PALANGKARAYA –
**Borneonews - Palangka Raya**, Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) Kalimantan Tengah berkolaborasi dengan tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta untuk melaksanakan observasi lapangan yang bertujuan menilai kelayakan produk perikanan untuk diekspor. Kepala Bidang Budidaya, Pengolahan dan Pemasaran Dislutkan Kalteng, Sugeng Kaspani, mengungkapkan bahwa observasi ini bertujuan untuk mengumpulkan data primer yang akan menjadi dasar untuk studi pengembangan Unit Pengolahan Ikan (UPI) yang berorientasi pada ekspor, sekaligus untuk menganalisis kelayakan komoditas yang akan diekspor. Kegiatan observasi ini difokuskan di kawasan klaster tambak udang vaname yang dikenal sebagai Shrimp Estate Berkah, berlokasi di Desa Sei Raja, Kabupaten Sukamara. Sugeng menjelaskan bahwa kawasan ini merupakan inisiatif strategis dari pemerintah, dan saat ini telah melakukan panen parsial dengan total hasil mencapai 118,9 ton udang vaname yang dipasarkan ke PT BMS di Serang, Banten. Pengembangan Shrimp Estate Berkah merupakan langkah berkelanjutan untuk mendukung pencapaian target produksi udang secara nasional yang ditetapkan pada tahun 2024. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menilai bahwa Shrimp Estate Berkah dapat berfungsi sebagai jembatan untuk meningkatkan sinergi antar sektor dalam mendorong pertumbuhan sektor kelautan dan perikanan di wilayah ini. Dengan demikian, kontribusi dari kawasan ini diharapkan dapat membantu mencapai target nasional berupa dua juta ton udang pada tahun 2024. Selanjutnya, Dislutkan Kalteng bersama tim UGM melakukan kunjungan ke salah satu pelaku usaha perikanan, Ali Giyono Bakut, yang berlokasi di Kota Palangka Raya. Ali menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan kegiatan ekspor dalam bidang perikanan, khususnya untuk komoditas ikan betutu. Ekspor ikan betutu ini mencakup pengiriman ikan betutu dalam kondisi hidup maupun dalam bentuk *frozen* atau beku. Ali menjelaskan bahwa ikan dalam bentuk *frozen* biasanya memiliki harga yang lebih rendah, sementara yang lebih banyak diminati adalah ikan betutu hidup. Ia juga menambahkan bahwa pengiriman ikan betutu ini memanfaatkan layanan kargo pesawat, dengan waktu maksimum pengiriman mencapai 35 jam dari proses pengemasan hingga sampai di lokasi tujuan. ANTARA