JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia telah memastikan bahwa tidak ada warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban akibat badai Topan Bebinca yang baru-baru ini menerjang kota Shanghai dan wilayah pesisir timur China. Badai ini sebelumnya menyapu Filipina pada akhir pekan lalu. Judha Nugraha, Direktur Pelindungan WNI dan Badan Hukum Internasional di Kemlu RI, menginformasikan bahwa Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Shanghai telah melakukan koordinasi dengan pihak berwenang setempat serta komunitas WNI untuk memastikan situasi setelah munculnya badai tersebut. “Setelah melakukan pengecekan, kami tidak menerima laporan adanya WNI yang terdampak oleh Topan Bebinca,” ujar Judha dalam sebuah pernyataan resmi yang diterima di Jakarta. Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah setempat telah melakukan berbagai langkah untuk memitigasi dampak bencana, termasuk menggerakkan tim Search and Rescue (SAR) di lokasi-lokasi yang berisiko tinggi dan mengaktifkan sistem respons darurat di kawasan Shanghai serta provinsi Anhui dan Zhejiang. Data dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Shanghai menunjukkan bahwa sekarang ada sekitar 975 WNI yang tinggal di Shanghai dan provinsi sekitarnya, meliputi Zhejiang, Jiangsu, Jiangxi, dan Anhui. Dalam hal ini, KJRI Shanghai dapat dihubungi melalui nomor +86-1356-4406-540 atau melalui aplikasi WeChat dengan menggunakan kode ID KonsulerShanghai. Topan Bebinca mencapai Shanghai pada Senin pagi, menjadikannya sebagai topan terkuat yang menyerang kota ini sejak tahun 1949, menurut laporan dari Badan Meteorologi China (CMA). Sementara itu, lebih dari 414 ribu penduduk Shanghai harus mengungsi untuk menghindari dampak dari badai mematikan ini. Sebagai langkah pencegahan, otoritas setempat pun menghentikan semua kegiatan belajar mengajar dan menangguhkan layanan transportasi. Situasi ini menyebabkan penerbangan di Bandara Pudong dan Bandara Hongqiao Shanghai, serta perjalanan kereta api di wilayah delta Sungai Yangtze juga terpaksa ditunda. ANTARA