JAKARTA –
**Borneonews - Medan**, Kenny Tirza Chandra merasakan kejutan yang mendalam saat menyaksikan tembakan terakhir dari lawannya di akhir set ke-11 pada pertandingan final nomor 10 *ball single* putri cabang biliar dalam ajang PON Aceh-Sumut 2024. Pertandingan tersebut berlangsung di Pardede Hall, Kota Medan. Kenny tidak menyangka bahwa tembakan bola 10 yang dilancarkan oleh Emilia Putri Rahmanda dari Jawa Timur justru berujung pada kemenangan dirinya. Meskipun Emilia telah melakukan eksekusi bola dengan baik ke dalam lubang, sayangnya tembakan yang terlalu bertenaga membuat bola putih ikut meluncur dan masuk ke dalam lubang yang berbeda, mengakibatkan kekalahannya. Keputusan juri pun mengesahkan kemenangan di set ke-11 bagi Kenny, sekaligus mengakhiri pertandingan dengan skor akhir 7-5. Sorak-sorai penonton yang mendukung Kenny seketika memecah kesunyian, mengekspresikan rasa lega mereka setelah menyaksikan pertandingan yang penuh drama tersebut. Kenny pun mengakui adanya aspek keberuntungan dalam meraih kemenangan itu. "Jujur saja, saya merasa ini juga karena faktor *luck*, keberuntungan hari ini," ungkapnya. Hal ini menunjukkan bahwa jika Emilia tidak melakukan kesalahan itu, pertandingan akan berakhir imbang 6-6 dan keduanya kemungkinan akan bertarung dalam set penentuan untuk merebut gelar juara. Keberuntungan ialah salah satu bagian yang tidak terpisahkan dalam dunia olahraga, sebanding dengan keterampilan yang dimiliki atlet. Dalam hal ini, keberuntungan Kenny hadir di saat yang krusial, yaitu di akhir laga perebutan medali emas. Meskipun demikian, ia tidak mengandalkan keberuntungan semata, melainkan menunjukkan kemampuannya dengan memenangkan enam set melawan perlawanan ketat dari Emilia. **Prestasi Terpadu di Ajang PON** PON Aceh-Sumut 2024, yang berlangsung dari 9 hingga 19 September, menampilkan lima kelas cabang biliar: *pool* putra, *pool* putri, *carom*, *english billiard*, dan *snooker*, yang melibatkan 127 atlet putra dan 14 atlet putri. Dari total lima kelas yang dipertandingkan, Papua Pegunungan mengutus tiga atlet handal, yakni Kenny di nomor *pool* putri, serta Junaidi dan Hamka Jaya yang bersaing di *pool* putra. Sebagai provinsi yang baru berdiri, Papua Pegunungan menjadi anggota baru dalam PON, bersama Papua Tengah, Papua Selatan, dan Papua Barat Daya. Pada tahun 2024, provinsi ini menjadi yang ke-37 di Republik Indonesia. Meskipun baru, Papua Pegunungan telah menunjukkan semangat dan ambisi yang besar dengan mencetak prestasi dalam even olahraga akbar nasional ini. Kenny sangat berharap agar keberadaan medali emas yang diraihnya sebagai pencapaian yang perdana dalam cabang biliar ini akan memberikan inspirasi bagi generasi muda di Papua Pegunungan. Ia merasa bangga karena dapat membuka jalan bagi olahraga ini di provinsinya. "Semoga dengan pencapaian ini, akan lahir para Kenny-Kenny baru dari Papua Pegunungan di PON-PON yang akan datang," harapnya. **Perjuangan Panjang Seorang Atlet** Setiap prestasi yang diraih dalam dunia olahraga tak pelak telah melalui proses panjang, melibatkan waktu dan dedikasi yang tidak sedikit. Kenny, yang telah berlatih biliar sejak berusia 19 tahun saat berada di bangku kuliah, memulai perjalanan karirnya tidak di Papua Pegunungan, melainkan