SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Masyarakat Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), khususnya di sekitar Wengga Metropolitan mengeluhkan minimnya Penerangan Jalan Umum (PJU) di jalur terjadinya aksi pembegalan terhadap seorang penjual sayur pada Rabu, 11 September 2024 lalu.

"Sebenarnya Wengga Metropolitan, dari Muara sampai patung ikan, sudah ada dan eksisting. Beberapa waktu lalu sudah perbaikan dan fungsional. Namun untuk yang di lokasi kejadian, aset ini memang harus diserahkan ke pemerintah daerah agar bisa dikelola dengan baik," kata Plt Kepala Dinas Perhubungan Kotim, Rody Kamislam, Selasa, 17 September 2024.

Ia menambahkan, proses pengadaan dan pemasangan PJU tidak bisa dilakukan secara instan. Ada beberapa tahapan yang harus dipenuhi dan tidak bisa dilakukan sekaligus.

"Prosesnya tidak sederhana karena ada regulasi dan prosedur yang harus kita lalui. Jika tidak mengikuti tahapan yang benar, tentu akan berimbas pada hukum dan regulasi yang berlaku," tegasnya.

Ia mengimbau agar aset yang masih dimiliki oleh pengembang segera diserahkan ke pemerintah daerah. Hal ini akan mempermudah pemerintah dalam melakukan perbaikan dan pembangunan fasilitas umum seperti PJU.

--page

"Jika aset sudah diserahkan, kita bisa langsung menyusun perencanaan dan melaksanakan pemasangan PJU," tambah Rody.

Ia menyatakan komitmennya untuk terus memperbaiki dan menambah fasilitas PJU khususnya di wilayah yang rawan. Namun, ia meminta masyarakat untuk bersabar karena setiap langkah perbaikan memerlukan proses dan anggaran yang disesuaikan dengan kondisi.

"Kami sangat memahami kekhawatiran masyarakat, terutama menyangkut keamanan. Kami akan terus berupaya memberikan layanan terbaik, tetapi perlu kerjasama dan proses yang harus diikuti agar hasilnya optimal," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/Y)