TAHUN 2016 ini,  Kalimantan Tengah hanya bisa menyabet  dua piala Adipura. Tahun ini, kota Kuala Kapuas mendapat sertifikat adipura Kirana. Sedangkan Kota Pangkalan Bun,  bertengger  pada penerima penghargaan  adipura  Buana.

Ada  57 kota penerima adipura Buana.  Sedangkan  penerima adipura Kirana  ada 39 kota.  Tentu menjadi suatu  prestasi dan kebanggaan  bisa masuk kategori tersebut di antara 400-an  kota yang ada di Indonesia.

Di Kalimantan, hanya segelintir kota yang mendapat predikat di kategori  Kirana. Diantaranya Tarakan  dan Nunukan (Kalimantan Utara), Kuala Kapuas (Kalimantan Tengah) dan  Marabahan dan Kota baru (Kalimantan Selatan). Sementara  yang meraih kategorti  Buan adalah  Pangkalan Bun (Kalteng),  Hulu Sungai Tengah, Tanjung , Rantau/Tapin,Kandangan  (Kalsel) sedangkan Kaltim  hanya satu kota, yakni Panajam.

Diantara sekian banyak kota, tampaknya ada satu kota yang meraih penghargaan ini selama sepuluh kali berturut-turut, yakni kota Pangkalan Bun.  Dan Pangkalan Bun, untuk yang terakhir ini  bukan hanya menerima adipura  Kirana seperti biasanya, tetapi sudah naik kelas, yakni adipura Buana.

Kalau adipura Kirana  memenuhi kriteria sebagai  attractive  city, yang mampu menarik investasi, perdagangan  dan pariwisata.  Maka  adipura  Buana memenuhi kriteria plus, yakni sebagai kota layak huni (liveable city).

Sejatinya, bolehlah kita bertanya, untuk apa sebenarnya piala atau penghargaan adipura ini?  Benarkah Kota Pangkalan Bun misalnya, sudah memenuhi kriteria  layak huni?  Sebenarnya yang terpenting adalah bagaimana  bisa tercipta  budaya atau perilaku yang baik dalam mengelola lingkungan. 

Benarkah perilaku warga Kota Pangkalan Bun sudah mampu menjaga kebersihan  dan kesehatan lingkungan?  Jawabannya, sebagian  bisa dijawab  ya. Tetapi sebagian yang lain, belum. Lihatlah bagaimana perilaku atau budaya warga di sepanjang Sungai Arut.  Warga membuang sampah di kolong rumah dan buang hajat di lanting dan jamban. Kekumuhan menjadi pemandangan sehari-hari.

Benarkah  warga Pangkalan Bun sudah berperilaku bersih dan sehat?  Untuk menjawabnya,  sesekali tim penilai perlu  menghentikan kerja pasukan kuning,  dua hari saja misalnya.  Maka wajah dan budaya warga yang sesungguhnya akan  kentara.  Apa jadinya kota Pangkalan Bun tanpa 400-an pasukan pembersih sampah yang berseragam kuning itu?

Tanpa bisa membangun  perilaku dan budaya bersih dan sehat bagi warganya, maka sejatinya adipura  memberi kebanggaan semu belaka.