balasan dari Presiden Rusia, Nikita Khrushchev. Kunjungan ini tidak hanya membawa dampak diplomatik, tetapi juga bantuan besar, termasuk pembangunan Gelora Bung Karno, yang pada saat itu merupakan stadion terbesar di Asia Tenggara. Bantuan lainnya adalah peralatan militer yang vital bagi pertahanan dan integrasi teritorial Indonesia.
Megawati menjelaskan lebih lanjut mengenai penghargaan yang diberikan Bung Karno kepada Kosmonot Yuri Gagarin dengan gelar Bintang Mahaputra, yang mencerminkan apresiasi terhadap kemajuan teknologi luar angkasa dan menjadi teladan bagi generasi muda Indonesia.
Ketika menjabat sebagai Presiden, Megawati menjalin hubungan dengan Presiden Vladimir Putin pada tahun 2001 dan 2003, di waktu ketika dunia berada dalam situasi unipolar dan bergelut dengan masalah terorisme. Ia memperkuat kerja sama di bidang pertahanan dengan mencakup pembelian Pesawat Tempur Sukhoi yang hingga kini masih menjadi kebanggaan Angkatan Udara Indonesia.
Prinsip-prinsip dasar dalam hubungan Indonesia-Rusia, menurut Megawati, mencerminkan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak terikat dalam aliansi militer tertentu. Menurutnya, politik bebas aktif adalah sebuah komitmen untuk mendukung kemanusiaan dan semangat anti penjajahan, bukan sekadar sikap netral.
Lebih jauh, Megawati mengaitkan politik luar negeri ini dengan falsafah bangsa, yaitu Pancasila. Lima sila dalam Pancasila adalah landasan bagi Indonesia dalam membangun hubungan internasional yang saling menghormati. Dengan prinsip kemanusiaan, Indonesia bertekad untuk menciptakan persaudaraan global. Sedangkan prinsip keadilan sosial menjadi pendorong untuk menciptakan tatanan dunia yang adil dan damai.
Acara kuliah umum tersebut dihadiri oleh ratusan mahasiswa dan civitas academica dari Universitas St. Petersburg. Megawati juga didampingi oleh Duta Besar Dunia Pendidikan dan Iptek untuk Universitas St. Petersburg, Connie Rahakundini Bakrie.
ANTARA
Megawati tegaskan komitmen Indonesia-Rusia hidup damai dan aktif
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Tavares Soroti Penyelesaian Akhir Persebaya Usai Kalah dari PSM
Aliansi Masyarakat Kalteng Melawan Sampaikan Poin Tuntutan
DPKP Kotim Serahkan STD-B kepada Desa Bukit Indah, Data Pekebun Sawit Swadaya Diperkuat
Bobon Santoso Sajikan 3.000 Porsi Makanan untuk Petugas dan Warga Terdampak Karhutla di Tumbang Nusa
Jejak Kreativitas Penulis Kalteng Terabadikan dalam Buku Jejak Tutur di Punggung Aksara
Puncak BIK 2026 di Kobar, Pemkab Dorong Akses Keuangan Menjangkau UMKM hingga Desa
Komentar (0)
Memuat komentar…







