MATARAM –
**Borneonews - Mataram**, Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Barat (NTB) melaporkan bahwa nilai impor daerah tersebut pada Agustus 2024 mencapai 78,45 juta dolar Amerika Serikat. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 59,28 persen dibandingkan dengan total impor bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 49,26 juta dolar AS. Wahyudin, Kepala BPS NTB, menyatakan bahwa sebagian besar barang impor diperuntukkan bagi kegiatan di Kabupaten Sumbawa Barat. Barang-barang tersebut diperlukan baik untuk sektor pertambangan maupun untuk kebutuhan fasilitas pemurnian mineral yang ada di daerah tersebut. Menurutnya, komoditas dengan nilai impor tertinggi adalah mesin-mesin dan pesawat mekanik, yang mencapai nilai 62,85 juta dolar AS. Barang-barang ini diimpor dari beberapa negara, termasuk Jerman, Australia, Prancis, dan Cina. Wahyudin juga menyampaikan bahwa sektor mesin dan pesawat mekanik berkontribusi sebesar 80,10 persen dari total impor barang di NTB. Selain mesin, beberapa komoditas lainnya yang diimpor mencakup produk karet dan barang dari karet sebesar 11,84 persen, bahan peledak untuk kebutuhan pertambangan mencapai 2,44 persen, benda-benda dari besi dan baja 1,32 persen, serta mesin atau peralatan listrik yang menyumbang 1,13 persen. Kendaraan dan bagiannya berkontribusi 1,09 persen, sementara komoditas lainnya menyumbang 2,08 persen. Wahyudin juga menjelaskan bahwa barang-barang yang diimpor mencakup turbin uap, sekop mekanis ekskavator, mesin pengecoran logam, dan jenis mesin lainnya. Barang-barang dalam kelompok karet mencakup ban pneumatik, barang dari karet seluler dan non-seluler, serta produk karet lainnya. Kebutuhan bahan peledak sendiri adalah untuk menunjang kegiatan pertambangan yang tengah berlangsung. Tingginya permintaan akan barang-barang berkaitan dengan pertambangan dan *smelter* menyebabkan total impor di bulan Agustus 2024 mengalami kenaikan sebesar 39,15 persen dibandingkan tahun sebelumnya pada Agustus 2023. Jika dilihat dari segi penggunaan, sebagian besar barang impor adalah untuk keperluan modal, yang mencapai 55,81 persen, diikuti oleh bahan baku dan penolong yang menyumbang 44,13 persen, serta barang-barang konsumsi yang hanya 0,05 persen. Wahyudin menekankan komitmen tahun ini untuk meningkatkan pemanfaatan *smelter* yang telah dibangun beberapa tahun lalu, dengan harapan dapat digunakan secara optimal hingga akhir tahun 2024. ANTARA