JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), sebagai Subholding Gas PT Pertamina (Persero), terus berusaha untuk memelihara kinerja perusahaan yang solid sepanjang semester pertama tahun 2024. Hal ini dilakukan melalui berbagai inisiatif strategis untuk pertumbuhan dan integrasi infrastruktur gas bumi di seluruh Indonesia. Direktur Utama PGN, Arief Setiawan Handoko, mengungkapkan pada semester pertama tahun 2024, total pendapatan perusahaan tercatat mencapai 1,839 miliar dolar AS. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang menunjukkan kinerja yang positif meskipun kondisi pasar yang fluktuatif. Sementara itu, beban pokok pendapatan hanya meningkat sebesar 1 persen, dari 1,415 miliar dolar pada semester pertama tahun 2023 menjadi 1,432 miliar dolar pada semester yang sama tahun ini. Dengan demikian, laba kotor PGN mengalami kenaikan sebesar 11 persen menjadi 407 juta dolar, meningkat dari 368 juta dolar pada tahun sebelumnya. Arief menegaskan bahwa secara keseluruhan, perseroan telah berhasil menunjukkan pertumbuhan yang konsisten dan peningkatan profitabilitas. Keberhasilan ini berkat penerapan strategi bisnis yang terencana, pengelolaan operasional yang efisien, serta penerapan manajemen keuangan dan risiko yang *prudent*. Dia percaya bahwa dengan langkah-langkah ini, PGN akan dapat menghadapi berbagai tantangan dan memanfaatkan peluang yang ada. Di sisi laba operasional, terdapat peningkatan sebesar 3 persen yang berhasil diraih, dari 284 juta dolar pada tahun lalu menjadi 293 juta dolar pada semester pertama tahun 2024. Sebagai catatan penting, laba bersih PGN juga mengalami pertumbuhan yang signifikan, yakni 28 persen, menjadi 187 juta dolar, jika dibandingkan dengan 145 juta dolar pada semester pertama tahun 2023. Pencapaian yang mencolok lainnya adalah stabilitas EBITDA yang tercatat sebesar 578 juta dolar. Angka ini diperoleh dari pengelolaan yang baik dan pengurangan beban terkait selisih kurs serta penyusutan. Sumber EBITDA tersebut didominasi oleh segmen niaga gas, transmisi gas, dan lain-lain, yang memberikan kontribusi sebesar 75 persen, sedangkan segmen hulu menyumbang 25 persen. Segmen niaga gas dan transmisi menyumbangkan 73 persen dari total pendapatan perusahaan. Sementara itu, 11 persen berasal dari segmen hulu dan sisanya, yaitu 16 persen dari kategori bisnis lainnya. Selama semester pertama tahun 2024, PGN mencatatkan belanja modal sebesar 70 juta dolar, dengan 44 persen di antaranya dialokasikan untuk segmen *downstream* dan sisanya 56 persen untuk segmen hulu. Volume gas yang didistribusikan PGN sebagian besar masih bergantung pada jaringan pipa, mencapai 99,6 persen dari total volume, sedangkan kontribusi dari komersialisasi LNG regasifikasi hanya sebesar 0,4 persen. Dari sisi sumber gas, PGN mencatat bahwa 38 persen berasal dari Pertamina Grup, sementara sisanya berasal dari pemasok gas lain, termasuk Corridor Block. Dalam rangka meningkatkan efisiensi operasional, Arief menyatakan bahwa infrastruktur pipa dan *beyond pipeline* akan menjadi skema utama untuk memanfaatkan gas bumi secara lebih optimal. Namun, tantangan tetap ada, terutama terkait dengan penurunan volume pasokan gas pipa akibat menurunnya performa sumur-sumur dari pemasok di Sumatera dan Jawa, serta adanya libur Lebaran pada kuartal kedua tahun 2024. Karena itu, PGN berencana untuk mengatasi tantangan ini dengan menambah penggunaan LNG. Arief menekankan bahwa perusahaan akan terus menerapkan strategi yang sejalan dengan rencana pemerintah untuk memaksimalkan pemanfaatan gas bumi sebagai energi transisi. Untuk itu, PGN akan melaksanakan berbagai inisiatif, antara lain dengan membangun dan memperluas infrastruktur gas bumi yang terintegrasi untuk mendongkrak segmen pengguna. Inisiatif yang dilakukan ini diharapkan dapat meningkatkan keandalan bisnis utama PGN dalam jangka panjang. Dalam upaya memenuhi kebutuhan pelanggan yang terus berkembang, PGN juga mengedepankan inovasi dan solusi, termasuk menghadirkan LNG di tengah berkurangnya pasokan gas bumi alami dari sejumlah sumur yang sudah ada. Hingga semester pertama tahun 2024, jaringan pipa PGN mencatatkan panjang total sebesar 13.319 km, dengan penambahan 626 km baru, dan jumlah pelanggan mencapai total 821.245. Ini terdiri dari 3.165 pelanggan industri dan komersial, 2.017 pelanggan kecil, serta 816.063 pelanggan rumah tangga. Arief juga mengungkapkan bahwa perusahaan berencana untuk membangun pipa bahan bakar minyak (BBM) melalui kolaborasi dengan anak perusahaannya, PT Pertamina Gas (Pertagas) dan PT Pertamina Patra Niaga (PPN). Proyek pembangunan pipa BBM ruas Cikampek-Plumpang ini akan menggunakan skema *build maintenance-transfer* (BMT) dengan masa operasional selama 10 tahun. Pembangunan pipa ini akan menjadi bagian dari pengembangan portofolio bisnis Subholding Gas, khususnya dalam sektor infrastruktur transportasi energi melalui pipa. Saat ini, perseroan sedang menyusun perjanjian penyediaan jasa pipanisasi BBM Cikampek-Plumpang yang ditandatangani antara Pertagas dan PPN. Infrastruktur ini direncanakan memiliki kapasitas total 4,6 miliar liter per tahun dan panjang pipa mencapai 96 km. ANTARA