**Borneonews - Jakarta**, Penasihat Senior Laboratorium Indonesia 2045, Andi Widjajanto, mengemukakan pentingnya TNI untuk menyusun suatu doktrin terkait *operasi militer selain perang* (OMSP). Hal ini sangat relevan, terutama dalam konteks penanggulangan dan pemulihan bencana (*Humanitarian Assistance and Disaster Relief*, HADR). Pendapat ini disampaikan dalam forum yang diselenggarakan oleh TNI Angkatan Udara dan Kemenko Marves.
Andi, yang memiliki latar belakang dalam bidang pertahanan dan pernah menjabat sebagai Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional, menekankan bahwa pembuatan doktrin tersebut sebaiknya didasarkan pada pengalaman TNI yang telah terlibat langsung dalam berbagai operasi sebagai garda terdepan dalam penanggulangan bencana. "Kita memiliki banyak pengalaman, terutama setelah menghadapi bencana seperti Tsunami di Aceh, gempa bumi di Palu, dan berbagai bencana lainnya. Namun, sayangnya, pengalaman-pengalaman berharga tersebut tampaknya sering dilupakan dan tidak diteruskan ke dalam bentuk pengetahuan yang diajarkan di akademi militer kita," jelasnya saat menjawab pertanyaan dari seorang perwira tinggi TNI AU di Bali Regional Air and Space Power Forum 2024 yang berlangsung di Nusa Dua, Bali.
Dalam kesempatan itu, Andi menerangkan bahwa Indonesia telah memiliki sejarah yang panjang dalam menangani berbagai persoalan kebencanaan sejak tahun 1950-an. Termasuk pengalaman penting yang berkaitan dengan pengungsi dalam situasi bencana, seperti yang terjadi pada Tsunami Aceh tahun 2004, serta gempa bumi dan likuifaksi di Sulawesi Tengah pada tahun 2018. Pengalaman ini, menurutnya, harus dipelajari agar dapat menjadi dasar dari doktrin yang akan disusun.
Untuk menyusun doktrin OMSP TNI dalam konteks operasi penanggulangan dan pemulihan bencana, Andi menekankan adanya satu pertanyaan mendasar yang perlu dijawab: bagaimana kemajuan teknologi memengaruhi proses tersebut. "Pertanyaan utama yang perlu diatasi dalam pembuatan doktrin adalah bagaimana teknologi militer terbaru berperan. Apakah doktrin yang dihasilkan nantinya masih relevan atau justru akan menjadi usang?" ungkapnya.
Lebih lanjut, Andi menyampaikan bahwa saat ini teknologi penanggulangan dan pemulihan bencana terus berkembang. Berbagai teknologi, seperti *unmanned aerial vehicles* (UAV), kecerdasan buatan (*AI*), *3D printing*, dan pemetaan berbasis satelit, sudah banyak dimanfaatkan oleh negara-negara lain untuk memperbaiki respons mereka terhadap bencana. Ia menyoroti kegunaan *drone* dalam memberikan informasi foto udara secara *real-time*, yang sangat penting saat menganalisis area terdampak dan mengetahui posisi para korban. Contohnya, saat gempa bumi di Palu, penggunaan *drone* sangat membantu dalam memetakan daerah terdampak sehingga distribusi bantuan dapat lebih tercepat dan efisien. Selain itu, teknologi satelit juga berperan penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan, terutama dalam memberikan peringatan dini, seperti saat terjadinya kebakaran hutan di Australia pada tahun 2020.
Andi melanjutkan bahwa teknologi AI juga memberikan kontribusi signifikan dengan cara menganalisis data lingkungan untuk menghasilkan prediksi tentang kemungkinan bencana. Misalnya, teknologi biometrik yang digunakan oleh UNHCR dalam prosedur penyaluran bantuan untuk para pengungsi Rohingya. "Ada juga *3D printing* yang sangat berguna untuk memproduksi barang-barang esensial, termasuk perlengkapan medis," tambahnya.
Bali Regional Air and Space Power Forum 2024 ini diadakan oleh TNI Angkatan Udara dan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi dengan tema "The Future of Aerospace Technology and Its Role in Humanitarian Assistance and Disaster Relief Operation" di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali. Acara tersebut dibuka oleh Kepala Staf TNI Angkatan Udara, Marsekal TNI Tonny Harjono.
Dalam sambutannya, Tonny Harjono menggarisbawahi dua komponen penting dalam operasi penanggulangan dan pemulihan bencana, yaitu pemanfaatan teknologi dan kolaborasi yang efektif. Ia menjelaskan bahwa teknologi seperti *unmanned aerial vehicles*, satelit, serta sistem *C4ISR* (Command, Control, Communication, Computer, Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance) terbukti sangat vital dalam meningkatkan efektivitas serta efisiensi operasional dalam menghadapi bencana. "Namun, teknologi semata tidak cukup. Kerja sama internasional sangat penting mengingat kompleksitas bencana sering kali melintasi batas negara, sehingga kolaborasi menjadi krusial untuk menanggulangi masalah yang ada," tutup Tonny.
ANTARA
TNI Diminta Susun Doktrin OMSP untuk Penanggulangan Bencana
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Shin Tae-yong Tekankan Pembinaan Usia Dini untuk Majukan Sepak Bola
Madura United Bidik 3 Poin saat Hadapi Persebaya
Tentara Yaman Lumpuhkan Lebih dari 300 Petempur Houthi
Veda Pratama Hormati Keputusan Pembatalan Moto3 Australia
Kebakaran Terjadi di Masjid Al-Muhajirin Cempaga Kotim
Ganda Campuran China Li/Huang Juarai Indonesia Masters 2026
Komentar (0)
Memuat komentar…







