JAKARTA –
**Borneonews - Washington**, Pemerintahan Amerika Serikat yang dipimpin oleh Presiden Joe Biden memberikan peringatan kepada Israel agar tidak memperluas konflik militernya dengan Lebanon. Peringatan ini disampaikan oleh Utusan Khusus AS, Amos Hochstein, saat ia bertemu dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pada Senin pagi. Dalam pertemuan tersebut, Hochstein menegaskan kepada Netanyahu bahwa tindakan agresif Israel terhadap Lebanon dapat mengakibatkan terjadinya konflik yang lebih luas di kawasan tersebut. Risiko yang ditimbulkan dari tindakan tersebut dapat berakibat pada situasi yang berlarut-larut dan sulit untuk diselesaikan. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya untuk tidak memulai perang yang akan membahayakan stabilitas regional. Selain itu, Hochstein juga menyampaikan kepada Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, bahwa Washington berkomitmen untuk mencari solusi diplomatik demi meredakan ketegangan antara Israel dan Lebanon. Komitmen ini tetap ada, terlepas dari keberhasilan atau kegagalan negosiasi mengenai pembebasan sandera di Gaza. Laporan tersebut mencantumkan pernyataan dari seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, yang menyatakan bahwa rumor mengenai rencana Netanyahu untuk memberhentikan Gallant di tengah-tengah konflik ini adalah tindakan yang tidak masuk akal. Dalam pernyataan terpisah, Netanyahu mengungkapkan bahwa masyarakat Israel tidak akan merasa aman untuk kembali ke kawasan utara negara tersebut sebelum ada perubahan signifikan dalam situasi keamanan di sepanjang perbatasan dengan Lebanon. Ketegangan di wilayah perbatasan ini semakin meningkat setelah Israel menerapkan operasi militer di Jalur Gaza pada bulan Oktober 2023. Sejak awal operasi tersebut, terdapat insiden baku tembak hampir setiap hari antara militer Israel dan kelompok Hizbullah di sepanjang garis batas antara Israel dan Lebanon, yang semakin memperburuk situasi yang sudah tegang ini. ANTARA