SEMARANG –
**Borneonews - Banda Aceh**, Pesona dua kembar bersaudara, Ravianto Ramadhan dan Raviandi Ramadhan, semakin mengemuka di cabang olahraga panjat tebing dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI yang diselenggarakan di Aceh dan Sumatra Utara pada tahun 2024. Keduanya tidak hanya memiliki wajah yang mirip dan perawakan yang sama, tetapi juga menjadikan ketidakseragaman penampilan sebagai kekuatan dalam kompetisi mereka. Perbedaan mencolok terlihat pada penggunaan kacamata oleh Raviandi, yang membantu memisahkan visual mereka. Sementara itu, Ravianto memilih menggunakan lensa kontak, meskipun keduanya memiliki riwayat mata minus yang diwariskan dari orang tua. Meski demikian, kondisi tersebut tidak menghalangi mereka untuk mengejar prestasi dalam dunia panjat tebing, di mana mereka beraksi lincah seperti *Spiderman*, karakter ikonik dari komik superhero asal Amerika Serikat. Raviandi mengungkapkan, "Saya tidak menggunakan *softlens*. Kakak yang menggunakannya. Saya lebih nyaman memakai kacamata. Mata minus ini memang warisan dari orang tua." Ia pun menceritakan pengalaman menegangkan saat berlaga di Prancis, di mana kacamatanya miring saat berusaha menyesuaikan posisi tubuhnya, meskipun ia mampu mengatasi situasi tersebut dengan baik. Kedua kembar ini telah mengenal olahraga panjat tebing sejak usia yang sangat muda, bahkan sebelum mereka memasuki bangku sekolah. Mereka diperkenalkan pada olahraga ini oleh paman dan bibi mereka, Emi Zaenah dan Hendrawan, yang juga merupakan mantan atlet panjat tebing. Emi Zaenah merupakan perwakilan Provinsi DKI Jakarta dari tahun 1992 hingga 2012 dan kini berperan sebagai pelatih bersama suaminya. Latihan pun berlangsung di rumah mereka yang dilengkapi dengan papan *bouldering* untuk berlatih. "Kami mulai mengenal panjat tebing dari usia 4 atau 5 tahun. Di rumah tante ada papan *bouldering* yang pendek. Awalnya tidak langsung suka," ucap Raviandi. Namun, seiring waktu, mereka semakin tertarik melihat teman-teman atlet dari bibi dan paman berlatih di rumah. Kini, kembar Ramadhan aktif berlatih di klub Tunas Sport Climbing yang berada di Pancoran, Jakarta, di bawah bimbingan langsung dari paman dan bibi mereka. Kedua pemandu tersebut mendampingi mereka di PON Aceh-Sumatra Utara, terdapat kecintaan kepada dunia panjat tebing yang semakin berkembang. Keluarga mereka juga senantiasa memberikan dukungan penuh terlepas dari keraguan awal tentang masa depan mereka sebagai atlet. Kedua atlet unggulan ini lahir di Jakarta pada 26 November 2002, hanya dengan selisih lima menit. Meskipun mereka dibesarkan di Jakarta, keduanya memutuskan untuk membela Papua dalam dua edisi PON terakhir. Pada PON XX di Papua, mereka berhasil meraih medali emas dan kini menargetkan perolehan medali yang lebih banyak di Aceh-Sumatra Utara. Sejak tahun 2018, mereka memilih bergabung dengan kontingen Papua setelah pengalaman berkompetisi di Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) DKI Jakarta. Facette keputusan ini adalah untuk menjalani pengembangan diri yang lebih baik, di mana mereka merasa FPTI DKI Jakarta lebih fokus pada aspek politik dibandingkan prestasi. Dukungan penuh dari orang tua menambah kepercayaan diri mereka dalam berkompetisi. Walaupun menjadi bagian dari kontingen Papua, mereka lebih banyak berlatih di Jakarta karena orang tua mereka masih tinggal di ibu kota. Fasilitas latihan yang lebih lengkap dan aksesibilitas yang lebih baik ke lokasi PON menjadi alasan kuat untuk tetap melatih diri di Jakarta. Di PON Aceh-Sumatara Utara, keduanya mengikuti empat nomor lomba, yakni *lead* perorangan putra, *lead* tim putra, *combined* (boulder dan lead) perorangan putra, serta *boulder* perorangan putra. Hasil yang membanggakan, keduanya berhasil membawa pulang medali emas, masing-masing di nomor *combined* (B&L) untuk Ravianto dan di nomor *boulder* untuk Raviandi. Keduanya berbagi podium dalam dua kesempatan yang berbeda, di mana Raviandi meraih perunggu di nomor *combined* (B&L) sementara Ravianto mendapat perak di *boulder* perorangan putra. Dalam kompetisi sebelumnya, Raviandi juga hampir meraih medali emas di nomor *lead* perorangan putra, tetapi hasil di babak semifinal harus mengantarkannya pada posisi perak. Keberhasilan mereka dalam perlombaan ini tidak lepas dari perhatian manajer tim panjat tebing Papua, Sarlotha, yang mengatakan bahwa potensi dan kemampuan kembar bersaudara ini dalam memperjuangkan *wall*, terutama di kelas *lead* dan *boulder*, sudah terlihat sejak lama. Setelah PON, keduanya akan berlaga di kejuaraan dunia, seperti *IFSC World Cup* di Jakarta, Jepang, Swiss, dan Prancis. Pada bulan Oktober mendatang, mereka akan bersiap untuk kejuaraan terakhir di Seoul, Korea Selatan. Dengan jejak prestasi yang semakin menukik, dua "Spiderman" ini berpotensi untuk terus bersinar dan menginspirasi generasi muda di Indonesia. ANTARA