SEMARANG –
**Borneonews - Cilacap**, Kepala Pusat Meteorologi Maritim Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Eko Prasetyo, mengungkapkan bahwa Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) merupakan program nasional yang krusial bagi kesejahteraan para nelayan. Ia menegaskan bahwa SLCN adalah program prioritas yang diberikan kepada BMKG dengan tiga tujuan utama. Tujuan pertama dari SLCN adalah untuk meningkatkan pemahaman nelayan, khususnya peserta program, mengenai pemanfaatan teknologi serta penggabungan kearifan lokal dalam aktivitas melaut mereka. Dengan pemahaman ini, diharapkan nelayan dapat berlayar dengan lebih aman dan efisien. Selanjutnya, tujuan kedua SLCN adalah mengurangi insiden kecelakaan di laut yang diakibatkan oleh ketidaktahuan nelayan akan kondisi cuaca ekstrem. Eko menekankan pentingnya kesadaran untuk tidak memaksakan diri berlayar saat terjadi cuaca yang tidak mendukung. Informasi mengenai cuaca ekstrem ini diharapkan dapat membantu nelayan dalam merencanakan perjalanan mereka. Tujuan ketiga adalah untuk meningkatkan kesejahteraan para nelayan. Teknologi yang dikembangkan oleh BMKG melalui *Indonesian Weather Information for Shipping* (INA-WIS) memainkan peranan penting dalam hal ini. INA-WIS memberikan informasi mengenai lokasi-lokasi yang memiliki banyak ikan, termasuk jenis ikan yang dapat ditangkap. Empat jenis ikan utama yang ada dalam program tersebut antara lain mackerel tuna, bigeye tuna, skipjack tuna, dan jenis ikan lainnya. Eko berharap agar para nelayan memanfaatkan INA-WIS untuk memilih lokasi tangkapan yang aman serta memilih jenis ikan yang ingin ditangkap. Melalui cara ini, diharapkan angka keselamatan nelayan dapat meningkat, dan kesejahteraan mereka juga akan mengalami perbaikan. Ia menekankan bahwa nelayan yang hebat bukanlah yang berani, melainkan yang memiliki pemahaman tentang keselamatan di laut. Paradigma ini perlu diubah sehingga nelayan tidak hanya mengandalkan keberanian, tetapi juga mengerti informasi cuaca maritim yang terkait dengan aktivitas melaut mereka. Di lain pihak, anggota Komisi V DPR RI, Novita Wijayanti, menyatakan bahwa program SLCN dilaksanakan secara rutin setiap tahun sejak 2019. Ia mengungkapkan rasa syukurnya karena Kabupaten Cilacap menjadi salah satu daerah yang setiap tahunnya mendapatkan program SLCN dari BMKG. Novita berharap agar program SLCN tidak hanya dilaksanakan satu kali dalam setahun, tetapi dapat dilakukan lebih dari itu, meskipun ia menyadari bahwa hal itu mungkin sulit dilakukan secara merata di seluruh Indonesia. Ia juga mencatat bahwa jumlah peserta SLCN setiap tahunnya terbatas, sehingga para alumni diharapkan bisa menjadi agen BMKG dalam mentransfer informasi dan teknologi kepada para nelayan lainnya. Di samping itu, ia bersama anggota Komisi V DPR RI lainnya berkomitmen untuk meningkatkan anggaran bagi BMKG dan Basarnas. Menurutnya, kedua lembaga ini memiliki peran yang sangat penting bagi masyarakat, terutama dalam konteks Indonesia yang merupakan negara kepulauan dan maritim. BMKG berfungsi memberikan informasi cuaca sebelum terjadinya kejadian, sementara Basarnas bertindak setelah kejadian tersebut. Keduanya, menurut Novita, sangat vital untuk keselamatan dan kesejahteraan masyarakat di Indonesia. ANTARA