PALANGKARAYA –
**Borneonews - Palangka Raya**, Tim akademisi dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Palangka Raya (FKIP UPR) tengah melakukan sebuah penelitian yang berfokus pada fenomena kecemasan berbicara, atau yang dalam *bahasa Inggris* dikenal sebagai *speaking anxiety*, di kalangan mahasiswa yang sedang mempelajari bahasa Inggris. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi lebih dalam terkait tingkat kecemasan yang dialami serta faktor-faktor utama yang menyebabkan perasaan tersebut. Maida Norahmi MPd, anggota tim dosen FKIP UPR, menjelaskan bahwa penelitian ini juga mengkaji bagaimana kecemasan, yang mencakup stres, tekanan, serta rasa takut, dapat menjadi hambatan dalam proses pembelajaran bahasa Inggris. Kecemasan yang dirasakan oleh mahasiswa saat berbicara dalam bahasa Inggris ini merupakan isu yang cukup penting untuk diteliti, karena dapat berdampak langsung pada kemampuan komunikasi mereka. Untuk melaksanakan penelitian ini, tim akademisi menggunakan adaptasi dari Kuesioner Kecemasan Berbicara Bahasa Asing (FLSAQ) yang sebelumnya dirancang oleh Ozturk dan Gurbuz. Mereka fokus pada 29 mahasiswa yang terdaftar dalam mata kuliah "Basic English Speaking" di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP UPR. Pemilihan responden dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling, yang mempertimbangkan karakteristik tertentu dari mahasiswa yang menunjukkan kecemasan dan kekhawatiran saat berbicara dalam bahasa Inggris. Harapannya, penelitian ini dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pemahaman mengenai kecemasan berbicara dalam konteks pembelajaran bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Temuan dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan pengetahuan bagi para pembaca serta memberikan referensi untuk perbaikan lingkungan belajar dan mentalitas mahasiswa yang merasa takut saat berbicara dalam bahasa Inggris di kelas. Maida menjelaskan lebih lanjut mengenai gejala kecemasan yang sering dialami mahasiswa ketika menghadapi kesulitan dalam menguasai kemampuan berbicara. Secara psikologis, mereka mungkin mengalami peningkatan rasa takut, kenangan buruk, dan perasaan malu. Sementara secara fisik, gejala yang bisa muncul termasuk tangan yang berkeringat, mulut yang kering, dan detak jantung yang meningkat ketika berupaya berbicara. Kondisi kecemasan ini tidak hanya mempengaruhi performa mahasiswa dalam pembelajaran tetapi juga dapat berdampak pada nilai-nilai akademik mereka, baik dalam kemampuan berbicara maupun pemahaman bahasa Inggris secara keseluruhan. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih bagi pengayaan literatur mengenai kecemasan berbicara dan menjadi referensi bagi peneliti lain yang ingin mengkaji topik serupa. Dalam upaya akumulasi hasil penelitian ini, tujuannya juga untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya memperhatikan kecemasan berbicara dalam pembelajaran bahasa Inggris. Penelitian ini dapat membantu mahasiswa dalam mengenali masalah yang mereka hadapi dan mencari solusi untuk menciptakan metode pembelajaran yang lebih efektif. Tim peneliti FKIP UPR terdiri dari Tampung N Saman MLib, Susan Ira Nova MPd, Lesly MC Meka MPd, dan Richard Ferry Nugraha MHum. ANTARA