di Surabaya, Jawa Timur, tempat kelahirannya. Ia memulai langkahnya menjadi atlet profesional dalam biliar melalui sebuah peluang yang tak terduga. Pada saat itu, Kenny yang juga bekerja sebagai model ditunjuk sebuah perusahaan untuk menjadi duta merek. Dari sinilah ia berinteraksi dengan para pebiliar profesional terkemuka yang sedang menjalani program tour. Kenny mengungkapkan, "Saya menjadi *brand ambassador*, jadi setiap kali ada atlet bermain biliar, kami berlatih bersama, dan jika menang, kami akan mendapatkan hadiah." Kesempatan ini mempertemukannya dengan banyak pebiliar di Surabaya, dan bakatnya mulai terlihat saat ia dapat memegang tongkat biliar dengan cara yang benar meski belum terampil. Secara resmi, Kenny bergabung dengan Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (POBSI) Jawa Timur dan turut serta dalam kejuaraan nasional pertamanya di Semarang, Jawa Tengah, pada tahun 2010. Setahun kemudian, ia mengikuti pra-PON di Medan, Sumatera Utara, tetapi tidak berhasil lolos kualifikasi untuk tampil pada PON 2012. Kenny baru memperoleh kesempatan mengikuti PON untuk pertama kalinya pada tahun 2016 di Jawa Barat, bersamaan dengan tim biliar dari Jawa Timur. Selama delapan tahun bergabung dengan POBSI Jawa Timur, ia berkenalan dengan banyak pebiliar, termasuk Emilia, yang dianggapnya sebagai junior di organisasi tersebut. Pada tahun 2018, Kenny pindah ke Papua dan mulai berkolaborasi dengan tim biliar Papua Pegunungan untuk mengikuti PON, yang diselenggarakan di dua provinsi, Aceh dan Sumatera Utara untuk pertama kalinya. Sebelum tampil di PON, Kenny terus mendorong kemampuan dirinya melalui pelatihan berskala besar, termasuk program pemusatan latihan di Jakarta sejak awal bulan Agustus. "Proses untuk bisa meraih medali emas ini tidak instan," jelasnya. Ia ingin berbagi pengalaman sebagai inspirasi bagi atlet biliar di Papua Pegunungan, agar berani untuk mengejar prestasi dan mengharumkan nama daerah. Kehadiran Papua Pegunungan yang berpartisipasi dalam ajang PON ini menjadi langkah penting untuk pembinaan atlet di daerah, serta membuka jalan bagi munculnya pebiliar- pebiliar hebat di masa mendatang. Papua Pegunungan tidak berdiri sendiri, terdapat juga Papua Selatan dan Papua Tengah yang turut serta dalam kompetisi cabang biliar, masing-masing diwakili oleh atlet seperti Yoakim dan Deki Mote. Apresiasi datang dari Wakil Ketua Umum Pengurus Besar POBSI, Syafril Nasution, yang memberikan penghormatan kepada para atlet dari provinsi baru tersebut. Ia mengakui keberanian mereka untuk bersaing dengan pebiliar dari provinsi lain meskipun menghadapi berbagai keterbatasan dalam persiapan. "Menakjubkan seberapa jauh mereka dapat bersaing di level PON meskipun sebagai provinsi baru, kecuali Papua Barat Daya yang kali ini tidak mengirimkan atlet," ungkapnya. Walaupun pembinaan atlet belum sepenuhnya optimal seperti provinsi lainnya, keberadaan pebiliar dari provinsi baru ini adalah langkah yang positif. Mengikuti kompetisi di tingkat nasional menjadi pengalaman berharga bagi para atlet, yang dapat meningkatkan kemampuan mereka. Semoga PON Aceh-Sumut 2024 menjadi titik awal yang baik bagi tim-tim dari provinsi baru untuk mengejar banyak prestasi biliar yang membanggakan Bumi Cenderawasih. ANTARA