JAKARTA –
**Borneonews - Banda Aceh**, Angin bertiup kencang di lapangan panahan Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh pada siang hari itu. Para penonton yang bersemangat di tribun mendadak merendahkan suara mereka, ingin menikmati setiap momen dari ketegangan dalam final divisi recurve putri pada Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh-Sumut, yang mempertemukan Diananda Choirunisa dan Syifa Kamal. Kedua pemanah yang mewakili Indonesia dalam ajang Olimpiade Paris itu berdiri berhadapan, masing-masing memegang busur dengan jarak 70 meter dari target. Saat itu, tembakan ketiga sudah dimulai pada sesi ketiga. Diananda telah menunjukkan performa mengesankan, meraih keunggulan pada dua sesi pertama dan memperoleh empat poin tanpa balasan. Apabila Diananda berhasil dalam tembakan ketiganya, maka dia akan dinyatakan sebagai pemenang. Namun, jika Syifa dapat mengatasi tantangan tersebut, dia masih memiliki kesempatan untuk memanfaatkan dua sesi berikutnya guna meraih kemenangan. Dalam momen yang tegang ini, Diananda memfokuskan pandangannya pada target, menarik nafas dalam-dalam, dan mulai mempersiapkan busurnya. Dengan cermat, ia menarik tali busur, menciptakan sudut yang presisi. Setelah tiga detik, Diananda melepaskan panahnya, dan panah tersebut melesat membelah angin, tepat mengenai target kuning. Tembakannya kali ini mengantarkannya pada 29 poin di sesi ketiga. Sorak-sorai pendukungnya mengiringi keberhasilannya, memecah ketegangan di momen tersebut pada hari Sabtu, 14 September. Syifa, sebagai atlet andalan dari Jawa Barat, menghadapi tekanan besar untuk mengikuti jejak Diananda. Ia memerlukan tembakan yang tepat untuk menjaga harapannya tetap hidup. Namun, tembakannya justru membawa hasil yang kurang memuaskan, hanya mengumpulkan 23 poin di sesi tersebut. Dengan hasil ini, Diananda memperoleh medali emas untuk kategori tersebut, mengikuti jejak kemenangannya di PON XXI Papua pada tahun 2021. Dengan keberhasilan tersebut, Diananda semakin tak terhentikan, melanjutkan dominasinya di nomor-nomor pertandingan selanjutnya. Ia juga berhasil meraih emas di kategori recurve beregu putri serta recurve beregu campuran. Tim Jawa Timur, tempat Diananda bernaung, melangkah mantap, mengalahkan semua lawan yang dihadapi dengan kemenangan telak di semifinal. Dalam babak final, Diananda dan timnya terus menunjukkan keunggulan, merebut dua emas dalam acara tersebut. Di hari yang sama, Diananda kembali menunjukkan performa impresif bersama rekannya Riau Ega Agatha di nomor beregu campuran, berhasil menundukkan Kalimantan Tengah di semifinal dan mengulangi kesuksesan yang sama saat menghadapi Jawa Tengah di final. Pencapaian ini pun menjadikan Diananda sebagai pengulangan prestasi luar biasa di PON Aceh-Sumut 2024. Diananda, yang sebelumnya meraih tiga medali emas saat PON Papua 2021 dengan kondisi hamil dua bulan, kini hadir kembali dengan anaknya yang berusia dua tahun, mengikutinya dalam setiap langkah. Dalam momen yang menyentuh tersebut, Diananda tidak hanya menunjukkan kebanggaannya sebagai juara, tetapi juga nilai keluarga yang tak kalah penting. Anak perempuan yang manis itu terlihat selalu ada di sampingnya dan sesekali diajak bermain di sekitar lokasi pertandingan. Melalui kehadirannya, Diananda ingin menanamkan nilai yang berharga kepada sang anak—bahwa peran sebagai seorang ibu tidak menghalangi untuk meraih sukses. Diananda menyampaikan tekadnya untuk melawan stereotip yang beredar, yang mencap bahwa perempuan yang telah berkeluarga dan memiliki anak akan kesulitan untuk kembali berprestasi. Dengan semangat juangnya, ia menginginkan bukti nyata bahwa keberhasilan dan peran keibuan dapat berjalan beriringan. Di akhir wawancara, Diananda menggendong anaknya yang mengenakan baju kuning dengan bangga. Dengan medali emas yang masih terpasang di lehernya, ia menutup pembicaraan dengan ungkapan terima kasih. Momen tersebut menjadi sangat istimewa, menjadi simbol perlawanan terhadap pandangan yang seringkali membatasi potensi perempuan dalam berprestasi di bidang apa pun. ANTARA